Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Makan malam


__ADS_3

Saat membagi-bagikan roti serta air mineral,Mia memandangi sosok wanita yang tak asing baginya.


Mia melebarkan senyumanya sambil berjalan membawa beberapa roti dan air minum untuk bu Asih.


"Bu,ini dimakan ya."


Bu Asih sejenak memandangi wajah ayu Mia,entah kenapa setiap kali bertemu Mia rasa rindu yang membara di hati bu Asih seakan terasa damai dan sejuk seperti bertemu oase di tengah hamparan gurun pasir.


"Terima kasih nak Mia,terima kasih banyak"


Bu Asih segera menerima pemberian Mia sambil berpaling menyeka air matanya.


Hari ini bu Asih tak begitu beruntung karena sejak kemaren dan seharian ini tak banyak barang bekas yang dapat ia pungut,jadi sejak pagi ia harus menahan lapar karena tak ada uang untuknya membeli makan.


Beruntung sekali karena malam ini ia akan tidur pulas tanpa menahan rasa lapar.


"Ma....semuanya sudah habis dibagikan,kita pulang sekarang?"


Tanya Sofia mengagetkan Mia yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.


"Iya nak,lagipula langit mulai gelap sepertinya akan hujan."


Mia segera berpamitan dengan bu Asih dan meninggalkan taman bersama anak-anaknya serta kedua karyawati toko dimana mereka bekerja.


"Pak sopir kita antarkan Tina dan Sari dulu ya kerumah mereka."


"Baik nyoya."

__ADS_1


"Terima kasih bu."


Ucap Sari.


"Iya bu,terima kasih.Sebaiknya kami naik angkot saja nggak enak ngrepotin bu Mia terus."


"Harusnya saya yang berterima kasih pada kalian,karena selalu membantu saya meski diluar jam kerja kalian seperti hari ini."


Jawab Miq sambil tersenyum.


Sebenarnya Mia tak cuma mengantarkan kedua karyawatinya pulang dengan aman sampai kerumah masing-masing setiap selesai acara amal,tetapi Mia juga memberikan sedikit bonus uang lembur untuk keduanya meski setiap hari jum'at toko justru tutup lebih awal dari biasanya.


Hal itu yang membuat kedua karyawatinya betah bekerja di tempat Mia menjual kue dan rotinya.


"Oiya ma,setelah ini kami berencana mengajak mama makan malam bersama di luar bareng kakek dan Om Riyan juga.Gimana,mama bisa?"


Tanya Sofia sambil melirik kakaknya yang duduk di sebelah mamaya.


Tanya Mia curiga karena Sofia dan Felicia saling lempar senyum.


"Nggak papa kok ma,kan kita sudah lama nggak pernah makan bareng-bareng diluar."


"Benar juga"


Batin Mia.


Memang sejak kepergian Almarhum Niko Mia lebih menyibukkan diri di toko daripada hanya sekedar jalan-jalan atau makan diluar.

__ADS_1


Mia sengaja menyibukkan diri supaya tak terlalu berlarut-larut memikirkan kepergian Niko.


Malam pun tiba.


Pak Suryo,Mia serta kedua buah hatinya pergi bersama dalam satu mobil yang dikendarai Riyan menuju sebuah restoran ternama di kota tempat mereka tinggal.


Sesampainya di restoran Mia di perlakukan bak ibu ratu oleh kedua putrinya,pak Suryo sampai geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat tingkah kedua cucu manisnya.


Sofia dan Felicia menarikkan kursi untuk Mia duduk serta memaksa sang mama duduk tepat di kursi sebelah kursi Riyan.


"Kak,temenin aku ke toilet yuk...!"


Ajak Sofia ke Felicia,dan Felicia menurut saja saat sang adik menarik tangannya menuju toilet.


Riyan segera memanggil pelayan untuk meminta buku menu,sementara menunggu Sofia dan Felicia dari toilet mereka bertiga sibuk memilih-milih makanan yang akan mereka pesan.


"Kok mereka lama ya,ke toiletnya?"


Mia merasa sedikit cemas dengan kedua putrinya karena lama tak kunjung keluar dari toilet.


Saat Mia hendak bangkit dari duduknya,pak Suryo berusaha mencegah.


"Biar saya saja yang melihat mereka,sekalian juga mau ketoilet."


"Tapi......apa iya papa mau liat mereka ke toilet perempuan?"


"Udah.....kamu disini saja."

__ADS_1


"Iya pa."


Sekarang tinggallah Mia dan Riyan duduk berdua disana.


__ADS_2