
Saat dalam perjalanan Felicia dan Sofia asyik mengobrolkan tentang isi novel yang barusan mereka beli.
"Mah,habis ini kita mau kemana?"
Tanya Felicia.
"Pulang."
"Apa nggak pingin kemana dulu gitu?"
"Nggak,sudah malem sayang....mama capek pengen cepet istirahat."
"Om...om Riyan habis ini gak kepingin kemana-mana lagi gitu?"
Gantian Sofia yang mencerca pertanyaan ke Riyan.
"Emang kalian berdua pengennya habis ini om sama mama kalian kemana?"
To the point,satu tembakan Riyan mengenai sasaran dan membuat keduanya terdiam sejenak dengan wajah pucat pasi saling lempar pandang sambil tersenyum nyengir.
Tampak senyuman yang di paksa untuk menutupi kekalahan.
Melihat situasi kedua cucunya pak Suryo hanya tersenyum geli,pasalnya sejak awal pak Suryo sudah berusaha memperingatkan hal ini pada mereka.
"Hahhh.....! Sudahlah,mereka hanya ingin melihat kalian berdua bersama dan bahagia bersama mereka."
Sontak perkataan pak Suryo membuat suasana dalam mobil menjadi sunyi.
Tak ada obrolan ataupun celotehan dari para gadis remaja yang sedari tadi asyik mengobrolkan banyak hal.
__ADS_1
Selama perjalanan sampai kerumah suasana sangat sunyi seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam kendaraan berhawa dingin yang menambah kesunyian serta kehororan suasana.
Sesampainya dirumah Sofia dan Felicia lebih dahulu keluar dari mobil dan langsung berpamitan masuk ke kamar masing-masing.
Sementara pak Suryo meminta Mia dan Riyan untuk ke Ruang kerja pak Suryo.
Sepertinya ada hal yang begitu penting sehingga mereka berdua harus masuk kedalam ruangan yang memang teruntuk sesuatu yang penting dirumah ini.
Suasana tak kalah hening dengam kelas yang sedang ujian,keduanya hanya terdiam duduk di kursi seberang meja dari kursi yang diduduki pak Suryo.
Mia hanya tertunduk dalam diam,sementara Riyan kembali memandang papanya menunggu apa yang akan di katakan oleh papanya yang juga masih terdiam memandangi kedua manusia yang ada di depannya.
"Pa,sebenarnya apa yang ingin papa bicarakan pada kami?"
Riyan tak ingin berlama-lama menunggu apa yang akan di bicarakan papanya,karena dia sangat penasaran.
Pak Suryo terdiam,memandang ke langit-langit.
Seakan sedang menahan sesuatu agar tak menetes jatuh,atau lebih tepatnya menetes dari bola matanya yang nampak beberapa garis-garis gerutan keriput di sekitarnya.
"Mia....adakah keinginan dihatimu untuk menikah lagi nak?"
Mia masih terdiam,sejenak wajahnya sedikit terangkat untuk melihat mimik wajah sang mertua dan kembali merundukkan kepalanya.
Mia tak mampu memjawab sepatah kata pun pertanyaan yang nampak sesederhana itu namun sangat berat dihati Mia.
Hanya air mata yang mewakili segalanya.
Mia merasa apakah sang mertua ingin dirinya menikah lagi?atau justru sebaliknya.
__ADS_1
Mengingat Mia hanyalah menantu yang di ambil guna melunasi hutang-hutang mendiang kakeknya yang gila judi.
Apakah masih pantas Mia tinggal dirumah ini dengan predikat sebagai menantu?sedangkan suaminya sekarang sudah tiada.
Pikiran Mia berkecamuk,kepalanya mendadak terasa berat serta dadanya sangat sesak.
Bahkan untuk menghirup nafaspun Mia sampai tersengal-sengal karena menahan segala yang ia rasakan saat ini.
"Nak....papa tak tak akan melarangmu untuk menikah lagi,namun papa juga tak akan memaksamu.Kamu ini sudah ku anggap seperti putriku sendiri,bukan lagi menantu."
Ada sedikit kelegaan dihati Mia,meski begitu Mia masih tetap merasa bingung dengan posisinya sekarang.
^^^"Apakah papa berbicara demikian karena ulah kedua putri saya akhir-akhir ini"?^^^
Mia mulai memberanikan diri menjawab pertanyaan sang mertua.
Dadanya masih terasa sesak,karena ia masih merasa bayang-bayang Niko yang masih terus ia rasakan dirumah ini namun sang mertua mempertanyakan soal pernikahan.
Pak suryo hanya tersenyum.
Riyan pun hanya terdiam dengan segala keheranan yang ia lihat.
"Jangan bilang papa juga mau ikut-ikutan kayak mereka berdua mau menjodoh-jodohkan kami."
Riyan menghela nafas.
"Kalau iya memangnya kenapa? bukanya kamu dulu juga ingin merebutnya dari kakakmu!"
Riyan terdiam,menutupi rasa malunya.Mengingat kembali kebodohannya dimasa lalu.
__ADS_1