Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Rumah sakit


__ADS_3

Mia dan Riyan nampak serius membicarakan soal keadaan Felicia saat ini,mereka sudah berusaha mencari golongan darah yang cocok untuk Felicia mulai dari keluarga serta keluarga dekat bahkan juga rekan-rekan bisnis keluarga pak Suryo serta Riyan namun hasilnya nihil.


"Mia,bagaimana kalau kita coba share ke sosial media untuk mencari golongan darah yang cocok untuk Felicia?"


Riyan berusaha memberi usul.


Mia sejenak terdiam nampaknya sedang mempertimbangkan usulan dari Riyan saat ini,Mia nampak bigung apakah ini solusi yang tepat?


Mia justru takut jika hal seperti ini di manfaatkan oleh orang iseng,namun Mia tak ada pilihan lain kali ini dia harus berprasangka baik.


Siapa tau dengan begini akan ada seseorang di luar sana berhati malaikat berbai baik yang akan dengan suka rela bersedia mendonorkan darahnya untuk Felicia.


Tak ada banyak waktu,Felicia membutuhkan donor darah secepatnya.


Karena ini berurusan dengan nyawa,ya nyawa salah satu buah hatinya yang saat ini sedang berjuang untuk bertahan hidup.


"Baiklah Yan,semoga saja ada seseorang berhati malaikat yang mau mendonorkan darahnya untuk Felicia."


"Iya ,semoga saja.Kita sama-sama berdo'a saja ya."

__ADS_1


Riyan menggenggam tangan Mia,berusaha menenangkannya.


"Atau.....?"


Riyan menghentikan kata-katanya yang terasa menggantung da membuat Mia penasaran.


"Atau....atau apa Yan?"


Mia berusaha menelisik karena penasaran agar Riyan meneruskan perkataan dari Riyan yang terkesan menggantung.


"Mmmmmm...tidak,tidak ada."


Riyan hanya terdiam sejenak merasa bingung,apakah perlu dia lanjutkan perkataannya yang ia pendam sedari tadi karena takut mengungkit masa lalu serta tak enak hati jika nantinya justru akan menyinggung perasaan Mia.


"Yaudah kalau memang sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi saya pergi dulu."


Saat Mia hendak meninggalkan kursi yang di dudukinya Riyan segera menarik pergelangan tangannya.


"Bagaimana jika kita cari keluarga Jesika dan selingkuhannya itu?"

__ADS_1


Mia seketika kembali terduduk dan hanya terdiam sambil memandang lekat wajah Riyan.


"Lalu jika nanti mereka meminta Felicia bagaimana?"


"Bagaimana kita nantinya menjelaskan ke Felicia?bahkan dia tidak tau apapun soal masalalunya,setau dia aku dan mas Niko adalah orangtua kandungnya tidak ada yang lain."


"Aku paham,tapi ini adalah pilihan terakhir karena Felicia harus segera mendapatkan pendonor secepatnya."


Mia hanya diam nampak sedang memikirkan hal ini,karena memang benar ini menyangkut hidup anaknya yang harus sesegera mungkin mendapatkan pendonor yang memang tak semudah itu karena golongan darah Felicia tergolong langka.


"Baiklah,jika menang itu jalan terakhir keputusan ini juga harus di bicarakan dengan papa karena kita tidak bisa seenaknya mengambil keputusan seperti ini."


Mia segera meninggalkan Riyan di kantin dan segera kembali menuju ruang IGD dimana Felicia di rawat,Mia duduk terdiam di sebuah kursi tunggu panjang terbuat dari besi stenlis dimana Sofia dan Pak Suryo mertuanya yang sedari tadi masih dengan siaga menunggui kabar keadaan dari Felicia.


"Papa makan dulu ya,ini Sofia kamu juga makan.Mama nggak mau kamu nanti jadi ikutan sakit juga karena telat makan,mama ingin semua anak-anak mama baik-baik saja."


Sofia memaksakan diri untuk menyuapkan makanan yanh telah di beli oleh mamanya kedalam mulut,dia harus kuat untuk membantu mamanya menjaga Felicia sang kakak yang sedang sakit karenanya saat ini.


"Mama sendiri sudah makan?"

__ADS_1


Tanya Sofia pada mamanya,yang nampak sama paniknya saat ini dengannya.


__ADS_2