
Mia terus berjalan mundur seiring langkah Riyan yang semakin maju mendekat kearahnya,tanpa sadar mereka berdua sudah berada di dalam kamar mandi berdua.
"Minggir! aku mau keluar,kamu jangan kurang ajar Yan atau aku akan teriak!"
"Mau teriak? memangnya aku ngapain? bahkan menyentuhmu saja tidak."
Riyan masih saja menggoda Mia.
"Apakah kamu masih menyukai Deni,apakah kamu akan kembali padanya lagi?"
Riyan mencerca Mia dengan banyak pertanyaan yang tak mampu Mia jawab karena selain bingung akan menjawab apa,Mia juga dalam keadaan takut. Pasalnya sekarang Mia sedang dalam posisi yang tidak mengenakan serta sedang dalam keadaan yang tidak baik.
Tiba-tiba lampu mati,sepertinya sedang ada pemadaman.
Mia yang terkejut spontan mendekat ketubuh Riyan dan malah memeluk tubuh Riyan,bagaikan kejatuhan durian Riyan segera menyambut hangat pelukan Mia dengan senang hati.
"Hah,rupanya kamu takut gelap?"
Tanya Riyan dengan nada menggoda.
"Hmmm,kenapa pakai acara mati lampu segala sih ini?"
Gerutu Mia.
"Sepertinya takdir sedang berpihak padaku."
"Maksud kamu apa? jangan macem-macem kamu Yan! jangan mengambil kesempatan didalam kesempitan."
"Maksudnya apa aku mengambil kesempatan didalam kesempitan? bukankah aku tak melakukan apapun? kamu kan yang memelukku sedari tadi?"
__ADS_1
Mia segera melepaskan pelukannya dari Riyan saat lampu tiba-tiba menyala.
Riyan melotot melihat kearah Mia lalu segera memalingkan wajah dan berbalik badan sambil berjalan meninggalkan kamar Mia.
"Betulkan handukmu,segera berpakain dan kita makan malam bersama Sofia sudah menunggu dimeja makan."
Mia dengan gugup mengambil handuk yang tergolek di lantai untuk menutupi tubunya dengan wajah merah menahan rasa malu,karena ternyata handuknya secara tak sengaja terjatuh kelantai.
Ya ampun....jadi tadi Riyan melihat semuanya?
Batin Mia.
Setelah makan malam bersama,Mia mengusap layar hape dengan jarinya membuka beberapa pesan masuk ternyata pesan dari beberapa pelanggannya,dengan cepat Mia membalas satu persatu semua pesan-pesan penting dari para pelanggan tersebut.
Tok,tok,tok....
"Ma.....mama sudah tidur?"
"Belum sayang ada apa?"
"Boleh Sofia masuk ma?"
"Masuklah nak,pintunya belum dikunci."
Sofia muncul dibalik pintu,lalu datang dan memeluk mamanya.
"Ada apa sayang?"
"Mama capek ya?harus kerja,ngurusin kakak yang sakit juga."
__ADS_1
"Capek?kenapa mama harus capek? itu semua sudah menjadi tanggung jawab mama untuk semua yang mama sayang."
Mia membalas pelukan putrinya,lalu meletakkan hapenya di atas bantal.
"Ma....sebenarnya ada yang mau kutanyakan sama mama."
"Hmmmm,apa sayang?"
"Sebenarnya kami ini anak kandung mama nggak sih?"
Pertanyaan Sofia mengagetkan Mia.
"Hmmmmmmm? maksud kamu apa,tanya seperti itu?" Mia bertanya pada putrinya sambil memandang tajam kearah wajah putrinya.
"Aku dengar semuanya waktu kakak dirumah sakit ma,apa benar kalau kak Felicia itu bukan anak kandung mama? lalu aku?"
"Apa yang kamu dengar nak?"
"Semuanya ma,waktu itu Sofia sepulang sekolah berniat menjenguk kakak tapi malah dengar semuanya."
Mia perlahan menjelaskan kebenarannya,bahwa memang Felicia bukanlah putri kandungnya karena mama Felicia telah tiada sejak dia masih bayi.
"Itu berarti Kakak anaknya om Riyan ya ma?"
Mia hanya menganggukkan kepala.
"Tapi,kenapa golongan darah kakak berbeda dengan om Riyan?"
"Kamu belum cukup dewasa untuk memahami semua ini nak,istirahatlah hari sudah larut besok kamu kan harus bangun pagi dan berangkat kesekolah."
__ADS_1
Sofia menurut lalu berpamitan untuk kembali kekamarnya.