Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Seribu Candi


__ADS_3

Sepulang sekolah seperti biasa Mia mampir ke kantin mengabil uang dagangan yang di titipkan dikantin dan engambil kembali wadahnya.Saat ia melangkah keluar gerbang sekolah tiba tiba seseorang menarik lenganny


"Deni! ngagetin aja sih kamu ini" Mia memanyunkan bibirnya karena kesal dengan Deni sambil membetulkan kotak wadah dagangan makanan yang hampir tejatuh tadi.


"Aku tungguin dari tadi lama banget sih,ngapain aja tadi?"Ucap Deni sambil mengambil kotak makanan yang d bawa Mia.


Sepanjang perjalanan pulang Deni hanya terdiam tak seperti biasanya yang selalu rame sambil menjahili Mia sepanjang perjalanan,sampai akhirnya mereka sampai d sebuah taman yang sejak kecil mereka sebut markas.


"Aku mau ngomong serius sama kamu Mia,tolong jangan anggap bercanda lagi kata kataku ini nanti"


Deni meletakkan kotak d sebelah tempatnya duduk bersama Mia.


"Emang kam....." mmmmmph.......tiba tiba Deni mencium bibir Mia,tanpa persiapan mia gelagapan dengan aksi Deni,Mia berusaha menarik wajahnya agar terlepas dari ciuman Deni,tapi Deni memegang kepala Mia yang membuat Mia pasrah hanya bisa memejamkan mata,Deni masih ******* bibir manis Mia sambil meneteskan air mata,Mia yang menyadari ada yang basah menetes sampak ke pangkuannya mendadak membuka matanya dan melihat wajah Deni yang sudah banjir dengan air mata.


Ada apa ini?kenapa Deni menangis,tak biasa biasanya dia seperti ini,bahkan sejak kecil Deni tak pernah secengeng ini,batin Mia.


"Maafkan aku Mia,aku tak mampu menahan diriku"


Deni melepaskan ciumannya sambil memalingkan wajahnya dari Mia,entah karena malu dengan aksi yang tiba tiba mencium Mia atau malu karena ketahuan menangis di depan Mia.

__ADS_1


"Mia....setelah lulus Sekolah nanti Ayah menyuruhku untuk melanjutkan sekolah keluar negri,semua sudah di siapkan karena kelulusan tinggal beberapa bulan lagi.


Aku tidak mau meninggalkanmu Mia,tapi aku juga gak munggkin membawamu bersamaku."


Mia hanya terdiam tiba tiba air matanya menetes Mia menangis sesenggukan,dia akaN kehilangan seorang sahabat yang sejak kecil bersamanya,yang menemaninya hingga tumbuh dewasa.


Yang entah sejak kapan tumbuh pula benih benih rasa sayang sebagai sahabat mekar dengan liar menjadi perasaan cinta.


Tiba tiba Deni memeluk tubuh Mia


"berjanjilah Mia,bahwa kau akan menungguku pulang nantinya,berjanjilah kau akan menungguku mewujudkan impianmu.


Akan ku buatkan seribu candi untukmu"


Mia hanya bisa berteriak di dalam hati,bibirnya kelu dadanya sesak tak mampu mengucapkan apapun dengan bibirnya.


Kenapa ketika ia ada kita sering kali mengacuhkannya tapi ketika ia akan pergi menjauh barulah kita tau betapa pentingnya dia,betapa sakitnya takut kehilangannya.


"Mia...apakah perlu aku melamarmu sebelum aku pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikanku?karena kalau untuk menikahimu aku belum bisa selain aku belum berpenghasilan kita juga belum cukup umur".

__ADS_1


Tiba tiba Mia memukul bahu deni


"gila kamu ya den,sampai segitunya kamu itu,kita kan sahabat dari kecil memang apa yang kamu harapkan dari seorang gadis miskin seperti aku ini?".


"Lagian siapa yang mau nikah sama pria bodoh sepertimu?"


"Dasar bodoh! aku sudah menunggumu sejak masih kecil,aku sudah menyayangimu,berjanji akan menjagamu ketika melihatmu menangis di tinggal ibumu pergi ke kota,apakah kau lupa?"


Seakan waktu berjalan mundur,kembali dimana mia menangis tersedu ketika ia melihat ibunya pergi merjalan meninggalkannya untuk bekerja di kota.


Saat itu datanglah deni menghiburnya membawanya ke sebuah taman kecil yang smpai sekarang jadi markas mereka.


"Sudah ingat belum?dasar gadis bodoh!"


Deni kembali memeluk tubuh Mia,sambil kembali mencium kening Mia.


"Jadi.....?"Deni menggantungkan kata katanya.


"Apa?"tanya Mia tak mengerti.

__ADS_1


"Apa mulai sekarang kita bisa di sebut sebagai pacar?atau mungkin malah calon suami istri?"


"Dasar bodoh!" jari Mia menjitak kepala Deni lalu berlari menuju jalan pulang.


__ADS_2