Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Teror


__ADS_3

Mia sedang menyiram tanaman di taman,setelah selesai Mia hendak ke kamarnya untuk mandi namun Jesika justru mengundang rasa penasarannya karena sedang mengendap-endap hendak keluar lewat pintu samping seperti kemarin.


Ketika Mia mengikutinya ternyata Jesika bertemu dengan seorang laki-laki yang kemarin ia temui.


Mereka masuk ke sebuah mobil,tak berapa lama Jesika keluar lalu mobil tersebut pergi.


Karena takut ketahuan,Mia bersembunyi sambil menunggu Jesika masuk rumah terlebih dahulu.


Mia kembali ke kamarnya segera untuk mandi dan menyambut suaminya pulang karena ini adalah akhir pekan.


Mia menceritan semua kejadian dirumah selama Niko tidak ada di rumah,awalnya Niko sempat ragu namun Niko merasa terkejut akan aksi nekad Jesika setelah mendengarkan kesaksian dari bu Wita


Niko berniat membawa Mia ikut serta bersamanya ke luar kota,namun pak Suryo tidak mengizinkannya karena alasan keadaan Mia yang sedang hamil.


Setelah mendengarkan alasan Niko akhirnya Pak Suryo mengizinkan Mia ikut serta bersama suaminya dengan syarat membawa serta bu Wita dan pak Tejo agar bisa menjaga Mia ketika Niko pergi bekerja.


Sore itu Mia sedang santai duduk di teras depan rumah tempat tinggal barunya di sebuah kota kecil tempat Niko bekerja.


Sedangkan bu Wita menyiram tanaman,tiba-tiba ada seseorang mengendarai motor berhenti di jalan tepat depan pagar rumah mereka lalu meletakan sebuat kotak dan meninggalkannya.


Mia dan Bu Wita yang penasaran segera menghampiri,namun orang asing tersebut sudah terlanjur jauh melaju dengan motornya.


Saat bu Wita membuka isi kotak tersebut sontak melempar kotak beserta isinya karena saking terkejutnya.


"Ada apa bu Wita?" tanya Mia sambil mendekat karena penasaran dengan isi kotak.


"Jangan! jangan liat Nona." berusaha menghalangi namun Mia sudah terlanjur dekat dan melihat isinya.


Boneka bayi dengan darah berlumuran dan kepala bayi terlepas dari tubuhnya.


Segera bu Wita menuntun Mia masuk kedalam rumah,mendudukkannya dan memberikan segelas air minum.


"Tenang Nona,ini mungkin perbuatan orang iseng." bu Wita berusaha menenangkan,,sedangkan Mia masih terduduk lemas karena syok.


Setelah pak Tejo dan Niko pulang mereka segera menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami tadi sore.


"Apa sebelumnya pernah ada kejadian kayak gini mas?" tanya Mia pada Niko.


"Tidak."


"Lalu apakah orang itu memang sengaja mengincarku!"


"Tapi siapa?" bukankah selama ini kita tak pernah punya musuh.


"Atau jangan-jangan saingan bisnisnya mas?"


"Kalaupun iya kenapa tidak sedari dulu itu terjadi sayang?"

__ADS_1


"Mungkinkah itu perbuatannya?" Bu Wita muncul membawakan Minum serta buah untuk Nonanya.


"Maksudnya siapa Bu Wita?" tanya Niko penasaran.


"Bukankah kita pindah kemari untuk menghindarinya?"


"Benarkah dia senekat itu?!"


"Saya sendiri juga tidak tau pasti ini juga hanya dugaan saya sendiri,tapi jika di kaitkan dengan dia bukankah sudah berkali-kali dia berniat mencelakai Nona Mia? Maaf jika saya lancang."


Malam itu Mia merasa sangat gelisah dan tak bisa tidur nyenyak,apalagi teror tak berhenti disitu saja bahkan Mia juga mendapatkan Pesan di Hapenya yang berisi ancaman-ancaman terhadap dirinya dan juga calon bayinya.


Satu bulan berlalu bukan berarti teror demi teror telah berhenti,namun Mia berusaha mengabaikannya meski terkadang beberapa kejadian membuat Mia sangat gelisah.


Pernah suatu malam saat semua penghuni runah sedang terlelap,tiba-tiba Mia terbangun karena merasa haus.


Karena bagaimanapun ibu hamil rentan merasa mudah haus dan gerah.


Saat Mia baru saja selesai minum dan baru saja masuk kedalam kamarnya kembali,tiba-tiba listrik padam.


Mia langsung berteriak memanggil Niko karena kesusahan menemukan jalan menuju tempat tidur.


Untung saja Niko meletakkan senter di laci nakas dekat temoat tidurnya.


"Mia,kamu tenang saja disitu aku akan menghampirimu setelah menemukan senter."


Sesaat setelah Niko menemukan senter segera menuntun Mia ke tempat tidur.


"Kok tiba-tiba listrik padam ya mas?padahal dari luar tampak terang berarti cuma rumah kita yang mati."


"Iya,biar aku cek dulu di luar ya."


"Mas.....panggil pak Tejo,perasaanku nggak enak."


"Baiklah,kamu disini saja ya."


Niko segera memanggil pak Tejo untuk menemaninya mengecek apakah ada masalah dengan listrik mereka.


Baru saja mereka sampai dindepan pintu,sekelebat mereka melihat dari dalam rumah terlihat ada seseorang melompat keluar pagar rumah.


"Tunggu,kita bawa pentungan pak buat jaga-jaga kalau saja diantara mereka masih ada di dalam."


"Apa mungkin itu maling tuan muda?"


"Aku juga tidak tau,mungkin saja itu orang iseng yang sering gangguin Mia."


"Apa perlu kita lapor polisi tuan?"

__ADS_1


"Telfonlah."


Segera mereka berdua dengan siaga membuka pintu dan segera mengecek listriknya,ternyata memang sengaja di padamkan.


Mereka merasa lega karena lampu kembali menyala,segera mereka kembali masuk kedalam rumah.


Bruak.....


Pak tejo tumbang karena ada yang memukulnya dari belakang,segera Niko menoleh dan dengan sigap melawan saat seseorang berusaha memukulnya juga.


Mereka berkelahi dan Niko sempat berteriak


"Mia....bu Wita....kunci pintunya dari dalam...!!!!"


Segera Mia dan Bu Wita mengunci kamar mereka dari dalam dan menghubungi polisi.


Baru saja Mia dengan panik akan menghubungi polisi tiba-tiba dua polisi sudah tiba.


Orang yang berkelahi dengan Niko sempat berusaha lari sampai akhirnya dia tumbang karena dengan terpaksa polisi menembak kakinya.


Segera pak Tejo yang masih pingsan di larikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan.


Sedangakan Niko harus ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.


Keesokan paginya Mia juga mendapatkan panggilan dari kantor polisi de temani bu Wita dan Niko.


Mia dan bu Wita hanya bisa saling pandang karena terkejut,ternyata pelaku yang semalam di tangkap polisi adalah orang yang pernah Mia dan Bu Wita lihat datang secara sembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan Jesika.


Menurut laporan polisi laki-laki tersebut bernama Putra sinatriya,Putra mengaku malam itu datang ke kediaman Niko berniat untuk mencuri.


Niko mempercayainya karena memang tidak kenal dengan Putra,namun berbeda dengan Mia dan bu Wita.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Mia dengan gemetar karena merasa antara takut,kecewa dan penasaran.


"Saya sendiri." Jawab Putra sambil menunduk.


"Bohong!" bu Wita ikut angkat bicara.


"Tunggu! apa kalian berdua sudah saling kenal?" tanya Niko bingung.


"Dia ini orangnya Jesika tuan muda,entah apa hubungan mereka tapi saya beberapa kali datang secara sembunyi-sembunyi menemui nona Jesika bahkan Nona Mia juga pernah melihatnya."


"Benar itu sayang?"


Mia hanya mengangguk,dan mereka pergi meninggalkan kantor polisi menuju rumahnsakit untuk melihat keadaan pak Tejo.


Ternyata luka pak Tejo tak terlalu serius jadi hari ini sudah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2