
Sebelum berangkat Mia dan keluarga sudah berhasil mengkontak dokter yang dulu pernah menangani Niko selama berobat keluar negri dan berhasil menyembuhkannya.
Setelah sampai Mia langsung menuju sebuah apartemen untuk beristirahat sejenak karena malam ini dokter Wiliam yang akan menangani Felicia baru mulai praktek.
Mia sangat beruntung karena mendapat kesempatan bertemu dengan dokter Wiliam,karena beberapa bulan terakhir dokter Wiliam disibukkan dengan seminar diberbagai negara.Kebetulan baru beberapa minggu lalu beliau kembali ke negara dimana beliau praktek.
Mia dan Felicia sudah bersiap dengan dibantu oleh suster Mirna pergi kerumah sakit dengan diantar oleh seorang sopir yang juga sudah disiapkan oleh pak Suryo untuk mengantarkan kemanapun mereka pergi.
Mereka sengaja berangkat lebih awal,agar bisa tiba dirumah sakit dan bertemu dengan dokter Wiliam tepat waktu.
Dari pemeriksaan awal,dokter Wiliam menyarankan untuk Felicia di opname dirumah sakit agar dokter dan pihak rumah sakit bisa mengawasi perkembangan kondisi pasien.
Mia hanya bisa mengikuti saran dari dokter selama itu untuk kebaikan putrinya.
__ADS_1
Dokter Wiliam juga sempat menanyakan keadaan serta keberadaan Niko karena tidak ikut serta mengantarkan putrinya berobat.
Seketika suasana berubah menjadi haru,Mia pun menjelaskan secara singkat bahwa Niko telah tiada dengan mata berkaca-kaca.Dokter Wiliam meminta maaf serta mengucapkan perasaan belasungkawanya,meski kini usia telah merubah warna rambut serta menambah sedikit keriput diwajahnya namun hal demikian tak lantas mengurangi keramahan serta kepedulianya pada semua pasiennya.
Tak banyak yang berubah dari dokter berperawakan tinggi yang kini rambutnya mulai memutih serta tubuhnya yang agak menggemuk.
Selama satu minggu mendapat perawatan dirumah sakit,Felicia sudah mulai menunjukkan perubahan yang signifikan.Felicia yang awalnya hanya bisa membuka dan memejamkan mata,serta membuka mulut saat makan dan minum saja kini sudah mulai bisa menggerakan beberapa anggota tubuhnya sendiri seperti tangan dan kaki meski masih nampak lemah.
Sepertinya dokter Wiliam berhasil menghipnotis Felicia dengan kata-kata yang memotivasinya untuk semangat melawan penyakitnya saat ini.
Felicia sudah mulai bisa tersenyum dan menggeleng ketika merespon tidak setuju atau tidak mau,meski belum bisa berbicara dengan lancar namun dengan terbata Felicia sudah mulai bisa mengucapkan benerapa kata meski terkadang tidak begitu jelas.
Hampir setiap hari Mia berkomunikasi dengan keluarga ditanah air via video call,terutama dengan Sofia.
__ADS_1
Felicia beberapa kali tersenyum dan tertawa saat adiknya mengajaknya bercanda dan seolah ingin ikut menyahuti gurauan adiknya.
Mereka nampak begitu akur,saling menyayangi dan saling merindu satu sama lain karena begitu lama tak bisa bertemu.
Mia sendiri juga begitu rindu dengan anak bungsunya tersebut,Sofia bilang setiap hari Minggu Deni mengajaknya keluar bersama dengan Dion calon adiknya hanya sekedar makan atau jalan-jalan supaya Sofia tidak merasa jenuh dan kesepian.
Nampaknya Deni juga begitu menyayangi Sofia meski bukan putri kandungnya,bagaimana tidak jika dengan Dion saja dia bisa sesayang itu apalagi dengan Sofia dan Felicia nantinya.
Deni memang terlihat baik sejak dulu dan sepertinya akan selalu seperti itu.
Mia tak pernah meragukan kesetiaan Deni selama jauh dari Mia untuk urusan pengobatan Felicia,karena Mia percaya Deni akan setia menunggunya.
Jika selama ini saja Deni bisa dengan setia menungunya selama bertahun-tahun apa lagi ini yang baru hitungan hari.
__ADS_1