
Riyan teringat kembali kebodohannya dimasa lalu yang membuatnya merasa malu sendiri terutama pada Mia yang duduk di kursi sebelahnya.
Sedangkan dari balik pintu kedua bocah yang sedang dilanda kekepoan sedang sibuk menempelkan telinga sampai hampir mendorong pintu karena meski telinga mereka sudah serasa melekat ke daun pintu namun tak ada sedikitpun suara yang mampu ditangkap oleh telinga mereka.
Mereka tak menyadari jika di dalam ruangan kakek mereka adalah ruangan kedap suara jadi meski ada teriakan sekalipun dari dalam tak akan terdengar sedikitpun dari luar.
Pak Suryo yang menyadari tingkah kedua cucunya hanya diam sesekali melirik kearah pintu.
"Maaf pa,apa Mia dan anak-anak masih pantas tinggal disini?"
Akhirnya Mia mampu memaksa bibirnya yang sedari tadi tertahan untuk mempertanyakan hal itu.
"Tentu saja,kau ini putriku dan mereka cucu-cucuku."
Jawab pak Suryo santai.
"Mia,kau boleh tinggal disini sampai kapanpun selama kau dan anak-anak mau karena ini juga rumah kalian."
"Papa tak akan memaksamu untuk menikah dengan Riyan seperti kedua cucuku yang masih polos itu,tapi jika memang kalian berdua menginginkannya papa akan sangat senang sekali."
Pak Suryo hanya tersenyum menatap Riyan yang juga sedang memandang wajah papanya,sedangkan Mia kembali tertunduk.
Beberapa hari berlalu setelah pertemuan serta obrolan rahasia antar orang tua di ruang kerja pak Suryo.
Kedua gadia remaja yang kini tumbuh mendekati dewasa ini sedang berbincang serius didalam kamar.
Buku-buku tersusun rapi disana,serta ada sebuah laptop dengan layar menyala di atas meja.
Seorang gadis ber piyama merah muda bergambar beruang sedang sibuk di depan layar laptopnya yang sedang menyala.
"Kak....!"
"Hemmmm?"
"Ih kakak!"
__ADS_1
"Ada apaan sih de?"
Masih dengan mata tak berpaling dari layar laptopnya.
"Kakak sibuk amat sih dari tadi? adeknya datang berkunjung malah di cuekin!"
Memalingkan wajahnya sebentar dari layar laptop ke arah wajah adiknya.
"Ada apa adikku tersayang?maaf ya....datang berkunjung di cuekin,mau minum apa nie?"
Ledek Felicia.
"Aku mau ngobrol nih."
"Ngobrolin apaan?kakak lagi sibuk nih,banyak tugas besok di kumpulin."
Kembali ke laptopnya.
"Ih....kakak nggak asyik!"
Sofia hanya nyengir lalu kembali memanyunkan bibirnya.
"Kak!"
"Hmmmmm"
"Kira-kira.....kemaren kakek,om Riyan sama mama pada ngobrolin apa ya?"
"Nggak tau,orang kakak nggak denger apa-apa."
masih sibuk dengan layar laptopnya sambil meladeni ocehan adiknya karena takut nanti ngambek lagi.
"Yeeeee kakak,kalau itu mah sama aku juga gak denger apa-apa!"
"Lha kan kit nguping barengan masa kamu tanya kakak."
__ADS_1
"Kan aku kepo kak."
"Kurang-kurangin kepo de,biar panjang umur."
"Emang apa hubungannya?!"
"Ketika kita kepo sama urusan orang lain,otak kita bekerja lebih keras.jadi bisa menimbulkan segala penyakit.Hahahahhahaaa"
"Sialan!"
Melemparkan boneka kecil kearah kakaknya namun meleset karena Felicia berhasil menghindar.
Lalu mereka tertawa bersama.
"Apa jangan-jangan Om Riyan di suruh sama kakek menikahi mama ya?"
"Bisa jadi."
"Kakak setuju nggak sih kalau mama sama om Riyan?"
"Heemmm......"
Felicia terdiam sejenak seakan sedang menimbang jawaban apa yang akan keluar dari bibir tipisnya untuk menggoda adiknya sambil senyum nyengir.
"Kelamaan mikirnya kak ...!"
"Kalau mama bahagia kenapa nggak?!"
"Ye......bilang aja setuju!"
Sofia melempar lagi boneka ke arah kakaknya,kali ini tepat terkena kepala sang kakak.
"Aaaww!"
Meski tak sakit namun Felicia merasa sedikit kesal karena sang adik mengganggu konsentrasinya dalam mengerjakan tugas.
__ADS_1
Sontak Sofia mengambil langkah seribu untuk segera kabur dari kajaran sang kakak yang sudah mulai bangkit untuk bersiap membalas dendam.