Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Papa Suryo


__ADS_3

"Makanannya sudah habis,sekarang papa minum obatnya ya."


Dengan telaten Mia menyuapi serta memberi mertuanya obat.


"Papa istirahat ya,Mia mau urus Felicia."


Pak Suryo memegang pergelangan tangan Mia untuk mencegahnya pergi meninggalkan kamar mertuanya.


"Papa mau bicara penting sama kamu."


"Iya,papa mau bicara apa?"


Tanya Mia sembari meletakkan baki di meja dekat tempat tidur mertuanya.


"Apakah kamu bahagia selama menikah dengan anakku?"


Mia tertegun sejenah,menghela nafas panjang memalingkan wajahnya seketika lalu melihat keatas bukan memperhatikan langit-langit di kamar mertuanya namun untuk menahan air matanya agar tak tumpah di depan sang mertua.


"Kenapa papa tanya seperti itu?"


"Papa benar-benar merasa bersalah nak,karena keegoisan papa yang ingin melihat Niko menikah papa jadi menghancurkan masa mudamu dulu."


"Maksud papa apa?"


"Deni sudah bilang semuanya kemarin sama papa."


"Pa....."


"Nak,kamu berhak bahagia dengan siapapun pilihanmu."


Mia hanya terdiam sambil sesekali menyeka pipinya yang sudah basah oleh air mata yang entah sejak kapan sudah mengalir disana membuat pipinya basah.

__ADS_1


"Dulu kamu memang menantu di keluarga ini,tapi sekarang kamu bukan lagi menantuku,melainkan......."


Mia hanya terdiam memandang wajah mertuanya yang sudah renta.


"Kamu sekarang adalah putriku nak,kamu adalah putriku sejak Niko pergi."


Mia menangis sejadi-jadinya dihadapan sang mertua,entah apa yang di fikirkannya saat ini hingga mulutnya tak mampu lagi berkata-kata.


"Terima kasih pa,tapi Mia cukup bagaia seperti ini."


"Lalu bagaimana dengan Deni? sekian lama dia menunggumu,bahkan dia bilang sampai saat ini perasaannya padamu tak pernah berubah."


"Pa......Mia tak pernah berfikir sejauh itu,karena Mia sadar diri siapa Mia ini."


"Apakah kamu masih mecintainya?"


Mia hanya terdiam,mengambil kembali bakinya lalu berpamitan dengan mertuanya.


"Maaf,Mia permisi keluar dulu pa."


Kembali melanjutkan aktivitasnya untuk mengurus anak-anaknya,membantu menyiapkan bekal untuk Sofia sekolah serta mengurus Felicia sebelum melanjutkan aktivitasnya di toko kuenya.


Ya,begitulah Mia meski dia adalah menantu seorang pengusaha kaya sebenarnya tak perlu lagi dia repot mengerjakan ini dan itu sendiri,namun sudah menjadi tekatnya untuk menjadi menantu,istri serta ibu yang baik di keluarga ini.


Mia tak mau di anggap semena-mena dan tak tau diri,meski di rumah tersebut ada beberapa asisten rumah tangga yang bisa saja Mia tinggal menyuruh mereka tanpa repot mengerjakan segala sesuatunya sendiri.


Sejak kecil Mia sudah di biasakan hidup mandiri oleh neneknya,karena memang Mia kecil lahir dari keluarga sederhana dan meski kini dia telah menjadi menantu orang kaya pun Mia tetaplah Mia yang mandiri.


Saat sedang bersiap ke toko kue,secara tak sengaja Mia bertabrakan dengan Riyan di depan kamar Felicia.


Saat itu Mia hendak keluar sedangkan Riyan akan masuk kekamar Felicia untuk melihat keadaan Felicia yang entak sejak kapan Riyan mulai begitu perhatian dengan Felicia akhir-akhir ini.

__ADS_1


Brugh!


"Aduh!"


Mia jatuh tersungkur kelantai karena tubuhnya menabrak tubuh Riyan yang jauh lebih besar darinya.


"Maaf,maaf,aku nggak sengaja.Sini aku bantu kamu bangun"


Ucap Riyan seraya meraih tangan Mia dan membatu Mia bangun dari lantai.


Mia hanya sibuk merapikan serta membersihkan dirinya,tanpa dia sadari Riyan yang masih berdiri dihadapannya hanya terdiam memperhatikannya.


Merasa ada yang tak beres dengan Mia,Riyan memegang dagu Mia lalu mengangkat wajahnya.


"Kamu mau apa?!"


Mia berusaha menepis tangan Riyan namun kalah kuat.


"Kamu yang kenapa? Habis menangis? Ada apa?"


"Bukan urusanmu,lepaskan tanganmu! Aku ini kakak iparmu bersikaplah sopan padaku!"


Dengan ketus Mia melepaskan tangan Riyan dari dagunya.


Hal tersebut bukannya membuat Riyan menjauh namun justru malah membuatnya semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Mia,sedangkan Mia hanya bisa mundur hingga punggungnya mentok pada sebuah tembok dibelakangnya.


Riyan semakin maju hingga membuat tubuh mereka nyaris saling menempel karena Mia sudah tak lagi bisa mundur,punggungnya sudah menempel pada dinding sedangkan Riyan masih terus maju untuk mendekarkan dirinya dengan Mia.


"Kamu mau apa?jangan bersikap kurang ajar padaku!"


Ucap Mia dengan wajah tegang penuh rasa kakut yang hanya bisa menundukkan kepalanya dihadapan Riyan.

__ADS_1


"Aku hanya butuh jawaban dari pertanyaanku tadi kakak ipar."


Bisik Riyan ketelinga Mia bahkan dia semakin memajukan wajahnya kearah Mia,membuat Mia semakin ketakutan dengan tingkah Riyan.


__ADS_2