Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Tanpa Mia


__ADS_3

Sesampainya dirumah sakit Mia segera menuju ruang perawatan neneknya,disana sudah ada Mbk Sum orang suruhan pak Suryo yang merawat dan menjaga neneknya Mia.


"Apa yang terjadi dengan nenek mbk,kenapa bisa samapi begini?"Tanya Mia tanpa memalingakan pandangannya dari wajah neneknya yang sebenarnya belum terlalu tua hanya saja karena orang desa biasa dan tentunya tak mengenal perawatan membuat raut wajahnya terlihat lebih tua dari usianya.


"Saya juga tidak tau non,tadi saat saya menjemur cucian di luar nenek pamit ke kamar mandi namun sampai saya selesai menjemur pakaian nenek tak kunjung keluar juga saya fikir nenek sudah selesai dari kamar mandi langsung istirahat ke kamarnya.


Saat saya cari di kamar tidak ada dan saat saya hendak mencarinya di kamar mandi.....nenek sudah tergeletak di lantai nona.


Maafkan saya,saya yang lalai dalam menjaga nenek nona,maafkan saya nona."Mbk Sum berusaha menjelaskan apa yang terjadi sembari berderai air mata,mungkin karena rasa takutnya.


Takut jika di salahkan karena memang dia merasa semua ini adalah kesalahannya.


Selama tiga hari nenek Mia tak sadarkan diri dan sempat mendapat perawatan di ruang ICU,dan selama itu pula Mia merawat neneknya di bantu oleh mbk Sum.


Mia tak pernah beranjak dari sisi neneknya,bahkan pulang untuk sekedar melihat keadaan suaminya pun tidak.

__ADS_1


Yang ada di dalam pikiran Mia saat ini hanyalah neneknya.


Selama tiga hari ini ada yang berbeda di dalam hidup Niko.


Selama tiga hari tanpa adanya Mia hidupnya terasa berbeda,selama hampir satu tahun ini Mia lah yang menjaganya,merawatnya.


Meski kini Niko sudah mulai mandiri namun ia merasa ada yang kurang saat tak ada Mia disisinya,Niko merasa frustasi saat tak ada Mia.


Sama seperti dulu ketika Mia belum hadir di dalam hidupnya,sifat pemarah nya kini mulai kumat lagi.Niko tak mau melakukan teraphynya padahal sebelumnya dia selalu penurut dengan Mia,rutin melakukan therapy di dampingi Mia.


Tapi kini Bu Wita pengasuhnya saja sampai merasa heran dengan perubahan Niko yang sangat tiba tiba ini.


Niko tampak seperti ular kobra yang bertemu pawangnya.


"Nik.....kamu kenapa nak?"Niko masih terdiam membisu tanpa sepatah katapun.

__ADS_1


"Apa kamu mulai menyukainya?"Spontan Niko memandang wajah ayahnya dengan raut bingung.


"apa iya aku mulai menyukainya,apa benar yang di katakan papa?"tapi.....aku sudah pernah bilang akan melepaskannya jika itu yang dia mau,apakah ini yang dinamakan sayang atau cinta?sedangkan aku tak punya kuasa untuk menahannya disisiku." Niko mulai menimbang nimbang isi hati dan perkataan papanya.


*Kita kembali kerumah sakit ya.....*


Ketika nenek Mia sudah mulai sadar dan sudah bisa di pindahkan ke ruang Perawatan.


Barulah pak Surya bisa membesuknya karena memang selama di ICU dilarang membesuk pasien kecuali keluarganya yang menunggu.


Pak Suryo hanya datang seorang diri tanpa Niko,karena beliau tidak mau membuat Mia repot karena harus mengurus neneknya yang belum benar benar pulih.


"Bu Danang tolong nanti jika sudah sembuh,bu Danang pulang lah kerumah saya,agar Mia tidak khawatir lagi dengan keadaan neneknya"Sambil tersenyum pak Suryo berusaha kembali membujuk besannya itu agar tidak lagi merasa tak enak hati tinggal bersama cucunya di keluarga Suryo.


Setelah dengan bersusah payah membujuk nenek Mia yang sangat alot tentunya,akhirnya mereka berhasil membawa Nenek Mia pulang ke rumah pak Suryo.

__ADS_1


Betapa gembiranya Niko saat mendengar kabar bahwa Mia akan segera pulang dan membawa serta neneknya,dia sudah mulai mau makan dan mulai mau melakukan therapy dan belajar berjalan meski maunya dirumah saja dan dokter Tio yang harus datang kerumah memandunya.


Niko terkadang memang seperti anak kecil yang manja,tapi kadang terlihat dewasa dengan wajahnya yang tampan.


__ADS_2