
^^^Pagi harinya Riyan segera menuju rumah sakit untuk melakukan tes,sesuai perintah pak Suryo.^^^
Matanya terbelalak meski sebenarnya Riyan sudah curiga kalau bayi perempuan yang baru saja beberapa hari lalu di lahirkan Jesika bukanlah darah dagingnya,namun selama ini dia belum membuktikan sendiri.
Ingin rasanya Riyan membawa Jesika ke hadapan laki-laki yang selama ini bersamanya,lalu menghakimi mereka berdua,namun apa yang bisa Riyan lakukan saat ini mengingat Jesika sendiri sedang koma di ruang ICU.
Riyan merasa frustasi dengan keadaannya sendiri,dihianati dan di tipu oleh istrinya sendiri.
Bahkan sekarang dia pun bingung apakah masih mampu meneruskan pernikahannya dengan Jesika.
Bahkan ketika pulang kerumahpun Mia merasa heran dengan sikap Riyan yang cenderung diam namun belum sekalipun Riyan mendekat ke putri kecilnya.
Mia pikir mungkin karena memang Riyan tidak suka anak kecil,jadi Mia tak begitu memikirkan soal Riyan yang tak mau mendekati putrinya.
Hampir dua minggu Jesika berbaring tak sadarkan diri di ruang ICU,tak ada tanda-tanda kesembuhan dari Jesika.
Pagi itu tepat dua minggu usia putri kecil Riyan dan Jesika yang sudah di beri nama oleh Mia dan Niko yaitu Felicia.
Mia datang ke rumah sakit di temani oleh Niko pagi-pagi sekali,karena sibuk mengurus Felicia di rumah jadi Mia tak bisa menjenguk Jesika setiap hari apa lagi di tambah perut Mia yang semakin membesar membuatnya jadi gampang lelah.
Pagi itu baru saja Mia dan Niko melewati pintu khusus pengunjung ruang ICU baru saja hendak melangkah menuju ruangan Jesika.
Seorang dokter sedang berlari dengan tergesa-gesa sampai hampir terjatuh menabrak Niko.
"Mas,mas gak papa?" tanya Mia pada suaminya.
"Gak papa sayang."
__ADS_1
"Mas.....,mereka kok kayak lari ke ruangan tempat Jesika di rawat mas?!"
"Iya,benar.Bukankah memang itu ruangan Jesika?!"
Mereka segera bergegas mendekat ke ruangan dimana biasa Jesika berbaring dengan segala alat menempel di tubuhnya selama dua minggu ini.
Mereka berdua hanya bisa melihat jesika dari balik diding kaca sebagai sekat yang membatasi mereka berdua dengan ruang perawatan Jesika.
Tampak beberapa petugas medis sedang sibuk berusaha melakukan tindakan untuk menyelamatkan dan menyembuhkan Jesika krmbali.
Air mata Mia membanjiri pipinya tanpa bisa di bendung ketika melihat beberapa petugas melepaskan semua alat-alat medis yang menempel di tubuh Jesika lalu menutup sekujur tubuh Jesika dengan kain.
"Mas......,Jesika mas.....!"
"Sudahlah,mari kita keluar."
Setelah keluar Niko segera menghubungi papanya dan juga Riyan,untuk memberitahukan kabar tentang Jesika.
Riyan bersama pak Suryo segera menyusul ke Rumah sakit,karena bagaimanapun Jesika masih berstatus sebagai istri dari Riyan.
Prosesi pemakaman Jesika berjalan dengan lancar,namun ada yang mengganggu pandangan Mia selama prosesi pemakaman berlangsung.
Mia melihat Putra disana namun tampak dari kejauhan.
"Kenapa dia tidak ikut mendekat,malah hanya menyaksikan dari kejauhan?" Batin Mia sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah Putra.
Setelah selesai prosesi pemakaman,Pak Suryo mendekati Riyan dan membisikkan sesuatu yang hanya mereka dan Tuhan yang tau.
__ADS_1
Satu minggu berlalu setelah meninggalnya Jesika.Riyan mulai mau mendekati putri kecilnya dan menggendongnya.
"Kenapa kamu tak ikut ibumu saja,atau kau ingin aku mencarikan ayah kandungmu?!"
Kata Riyan pada bayi mungil yang tak tau apapun itu.
Saat mendengar perkataan Riyan,Mia pun bertanya apa maksud dari perkataan Riyan barusan pada suaminya.
Niko menjelaskan soal hasil tes DNA antara Riyan dan putrinya ternyata tidak cocok,dan Felicia bukanlah anak kandung dari Riyan.
Mendengar penjelasan Niko,Mia sedikit terkejut dan pikiranya mulai meraba-raba soal Putra.
"Apa mungkin Putra adalah ayah kandung Felicia ya mas?" Kata Mia sedikit ragu.
"Iya." jawab Niko singkat.
"Kenapa kita tidak menyerahkannya pada Putra saja mas?karena aku lihat Riyan tak pernah menginginkan anak itu."
"Putra tidak mampu mengurus anak itu,jadi papa bilang biarkan bayi itu tinggal disini sampai dia dewasa."
"Bagaimana kalau kita adopsi saja Felicia mas?"
Niko segera menoleh ke arah Mia dan memandangi wajah istrinya.
"Kamu yakin?" tanya Niko tak percaya.
"Iya mas,kasihan Felicia statusnya jadi tidak jelas.
__ADS_1
"Baiklah,nanti kita bicarakan sama-sama."