
"Kakek,kami sudah selesai belanjanya kita bisa pulang sekarang." Kata Felicia.
"Iya,ayo kita kemmbali ke mobil."
Tanpa sepatah kata lagi pak Suryo bergegas menggiring kedua cucunya menuju mobil.
"Pak sopir kita langsung ke rumah sakit Harapan ya."
"Baik pak."
"Kok kita ke rumah sakit kek,memang siapa yang sakit?"
tanya Sofia dengan heran sambil melirik kearah Felicia yang tak kalah bingung.
Namun pak suryo hanya terdiam,dengan wajah mendungnya.
Sesampainya di rumah sakit pak Suryo sudah di sambut oleh seorang berpakaian lengkap ala kepolisian.
Mereka di tuntun untuk menuju ke sebuah ruangan di ujung lorong.
KAMAR JENAZAH
"Kakek,kok kita ke sini memangnya siapa yang meninggal?.
Tanya Sofia semakin bingung.
"Papa!!!"
Ucap Sofia lemas.
"Papa......!!!!.
__ADS_1
Teriak Felicia histeris.
Pak suryo hanya bisa terdiam sambil tak kuasa menahan air mata meluap membanjiri pipi keriputnya.
Sofia masih terdiam melihat jasad papanya terbujur kaku berbaring di depannya,dengan kepala hampir remuk.
Kepalanya terasa berat terlebih lagi saat mendengar teriakan histeris sang kakak,Felicia.
Seketika pandangan matanya kabur,dan gelap.
Sofia ambruk seketika di belakang tubuh renta kakeknya.
Pak Suryo berusaha menenangkan Felicia dan membawanya menuju ruang ICU,dimana Mia berada.
Mia masih tak sadarkan diri dengan berbagai alat medis menempel pada tubuhnya.
Sedangkan Sofia sudah di bawa ke UGD guna mendapat perawatan karena masih lemas akibat syok.
"Halo,pulang sekarang! kakakmu........."
Pak Suryo menuju UGD untuk melihat keadaan Sofia yang mulai membaik namun masih dengan isak tangis.
Sedangkan Felicia sudah sedikit lebih tenang,karena bagaimanapun ia tak mau terlihat lemah dihadapan adiknya.
Sebagai seorang kakak ia harus bis menenangkan adiknya meski hatinya sendiripun terasa hancur.
Bagaimana tidak baru saja siang tadi keluarganya bergembira dengan uapacara kelukusanya serta adiknya,namun di hari yang sama mereka harus kehilangan papa mereka serta melihat keadaan mamanya terbaring di ICU antara hidup dan mati.
"Kak,mama.....bagaimana keadaan mama?"
Tanya Sofia pada Felicia.
__ADS_1
"Mama masih selamat,sekarang di rawat di ICU.Kita do'akan semoga mama baik-baik saja dan segera sadar ya...".
Pelukan Felicia perlahan membuat tangisnya kembali pecah,sambil berlinang air mata di ciumi kepala adiknya yang sedang ada dalam pelukannya.
Upacara pemakaman baru saja selesai,Felicia menggandeng lengan adiknya yang enggan meninggalkan tanah basah pemakaman.
Sedangkan yang lain sudah terlebih dahulu meninggalkan area pemakaman.
Tampak dari kejauhan pak Suryo sedang bercakap-cakap dengan seorang pria,Sofia dan Felicia tak menghiraukannya.
Mereka pikir pria tersebut mungkin hanya kerabat jauh atau mungkin saja rekan kerja papanya.
Ketika Sofia dan kakaknya memasuki mobik di susul oleh pak Suryo kemudian pria tersebut ikut masuk kedalam mobil kemudian duduk di bangku kemudi.
Tak ada suara di dalam perjalanan,hanya suara halus mesin kendaraan yang mereka tumpangi serta sesekali suara klakson yang sangat jarang di bunyikan oleh pengendaranya.
Sampai Sofia mulai membuka percakapan saat menyadari sang pengendara sesekali curi pandang ke arang bangku penumpang lewat kaca spion.
"Om,bisa gak fokus nyetirnya? matanya jangan jelalatan kebelakang terus,risih tau di liatin terus!"
Celetuk Sofia dengan nada ketus.
"Maaf."
Hanya sepatah kata maaf yang terucap dari bibir sang pengemudi.
"Kek,sebenarnya dia siapa sih kek?kok kita baru lihat tapi kayak wajahnya tidak asing."
Kata Felicia menimpali.
"Mungkin kalian pernah lihat di foto yang berada di ruang tengah rumah kita."
__ADS_1
Kata pak Suryo berusaha memberi penjelasan pada cucunya yang justru membuat mereka semakin bingung namun masih enggan memikirkannya.