Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Mama


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit Mia minta untuk di antar ke penakaman Niko.


Tangisnya pecah saat melihat gundukan tanah yang kini menimbun tubuh aniko.


"Ma.....mama makan dulu ya,biar Sofia yang suapin mama."


Mia hanya terdiam matanya memandang kearah depan tanpa tujuan,pandangannya kosong.


"Kenapa secepat ini kau tinggalkan aku dan anak-anak kita mas?


Kenapa saat itu tidak kau ajak serta aku ikut bersama nenek?"


Mia teringat kejadian saat ia bertemu sang suami yang berjalan meninggalkannya lalu mengikuti nenek Mia.


Pikirannya melayang kembali dimana saat terakhir kebersamaannya dengan Niko sesaat sebelum kecelakaan.


Baru saja dia melihat senyum kebahagiaan keluarga mereka atas kelulusan dan prestasi yang di raih kedua putri mereka,kini semuanya berubah menjadi duka dalam sekejap mata.


Mia masih terdiam bersandar padasandaran tempat tidur,teringat saat pertama berkenalan dengan Niko sampai perjuangan mereka hingga Niko bisa sembuh dan normal kembali.


Tapi kini,dimana saat-saat seharusnya mereka hidup berbahagia dengan anak-anak kesayangan mereka justru Niko pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


Mia berjalan pelan di dalam kamarnya,tangannya merayap menyentuh sebuah bingkai foto berukir.


Dalam foto tersebut nampak Niko sedang memeluk Mia dengan mesra,itu adalah foto ketika pertama kali Mia di nyatakan positif hamil oleh dokter.

__ADS_1


Rona kebahagiaan terpancar dari keduanya,namun siapa sangka kini pancaran kebahagiaan itu berubah menjadi duka.


Mia hanya duduk termenung di sebuah kursi santai di taman teras belakang,pandangannya kosong sampai tak lagi ia hiraukan siapapun yang lalu lalang di sekitarnya.


Termasuk Riyan,yang tak sengaja melihat Mia sedang melamun di teras belakang.


Ada perasaan iba yang menghampiri hati Riyan saat melihat keadaan Mia sekarang,namun apa yang bisa dia lakukan?sedangakan dimasa lalu Riyan pernah berbuat kesalahan yang fatal pada Mia.


Riyan duduk di bangku sebelah Mia,dengan tenang pandangan matanya mengarah kedepan sama seperti yang Mia lakukan.


"Jangan sampai kamu terlalu berlarut-larut dlm kesedihan,biarkan dia tenang disana."


Mia masih tetap sama,hanya terdiam tak menyahut perkataan Riyan.


Meski sebenarnya telinganya masih normal dan masih mendengar semuanya,namun raganya enggan melakukan apapun.


Berusaha merayu mamanya agar mau mencicip makan malamnya.


"Iya,kalo nggak makan nanti mama bisa sakit."


Sofia menimpali.


Mia hanya diam mematung,pikirannya kosong.


Memang belakangan iki setelah kepergian suaminya,Mia lebih banyak diam dan kesibukannya sekarang hanyalah melamun.

__ADS_1


Membuat seisi rumah semakin khawatir pada keadaannya sekarang.


Berbagai cara telah di lakukan agar Mia tidak terus meneruh di rundung kesedihan,agar bisa kembali melanjutkan hidupnya.


"Ma,besok ada acara rapat pertemuan para wali murid di sekolah."


Sofia menggenggam lembut jemari tangan mamanya.


"Boleh Sofia minta tolong sama mama datang kesekolah kami,untuk menghadiri acara pertemuan di sekolah?"


Mata sayu Mia menatap mata Sofia dengan nanar.


Bibirnya masih membisu,hanya pandangan matanya yang membuat bingung siapapun yang memandangnya.Entah apa yang akan terucap dari bibir Mia,atau mungkin tak akan ada sepatah katapun yang akan terucap kali ini.


Mia merasa sangat bersalah dan menyesal,karena belakangan ini anak-anaknya jadi tak terurus dan kurang perhatian.


Seharusnya dalam keadaan seperti ini mereka saling menguatkan,tapi justru Mia terlalu larut dengan kesedihannya.


"Iya nak,mama akan datang besok."


Mia menyunggingnkan sedikit senyum yang terlihat seperti di paksakan.


"Maafin mama ya nak,mama jadi membuat kalian khawatir."Mia meremas jemari putrinya yang halus


"Iya ma,mulai sekarang mama harus semangat ya.Kita pasti bisa lewatin ini semua bersama."

__ADS_1


Mereka berpelukan sambil menangis bersama dalam peluk.


"Riyan benar,aku nggak boleh terlalu berlarut-larut dalam duka.Aku harus bangkit dan semangat demi putri-putriku,mereka masih membutuhkanku."


__ADS_2