Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Pernikahan Riyan


__ADS_3

Hari yang di tentukan pun tiba,Acara pernikahan Riyan dan Jesika di laksanakan dengan mewah.


Jujur jika bisa mengatakannya Mia sangatlah iri,namun ia kembali tersadar seperti apa keadaannya saat itu.


Ketika dimana terpaksa ia harus menikah dengan seseorang yang tak dikenal,seorang yang lumpuh.


Dan lagi Mia terpaksa harus menikah karena di jadikan tumbal hutang kakeknya,bukan karena cinta.


Meski kini mereka mulai menyiram benih-benih cinta yang mulai tumbuh.


Dengan mengenakan Dres berwarna tosca dan menenteng tas senada serta memoleskan riasan sederhana sudah membuat Mia tampak anggun dan cantik.


Karena meski gadis desa biasa,meski sering kali berpenampilan sederhana namun Mia memiliki paras yang ayu dan manis serta berkulit bersih.


Pesta berlangsung sangat meriah,di hadiri para tamu undanngan dari kenalan pak Suryo,teman-teman Riyan dan juga Jesika serta para kerabat dekat turut hadir membanjiri acara.


Mia dan Niko pulang lebih awal karena Mia merasa kecapekan dan terlihat sedikit pucat.


"Kamu kenapa sayang?sakit?muka kamunpucat sekali,tangan kamu juga dingin."


Tanya Niko,sambil menggandeng tangan Mia membawanya keluar ruangan untuk mencari udara segar.


"Nggak tau ni mas,kepalaku rasanya pusing."


Jawab Mia sambil sebelah tangannya memegangi keningnya menahan pusing.

__ADS_1


"Kita pulang sekarang ya,sayang.Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Tapi aku nggak enak mas,kalo tiba-tiba kita ngilang gitu aja padahal acaranya belum selesai."


"Udah gakpapa,yang penting kamu bisa istirahat.Atau kita langsung ke rumah sakit saja sayang?"


"Gak usah mas,aku cuma pusing aja kok."


Niko segera memanggil sopir dan meminta mengantar mereka pulang.


Sesampainya dirumah Mia langsung merebahkan diri di tempat tidur.


Niko yang melihat istrinya tak berdaya merasa iba,karena beberapa hari ini Mia ikut sibuk menyiapkan pernikahan Riyan dan Jesika hingga membuatnya kelelahan seperti ini.


Niko segera menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman hangat untuk Mia.


Mia membuka mata dengan malas,dan bangun dari rebahannya.


Setelah menghabiskan minumannya,Mia kembali merebahkan tubuhnya.


"Maaf ya mas,aku tidur duluan.Rasanya aku benar-benar lelah."


"Iya sayang,istirahatlah."


Niko membaringkan tubuhnya di samping Mia,di peluknya tubuh Mia yang seakan tak merespon apapun yang Niko lakukan.

__ADS_1


Sepertinya Mia benar-benar kelelahan,bahkan saat Niko membelai rambut dan menciumi keningnya tak ada reaksi apapun.


Akhirnya Niko pun ikut tertidur sambil memeluk tubuh istrinya.


Mia merasa mual saat bangun tidur di pagi hari,Mia berlari menuju kamar mandi dan menumpahkan seluruh isi perutnya di kamar mandi.


Niko yang mendengar Mia muntah di kamar mandi segera menyusulnya.


Segera Niko memanggil dokter setelah membaringkan istrinya di tempat tidur.


Ketika dokter datang Mia kembali muntah entah untuk keberapa kalinya sampai membuat tubuh mia lemas dan tampak pucat.


Bu Wita nampak ikut membantu merawat Mia di kamar.


Setelah dokter memeriksa Mia,dokter hanya bisa menyarankan untuk membawa Mia ke rumah sakit saja karena melihat keadaan Mia yang tidak memungkinkan untuk di rawat di rumah.


Dokter menjelaskan jika alangkah baiknya jika Mia opname di rumah sakit,karena selain Mia membutuhkan perawatan lebih intensif juga perlu pemeriksaan lebih mendetail.


Akhirnya pagi itu juga Mia di bawa ke Unit Gawat Darurat di Rumah Sakit Medika.


Setelah menjalani serangkaian tes ternyata lambung Mia bermasalah.


Sepertinya karena akhir-akhir ini Mia terlalu sibuk ikut serta mengurus acara pernikahan adik iparnya hingga membuatnya lupa dengan dirinya sendiri,jam makan pun menjadi sering terabaikan hingga membuat lambungnya bermasalah.


Selama di rumah sakit,Niko tak pernah sedikitpun beranjak dari samping Mia.

__ADS_1


Meski bu Wita ikut berjaga untuk menemani dan merawat Mia tapi Niko tak pernah sedetikpun meninggalkan kamar rawat milik istrinya selain pergi ke kamar mandi dan untuk menemui dokter untuk mengetahui perkembangan kesehatan istrinya,Niko tak pernah lepas dari hadapan sang istri.


__ADS_2