Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Dion


__ADS_3

Deni akhirnya menuruti putranya untuk bermain sore itu.


Setelah lelah bermain keduanya bersantai di sofa depan tivi.


Tiba-tiba Dion meletakkan kaki Deni di pangkuannya.


"Pa Dion pijitin ya,makasih ya pa walaupun capek pulang kerja papa masih mau main sama Dion."


Ucapnya dengan lugu.


Deni bangkit dari sofa da memeluk putranya,hatinya sangat terharu dengan ucapan dan perhatian anak sekecil itu.Ada rasa bersalah di hatinya,karena akhir-akhir ini dia mulai mengacuhkan Dion dengan pikirannya yang penuh dengan Mia.


Mia yang kini telah bahagia dengan suaminya kenapa harus terus memenuhi fikirannya,bahkan sampai mengabaikan keluarganya sendiri.


Bahkan Dion mulai protes dengan sikap Deni akhir-akhir ini.


Dion memang anak manis yang penurut dan sangat pengertian,sifatnya tak jauh dari mendiang ibunya.


Dion sejak bayi sudah menjadi sebatang kara,ibunya meninggal setelah beberapa hari melahirkannya sedangkan ayahnya tak ada yang tau dimana dia sekarang.


Sore itu hujan turun saat Deni keluar dari pintu apotek bersama ibunya,nampak seorang perempuan berteduh di emperan depan apotek.


"Mama disini dulu ya,Deni ambilkan payung dulu di mobil."


Deni meninggalkan ibunya di depan pintu keluar apotek dan berlari menuju mobilnya.


Deni kembali dengan membawa dua buah payung,satu untuk ibunya dan satu lagi untuknya sandiri.Karena hujan lumayan lebat Deni takut ibunya akan terkena percikan air hujan jika hanya membawa payung satu untuk berdua.


Saat hendak membukakan payung untuk ibunya,tiba-tiba perempuan yang sedari tadi berteduh di pojok emperan apotek tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


Seketika Deni dan mamanya panik langsung menolongnya.


"Den bawa ke mobil,kita bawa ke rumah sakit."


"Iya ma."

__ADS_1


Deni menggendong gadis itu menuju mobil,dan di bantu mamanya memayungi mereka.


Sesampainya di rumah sakit segera Deni membawanya ke UGD di bantu para perawat serta penjaga keamanan yang dengan sigap siaga di depan pintu Unit Gawat Darurat.


Seorang perempuan berjas putih keluar dari pintu pemeriksaan ruang UGD.


"Apa anda keluarganya?"


"Bukan dokter,kami tidak saling kenal tiba-tiba saja dia pingsan lalu kami membawanya kemari."


Deni menjelaskan pada dokter yang barusaja memeriksa gadis tersebut.


"Pasien sangat kelelahan dan dehidrasi karena kurang makan dan minum,serta sedang hamil muda ini yang mengakibatkan tubuhnya lemah."


"Lalu bagaimana keadaannya sekarang dokter?"


Tanya mama Deni.


"Sekarang pasien sudah sadarkan diri,namun keadaannya masih sangat lemah."


Tanya Deni lagi.


"Sebaiknya begitu pak,melihat kondisi pasien masih sangat lemah"


"Bolehkah kami masuk untuk menemuinya dokter?"


Tanya mama Deni lagi.


"Silahkan."


Di dalam ruang UGD Deni bersama mamanya menghampiri gadis yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus tersambung ke tangannya.


"Nak,namamu siapa?


"Saya.....hik"

__ADS_1


Tanpa melanjutkan ucapannya gadis berambut panjang itu malah menangis


"Nama saya Nina."


Mama Deni memeluknya dan menenangkannya.


Menurut cerita Nina,ia sudah satu minggu di usir dari rumah perihal kehamilannya.


Setelah sebelumnya sempat tinggal selama lima hari di tempat bibinya,saudara dari ayahnya.


Namun hari itu Nina kembali kabur karena perlakuan tak senonoh dari suami bibinya yang seorang pemabuk.


Ternyata Nina adalah korban perkosaan hingga hamil seperti sekarang,namun keluarganya tak mau menerima keadaannyanya.


Keluarganya justru menuduh Nina hamil karena salah pergaulan.


"Maaf sudah merepotkan anda semua,sebaiknya saya keluar saja dari rumah sakit ini."


"Lho kenapa nak?tubuhmu belum cukup kuat untuk pergi.Istirahatlah disini,ada dokter dan perawat yang akan merawatmu."


"Tapi,saya nggak punya uang bu."


"Nggak usah sungkan,biar kami yang urus semuanya."


"Tapi ibu tidak mengenal saya."


Mama Deni hanya tersenyum mendengar perkataan gadis dihadapannya.


"Setelah keluar dari sini,kamu bisa tinggal bersama kami."


"Tapi bu"


Nina hanya orang asing yang dibuang oleh keluarganya,karena kehamilannya dianggap aib dalam keluarga.


Seharusnya disaat-saat seperti ini Nina sangat membutuhkan dukungan dari kuarganya,namun inilah kenyataan pahit yang harus ia alami.

__ADS_1


__ADS_2