Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Kekawatiran bu Wita


__ADS_3

Mereka bangun saat hari sudah sore,sampai mereka melewatkan makan siang.


Sebenarnya bu Wita sudah beberapa kali mengetuk pintu kamar tuannya namun tak ada sahutan dan tak ada tanda tanda kehidupan disana,karena kedua manusia yang sedang melepas lelah setelah berduel di siang bolong.


Entah sudah berapan kali bu Wita mondar mandir dan mengetuk pintu tuan dan nona mudanya tersebut dengan raut wajah cemas,setelah melapor ke tuan besarnya akhirnya bu Wita menyerah karena pak Suryo hanya tertawa dan berkata.


"Sudah lah Wit....Niko sudah dewasa,tak perlu kau mencemaskannya seperti anak kecil.


Toh dia di dalam kamar dengan istrinya,tak usah lah kau ganggu mereka,kamu ini kayak tak pernah muda saja.


"jawab Tuannya di seberang telfn sambil tertawa bahagia,karena dalam pikiran pak Suryo sudah pasti mereka sedang berusaha keras membuatkannya cucu.


Bu Wita merasa lega saat nona dan tuan mudanya keluar dari kamar masih dalam keadaan rambut tergerai basah,karena setelah bangun tidur mereka melakukannya lagi.


Mereka bergandengan dengan sangat mesra menuju meja makan dan bu Wita melayani mereka di bantu oleh pelayan yang lain,

__ADS_1


"bu Wita,apakah nenek sudah makan?"tanya Mia pada bu Wita yang masih bengong melihat leher nona mudanya penuh dengan tanda jejak kepemilikan tuan mudanya.


Mia yang sadar dengan pandangan mata bu Wita ke arah lehernya segera berusaha sibuk menutupi lehernya dengan tangan dan kerah bajunya.


Niko hanya tersenyum melihat tingkah polah istrinya,sedangkan Mia mengerutkan alisnya sambil menatap tajam wajah suaminya dengan tatapan menyalahkan.


"Semua ini gara gara kamu mas!" teriak Mia dalam hati.


"Bu Wita......apakah nenek sudah makan?Niko kembali mengulang pertanyaan Mia tadi pada bu Wita.


Tadi berkali kali saya mengetuk pintu kamar nona dan tuan muda saat jam makan siang tapi tak ada sahutan,saya khawatir nona dan tuan sakit karena tidak makan siang."


ucap bu Wita,sadangkan Mia dan Niko hanya saling pandang dan Niko hanya senyam senyum dalam hati.


"Aku sudah sangat kenyang dengan makan siangku tadi bu Wita,bahkan sampai nambah berkali kali." batin Niko.

__ADS_1


Setelah selesai makan siang di sore hari,keduanya melihat keadaan nenek di kamarnya yang ternyata sedang tidur.


Dan mereka akhirnya hanya duduk santai di ruang TV sambil meneruskan kemesraan mereka,Niko merebahkan kepalanya di pangkuan Mia sambil asyik nonton acara TV sedangkan Mia tak kalah sibuk matanya dari arah TV sedangkan tangannya sibuh membelai lembut rambut suaminya yang belum seutuhnya mengering.


"Sayang...." ucap niko pada Mia.


"hmmm,ada apa mas?"


"Papa kemaren menawariku berbulan madu,kamu pengen bulan madu kemana?" tanya Niko sambil bangun dari rebahannya,dan duduk bersandar di bahu Mia dengan manjanya.


"Terserah kamu saja lah mas,dirumah saja juga gak papa.Apa bedanya bulan madu pergi kemana mana atau di rumah saja?"


"kalau begitu gimana kalau kita ke Belanda?disana ada saudara papa jadi kita gak perlu menyewa tour gade."


"Tapi mas,bukankah Riyan juga kuliah disana?aku masih takut ketemu dengannya mas." Entah kenapa saat menyebut negara Belanda,Mia merasa takut.

__ADS_1


Tak hanya takut bertemu Riyan tapi juga takut bertemu Deni sahabat masa kecilnya yang juga kuliah di sana.


__ADS_2