Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Putra?


__ADS_3

"Aduh! kena macet lagi,semoga saja waktunya masih keburu."


Riyan menggerutu karena mobil yang ditumpanginya terjebak macet,dan kini benar-benar tak bisa jalan sama sekali.


Riyan harus buru-buru sampai kerumah sakit sebelum waktu makan siang usai,karena pak Deni akan membawa si pendonor darah untuk Felicia di jam makan siang ini.


Dan sudah pasti mereka akan kembalinke kantor saat jam makan siang selesai.


Riyan pasti akan merasa sangat tidak enak sekali jika tak bisa menyampaikan ucapan terima kasihnya secar langsung pada pak Deni,juga pada sang pendonor yang sudah bersedia meluangkan waktu serta bersedia mendonorkan darahnya untuk Felicia.


Meski Felicia bukan anak kandungnya,juga bukan siapa-siapa di dalam keluarganya namun dia berhak mendapatkan kasih sayang yang penuh dari keluarga Pak Suryo.Kasihan dia hanya anak polos yang tak pernah tau menau tentang masa lalu orang tuanya.


Untungnya tak perlu waktu lama arus jalananpun mulai kondusif kembali,Riyan segera melaju menuju rumah sakit.


Beruntungnya mereka bertemu di depan sebuah ruangan,setelah Riyan dan Niko saling berkomunikasi lewat telfn.


"Bagaimana pak Deni,apakah orang yang akan mendonorkan darahnya bisa datang?"


Tanya Riyan setelah berbasa-basi menyapa Deni.


"Iya pak Riyan,orangnya sedang ada di dalam untuk diambil darahnya serta tadi juga sudah melakukan serangkaian tes kesehatan."


"Syukurlah,terima kasih untuk bantuannya pak Deni."


Tiba-tiba hape di saku Riyan berdering,menampilkan nama Mia di layar panggilannya.

__ADS_1


"Maaf saya angkat telfom dulu sebentar ya pak Deni."


"Baiklah,silahkan."


Deni kembali duduk di kursi tunggu.


Dengan tergesa-gesa Mia menuju tempat dimana Riyan dan sang pendonor berada sekarang,meski sebenarnya Riyan sendiri juga belum bertemu secara langsung dengan sang pendonor yang dimaksud.


Saat Mia tiba,disana sudah ada Riyan yang menungguinya.


Nampak seorang laki-laki berperawakan tingi dengan setelan jas rapi berdiri membelakangi Riyan sedang menerima telfon.


"Apakah ini orang yang akan mendonorkan darahnya untuk Felicia?"


Tanya Mia yang tak bisa menyembunyikan wajah bahagiannya.


Setelah menutup telfon Deni segera kembali kearah Riyan dan betapa terkejutnya bagai disambar petir disiang bolong karena orang yang berdiri dihadapannya kini adalah Mia,Mia teman masa kecilnya yang selama ini dia nantikan untuk dijadikan pendamping hidup namun kini telah menjadi milik orang lain.


"Mia?!"


"Deni?"


"Kalian,kalian saling kenal?"


Riyan nampak bingung dengan menatap keduanya bergantian.

__ADS_1


"Iya pak Riyan,Mia ini teman lama saya."


"Kebetulan sekali kalo begitu."


"Jadi yang sakit itu anak kamu Mia?"


Mia hanya mengangguk pelan.


"Terima kasih untuk bantuannya Den."


"Sama-sama,jadi pak Riyan ini adalah suami kamu?"


"Bukan pak Deni,Mia ini adalah kakak ipar saya dan suaminya...."


"Iya saya kakak iparnya Riyan,dan yang sedang sakit adalah anak saya."


Mia tak membiarkan Riyan melanjutkan kalimatnya soal suaminya Niko.


Entah apa alasannya hingga Mia tak mau Deni mengetahui statusnya sekarang yang sudah menjadi janda.


Tak lama setelah suasana canggung,seorang laki-laki muda berkemeja biru muda keluar dari ruangan.


"Putra?!"


Suara Riyan dan Mia hampir bersamaan menyebut nama seorang laki-laki yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.

__ADS_1


Sang pemilik nama sontak kaget dan langsung menoleh dan tak kalah terkejut dari kedua orang yang memanggil namanya barusan.


__ADS_2