Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Masa lalu


__ADS_3

"Ma....Sofia minta maaf ya,gara-gara sofia kak Felicia jadi kayak gini."


Air mata Sofia kembali menetes,wajahnya menggambarkan antara rasa sedih dan penyesalan menjadi satu ikut serta mengalir dalam aliran air mata dipipinya.


Mia menyeka air mata di pipi Sofia lalu menggenggam tangan putrinya.


"Habiskan makanannya,jangan pikirkan apapun.Kita do'akan saja semoga Felicia tidak apa-apa."


"Iya ma."


Sofia kembali melahap makanannya sambil melirik sang kakek yang masih terdiam hanya memegang makanan yang masih utuh di dalam paperbag di tangan.


"Kakek nggak makan?"


"Iya nanti kakek makan,kamu makanlah dulu."


"Iya pa,papa makan saja dulu."


Pak Suryo hanya tersenyum seperti di paksakan,nampak berusaha kuat namun tak ada yang tau seperti apa isi hatinya saat ini.


Meski beliau sendiripun tau bahwa Felicia bukan cucu kandungnya,bahkan bukan siapa-siapa di dalam keluarganya namun Felicia sudah tumbuh menjadi cucunya sejak bayi hingga sekarang.


Felicia adalah anak yang baik dan tak tau menau soal masalalu orang tuanya.

__ADS_1


Sementara Riyan masih duduk di kursi kantin,dimana Mia meninggalkannya sendirian.


Riyan menikmati makanannya sampai seorang pria mendekat lalu menyapanya.


"Pak Riyan?"


Riyan segera menoleh mendengar namanya di sebut oleh seseorang yang suaranya tak asing baginya.


"Pak Deni?"


"Apa kabar pak? dan....ngapain disini?siapa yang sakit?"


Mereka saling bersalaman.


"Kabar saya baik pak,saya disini sedang nunggu ibu saya yang sedang sakit pak Riyan.Pak Riyan sendiri,siapa yang sakit?"


"Terima kasih pak Riyan,semoga keponakan pak Riyan cepat sembuh juga ya."


Riyan dengan Deni memang saling kenal karena mereka sedang ada rencana kotrak kerjasama dalam pekerjaan dikantor.


Memang beberapa kali mereka bertemu di dunia maya berkomunikasi via online namun untuk bertemu secara langsung baru satu kali dan saat ini adalah pertemuan mereka yang kedua.


Setelah tak beberapa lama mereka berbasa basi mengobrol Deni berpamitan terlebih dahulu meninggalkan kantin karena kebetulan makannan pesanannya sudah jadi,Deni memesan makanan untuk dibungkus dan dimakan di dalam kamar ruang inap ibunya.

__ADS_1


Saat Riyan sampai diruang tunggu IGD Sofia baru saja menghabiskan makan malamnya,sedangkan pak Suryo masih terdiam dengan makanan yang masih di anggurin.


"Pa,papa nggak makan makanannya?"


"Iya,nanti papa makan."


"Pa,papa pulang dan istirahat saja dirumah sama Sofia ya biar Mia saja yang jaga disini pa."


"Papa disini saja nemenin nungu Felicia,biar Sofia saja yang pulang kasian dia besok harus sekolah."


"Mia bener pah,papa sam Sofia pulang saja istirahat dirumah biar nanti Riyan yang temani Mia berjaga disini."


"Iya pa,nanti papa sakit jika bermalam disini.Sekarang sudah larut malam papa pulang saja nanti jika ada apa-apa biar Mia kabari."


Setelah melalui panjangnya proses negosiasi serta rayu merayu akhirnya pak Suryo setuju untuk pulang terlebih dahulu dan beristirahat dirumah.


Pak Suryo pulang bersama Sofia dengan di antarkan oleh Riyan,sesampainya dirumah Riyan segera menyuruh asisten rumah untuk menyiapkan beberapa pakaian ganti Mia untuk beberapa hari dirumah sakit.


Setelah semua siap Riyan segera pamit pada papanya untuk menemani Mia menunggu Felicia dirumah sakit.


Meski sebenarnya Mia sudah berpesan untuk Riyan lebih baik dirumah saja tak usah menemaninya dirumah sakit,namun Riyan merasa tak tega jika harus meninggalkan Mia sendirian dirumah sakit menunggu Felicia.


Karena meski Felicia bukan putri kandungnya,namun Felicia terlahir di dalam pernikahannya dengan almarhum Jesika.

__ADS_1


Dan itu artinya Felicia juga bisa dibilang anak Riyan,namun karena kelesalan serta amarah Riyan dimasa lalu hingga membuatnya tak pernah memperdulikan Felicia.


Untungnya Mia dan almarhum Niko suaminya berbaik hati merawat Felicia seperti putri kandungnya sendiri,bahkan Felicia memiliki akta kelahiran sebagai anak dari Niko dan Mia.


__ADS_2