Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Kisah Dion


__ADS_3

Siang itu Nina sudah bersiap untuk keluar dari rumah sakit,Deni dan mamanya sudah menjemputnya.


Deni sedang mengurus administrasi,sedangkan mamanya menunggui di ruang rawat Nina.


"Ayo kita pulang."


Deni menggiring keduanya dari belakang menuju parkiran.


Nina berjalan dengan ragu dalam gandengan mamanya Deni.


Hatinya masih bimbang,apakah keputusannya sudah tepay dengan tinggal dirumah orang asing ini?


Tapi pada kenyataannya mereka sangat baik dan begitu peduli padanya.


"Bu......saya nggak mungkin tinggal dirumah ibu dengan gratis begitu saja."


Mama Deni hanya tersenyum sambil mengelus punggung tangan Nina.


"Biarkan saya menjadi pelayan dirumah ibu."


"Dirumah kami sudah ada pelayan nak."

__ADS_1


"Nggak papa bu biar saya menebus kebaikan kalian,hanya ini yang bisa saya lakukan sebagai ungkapan rasa terima kasih saya."


"Nggak perlu nak,kamu kan sedang hamil muda tak perlu bekerja terlalu keras.Kamj harus menjaga baik-baik kandunganmu."


Mobil Deni berhenti disebuah rumah yang tak terlalu besar berlantai dua namun halamannya lumayan luas dengan berbagai pepohonan tumbuh rapi disana.


Netra Nina melihat sekeliling,memang rumah ini tak sebesar dan tak semewah rumah orang tuanya,namun rumah ini cukup asri dan terasa damai terlihat dari para penghuninya yang membuatnya nyaman dan merasa betah tinggal di dalamnya.


Meski mama Deni melarang Nina membantu mengerjakan pekerjaan rumah,namun Nina tetap tak mau berdiam diri meski kandungannya sudah menginjak hampir tujuh bulan.


Hal itu begitu terlihat seiring perutnya yang kian membuncit.


Ada yang berfikir bahwa Nina adalah selingkuhan papanya Deni,ada pula yang berfikir bahwa janin yang Nina kandung adalah anak Deni.


Namun keluarga mereka tak ambil pusing,sebab mereka sudah mengatakan kejadian yang sebenarnya pada RT serta RW setempat dan mereka memakluminya.


Karena meras kasihan Deni berencana mengadopsi anak yang kelak akan di lahirkan Nina,namun orang tua Deni justru mengusulkan jika Deni lebih baik menikahi Nina saja setelah bayi itu lahir karena dimata orang tua Deni Nina adalah gadias yang baik.


Namun Deni menolaknya karena dihatinya Mia adalah satu-satunya wanita yang ia cintai.


Namun takdir berkata lain,karena Nina meninggal dunia sesaat setelah melahirkan bayinya.

__ADS_1


Pendarahan hebat serta kondisi Nina yang semakin lemah membuatnya tak mampu bertahan hidup untuk membesarkan buah hatinya sampai dewasa.


Keluarga Deni sangat merasa kehilangan serta merasa bersalah karena tak mampu mendatangkan satupun keluarga Nina di saat terakhirnya.


Keluarga Deni sudah berusaha memberikan kabar soal keadaan Nina yang kian memburuk namun tak satupun diantara mereka yang mau membuka hati untuk menemui Nina,dimata mereka semua Nina adalah seorang gadis hina yang rela memberika kehormatannya untuk kekasihnya,dimata keluarganya zina adalah dosa yang tak terampuni serta mempermalukan nama baik keluarga.


Betapa malangnya nasib Nina,disaat seperti inipun tak satupun keluarganya yang bisa memahami serta mau mengerti keadaannya.


Air mata Deni seketika menetes tanpa bisa dibendung saat mengingat apa yang Nina lalui dikeluarganya,setiap kali melihat tampang lucu diwajah mungil Dion hati Deni bergetar seakan mata Nina ada di dalam wajah Dion.


"Kamu anak baik dan sangat pintar nak"


Gumam Deni seraya mengusap rambut di ujung kepala Dion yang sedang terlelap dipangkuannya.


Mungkin karena telalu lelah bermain sore tadi.


Segera Deni menggendong putranya lalu membawanya menuju kamar berwarna biru bergambar manusia laba-laba berkostum merah dan biru sesuai kesukaan Dion.


"Selamat malam jagoannya papa."


Dikecupnya rambut diujung kepala putranya.Lalu meninggalkannya yang telah terlelap.

__ADS_1


__ADS_2