
Setelah dari pemakaman mereka tidak langsung pulang,melainkan langsung menuju rumah sakit dimana Mia dirawat.
Keadaan Mia tidak cukup baik saat ini,karena.sampai sekarang belum juga sadar dan melewati masa kritisnya.
Sesampainya mereka dirumah,pak Suryo menjelaskan siapa Riyan pada kedua cucunya.
Namun tak semuanya ia jelaskan dengan sejujur-jujurnya.
Pak Suryo menjelaskan bahwa Riyan ini tak bukan dan tak lain adalah om mereka yang selama ini tinggal di luar negri guna mengurus bisnis milik pak Suryo yang ada disana.
"Lalu kenapa selama ini om Riyan tak pernah pulang?"
Tanya Felicia,di ikuti anggukan kepala Sofia yang tak kalah penasaran.
"Karena ingin melupakan masa lalu yang pahit,jadi saya enggan untuk pulang."
Jawab Riyan dingin tanpa ekspresi.
Keduanya hanya mengangguk tanda mengerti,tanpa melanjutkan pertanyaan lagi.
Tiga hari sudah Mia terbujur tak sadarkan diri di ranjang ruangan ICU.
Tak ada tanda-tanda kabar baik tentang m
kondisi Mia,saat ini tak ada yang bisa di lakukan selain berdo'a utuk kesembuhan Mia.
Hari ini Sofia dan Felicia langsung menuju ruangan mamanya,setelah menyelesaikan urusan pendaftaran siswa baru di sekolah menengah atas yang mereka inginkan.
"Bagaimana keadaan mama om?"
Tanya Sofia pada Riyan yang sedang duduk di bangku ruang tunggu depan ruang rawat Mia.
Riyan hanya menggeleng tanpa menoleh kearah sang pemberi pertanyaan.
__ADS_1
"Kaliam sudah makan?"
Tanya Riyan datar pada keduanya,sembari bangkit dari duduknya.
"Belum."
Jawab Felicia menoleh dan memandang Riyan tanpa berkedip.
"Nih orang kenapa sih,apa memang dia seperti itu?nyebelin banget,kadang curi-curi pandang gak jelas tapi sikapnya sering kali sedingin es batu yang sudah sangat lama membeku di dalam kulkas."
Felicia tersadar dari lamunannya saat Sofia menyenggol lengannya.
Baru saja hendak melangkah menuju kantin untuk membeli makanan,langkah Riyan terhenti saat seorang dokter hampir menabrak Riyan karena berjalan dengan terburu-buru menuju ruangan tempat Mia di rawat.
Seketika Riyan membalikkan tubuhnya kembali dan ikut mengintip keadaan di dalam bersama Sofia dan Felicia melalui kaca tembus pandang yang ada di ruangan Mia.
"Mama kak,mama...mama membuka matanya!"
Sofia setengah berteriak kegirangan sambil berpelukan dengan kakaknya.
Felicia membalas pelukan adiknya.
Nampak kelegaan dan haru di wajah Riyan yang dengan buru-buru memalingkan wajahnya dari sorot mata Felicia,lalu bergegas melanjutkan langkahnya yang sempat terlupakan menuju kantin.
Setelah selesai menghabiskan makan siangnya Riyan kembali pada kedua ponakannya dengan menenteng bungkusan makan siang untuk kedua gadis belia yang baru saja menginjak remaja tersebut.
"Terima kasih om."
Ucap Felicia sambil menerima paper bag yang di sodorkan Riyan ke tanganya.
"Hmmm,iya."
Jawab Riyan singkat.
__ADS_1
"Om sudah makan?"
Tanya Sofia.
"Sudah."
Jawab Riyan tak kalah singkat dari jawaban sebelumnya.
Mia sudah mulai sadar namun selama dua hari ini perkembangannya masih terus di pantau di ruang ICU,karena keadaannya yang masih sangat lemah.
Hari ini dokter bilang Mia sudah bisa di pindahkan ke ruang rawat inap biasa,dikarenakan keadaannya yang berangsur mulai membaik.
"Ma....mama mau makan apa?"
Tanya Felicia yang dengan telaten hendak mengambilkan bubur untuk mamanya.
"Makasih ya nak,kalian anak-anak yang sangat berbakti."
Sofia ikut tersenyum manis saat mendengar pujian dari mamanya.
"Oiya nak,bagaimana keadaan papa?"
Semua hanya terdiam saat mendengar pertanyaan dari mama mereka.
Mereka hanya diam?menunduk dan nampak Sofia menyeka air matanya sambil berpaling dari pandangan mamanya.
Sedangkan Felicia hanya diam memeluk sang mama sambil terisak.
"Ma,papa......."
Felicia tak kuasa meneruskan perkataannya,lidahnya terasa kelu dan bibirnya tak mampu berucap.
"Papa udah nggak ada ma"
__ADS_1
Sambung Sofia."
Seketika tangisan Mia pecah sejadi-jadinya.