Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Untuk kakekku sayang


__ADS_3

Hari berganti dan bulan pun berlalu,kini Sofia telah berusia 1 tahun.


Mia kini memiliki dua putri yakni Sofia putri kandungnya dan Felicia putri Riyan dengan almarhum Jesika.


Mereka tumbuh bersama bak anak kembar,Mia dan Niko juga tak pernah membedakan keduanya dalam hal apapun.


Karena Riyan tak pernah pulang ataupun memberi kabar,bagai di telan bumi.


Pak Suryo bilang Riyan sempat memberi kabar bahwa kini tinggal di luar negri,memperbaiki kehidupannya dengan mengelola bisnis pak Suryo yang ada disana.


Tak pernah sekalipun ia menanyakan kabar anaknya,meski Felicia bukan putri biologisnya tapi dia terlahir dalam sebuah pernikahan yang sah.


Meski tak ada hubungan darah dengan keluarganya Pak Suryo tetap menyayangi Felicia seperti ia menyayangi Sofia.


Bagaimanapun keduanya adalah cucu kesayangannya,yang memberikan kebahagiaan dan keceriaan di usia senjanya.


"Kakek......!"


Kedua bocah ber kuncir dua,berseragam khas anak taman kanak-kanak berlari menuju pak Suryo dan langsung memeluknya yang tengah duduk santai di teras belakang sambil membaca surat kabar harian.

__ADS_1


"Aduh......! kakek tertabrak dua bidadari yang turun dari langit.....,hehehe.."


Pak Suryo terkekeh sambil memeluk kedua cucunya yang terlihat seperti anak kembar.


"Bagaimana sekolahnya kalian hari ini sayang?"


Tanya pak Suryo pada kedua gadis manis yang sedang duduk di pangkuannya.


Mereka berdua hanya diam sambil saling melempar senyum dan menyedipkan sebelah mata mereka.


Pak Suryo mengernyitkan dahi hampir seperti rok plisket yang di kenakan kedua cucunya.


"Ini kami buat di sekolah,khusus buat kakek."


Keduanya mengeluarkan sebuah kartu bergambar hari berwarna merah,serta berhiaskan bunga-bunga bertuliskan


"untuk kakek yang ku sayangi"


Seketika air mata pak Suryo meleleh menggenangi sudut matanya dan tanpa di komando mulai mengalir tanpa bisa di bendung lagi.

__ADS_1


"Kakek.....kok kakek malah nangis?"


Tanya Felicia bingung sambil memeluk kakeknya.


"Iya kok kakek menangis,apa kakek tidak suka dengan kartu buatan kami?"


Tanya Sofia yang tak kalah bingung melihat kakeknya hanya diam sambil menyeka sisa air mata.


"Kakek gapapa,kakek hanya senang dan sangat senang.kakek hanya terharu dan bangga pada cucu-cucu kakek yang sekarang sudah sangat pandai ini."


Pak Suryo memeluk serta menciumi keduanya sambil kembali terisak mengingat mendiang istrinya.


"Kalau saja kamu masih ada,pasti kamu akan sangat bahagia melihat mereka."


Tangan renta Pak suryo yang penuh keriput memegang dan meraba sebuah foto lama yang dimana terlihat gambar dirinya bersama seorang perempuan yang di gandengnya dengan mesra.Terlihat raut bahagia di wajah keduanya,pikiran pak Suryo melayang membayangkan kenangan dimasa lalu bersama mendiang istrinya.


Air matanya kembali menggenang di sudut mata,teringat kenangan manis serta suka dan duka yang pernah terlewati barsama mendiang sang istri.Semuanya serasa terulang kembali,ketika mereka pertama kali bertemu sampai memiliki kedua buah hati,bahkan saat terakhir mendian istrinya meninggalkannya pun semua terbayang kembali seperti memori kenangan yang terputar di dalam pikirannya.


Lamunanya tersadar ketika Sofia datang memanggil untuk mengajaknya makan malam berasama,di letakkannya kartu yang di berikan kedua cucunya di samping foto yang baru saja ia letakkan sambil berjalan keluar kamar mengikuti langkah kaki Sofia yang menggandengnya menuju ruang makan.

__ADS_1


Bahkan saat makan bersamapun Pak Suryo lebih banyak diam,hanya sesekali menjawab pertanyaan atau perkataan cucunya dengan senyuman palsu.


__ADS_2