
Setelah Mia dan neneknya berbaikan,hari-hari mereka semakin mesra.Ciye.....kayak pengantin baru aj mesra hahay.....!
Lanjut.....
Akhirnya saat keberangkatan Deni ke Belanda pun tiba,Mia ikut bersama keluarga Deni mengantar Deni sampai ke bandara.
Setelah pulang dari mengantarkan Deni ke bandara Mia langsung bergegas mencari neneknya,karena saat memasuki rumah Mia tak melihat neneknya.
Saat Mia hendak ke depan rumah tiba-tiba tetangga depan rumah memanggilnya.
"Mia.....nenek kamu ke rumah sakit bersama pak RT,tadi kakek kamu pulang trus tiba-tiba katanya pingsan"
kata tetangga drpan rumah sambil berjalan mendekati Mia.
"Yang sabar ya Mia,semoga kakek kamu tidak kenapa-kenapa"
"Iya tante,trima kasih" ucap mia sambil bergegas menyusul nenek dan kakeknya ke rumah sakit dengan berlari menuju pangkalan ojeg.
Sesampainya di Rumah sakit Mia segera menanyakan ruangan tempat kakeknya di rawat pada petugas rumah sakit,dak kebetulan ada pak Rt di belakang Mia.
__ADS_1
Beliau segera mendekati Mia lalu menepuk lembut pundak Mia.
"Yang sabar ya Mia,kakek kamu sudah tidak bisa di selamatkan,Tuhan telah memanggilnya.
Sekarang almarhum sedang berada di ruang jenazah,sedangkan nenek mu sedang mengurus administrasi di temani istri saya".
Tanpa terasa ada genangan air mata yang tak mampu terbendung lagi mengalir di pipi Mia,kenapa harus dalam waktu bersamaan seperti ini?di tinggalkan Deni dalam waktu lama dan di tinggalkan kakek untuk selama-lamanya.
Biasanya ketika dalam keadaan seperti ini Deni lah yang selalu ada untuknya,memeluk untuk menenangkan hatinya.
Seminggu setelah kepergian kakek,tiba-tiba datang dua orang laki-laki paruh baya bertubuh kekar,sekilas kalau di lihat penampilanya mirip seperti algojo karena penampilan mereka yang sangar.
"Maaf pak,memangnya berapa hutang kakek saya?" karena Mia pikir mungkin setelah bekerja dia bisa sedikit demi sedikit mencicil hutang kakeknya sampai lunas.
"Limaratus......"
"juta,itupun sudah tidak termasuk bunganya nona".
Kata salah satu laki-laki tersebut dengan nada menggantung kemudian teman yang satunya yang melanjutkan.
__ADS_1
"iya nona,bos kami memberi sedikit keringanan karena keluarga nona sedang berduka".
"Begini nona,sebenarnya bos kami sudah sempat mengingatkan kakek nona agar mencicil hutang-hutangnya,namun justru kakek nona malah terus menambahnya tanpa sedikitpun mencicil".
Ya Tuhan.....bagaimana ini?apa yang harus di lakukan berikutnya dengan hutang segitu banyak.
"Apakah bisa kami meminta kelonggaran waktu untuk hanya sekedar mencicilnya pak?" tanya mia dengan gugup,namun kedua laki-laki tersebut hanya saling pandang.
"Begini saja nona,kalau nona ingin kami bisa membawa nona kepada bos kami agar bisa berdiskusi sendiri."
"Baik lah.....tunggu sebentar saya akan bersiap-siap."
Setelah siap Mia kemudian berpamitan dengan neneknya untuk menemui bos kedua laki-kaki tersebut,sepanjang perjalanan tak ada satupun kata terucap dari ketiganya mereka hanya mmbisu d dalam suasana hening di dalam mobil.
Sesampainya di sebuah halaman rumah yang begitu besar dan mewah mobil berhenti,salah satu dari laki-laki itu membukaan pintu mobil untuk Mia.
"Bos ada?" tanya salah satu laki-laki tersebut pada penjaga yang ada disana.
"Ada,biasa sedang ada di ruangannya."jawab laki-laki tersebut,saat berjalan mengikuti kedua laki-laki yang membawanya tadi mereka berpapasan dengan seorang pria muda wajahnya sangat tampan,mereka mnunundukan kepala saat berpapasan dengan spontan Mia ikut menundukan jepala meski tak kenal siapa dia.
__ADS_1