
Saat kepulangan Mia tiba,Niko sudah mulai bisa berjalan tanpa tongkat meski terkadang jika berjalan agak lama kakinya merasa semakin lemas sehingga dokter belum memperbolehkannya berjalan lama.
Ia berniat memberi kejutan untuk Mia nanti saat Mia sampai dirumah.
Sore pu tiba Saat mobil yang di tumpangi Mia dan Nenekya berhenti dan terparkir tepat di halaman rumah mewah milik pak Suryo.
Mia di kejutkan oleh seorang pria tinggi bercelana pendek sedang menyiram tanaman,awalnya Mia tak terlalu menggibrisnya mungkin tukang kebun tapi kok kelihatannya beda sekali dilihat dari perawakannya sepertinya bukan tukang kebun biasa,karena pria tersebut berdiri membelakangi Mia jadi mia tak dapat melihat dengan jelas.
Saat membawa masuk kedalam rumah Mia segera membawa neneknya menuju kamar untuk beristirahat,saat melihat memasuki kamarnya Mia terkejut karena kursi roda dan tongkat milik Niko teronggok di sudut ruangan.
"Kemana dia?apa mungkin dia berjalan tanpa tingkat atau kursi rodanya?"gumam Mia dalam hati.
Mia segera keluar kamar mencari Niko ke ruang TV mungkin saja Niko ada di sana sedang santai menonton TV pikirnya,tapi tak di dapatinya Niko disana sedangkan Niko yang mulai lelah berpura pura menyiram tanaman namun tak di kenali Mia sedang duduk santai di kursi teras mengusir rasa kecewanya sendiri.
Mia kembali ke kamar mencari Niko di setiap sudut mungkin saja Niko ngumpet pikirnya seperti anak kecil aja main petak umpet atau mungkin matanya kurang jeli mencari keberadaan Niko.
"Kalau tongkat dan kursi rodanya saja ada di kamar berarti orangnya juga di kamar" Gumam Mia sendiri sambil clingk clinguk mencari Niko yang tak kunjung ia temukan.
Saat Mia hendak keluar kamar menanyakan keberadaan Niko pada para pelayan.
"Bruk!"
"aduh...!"Tubuh Mia menabrak seseorang dan hampir terjatuh,spontan seseorang yang menabraknya langsung meraih tubuh Mia kedalam pelukannya,persis seperti adegan romantis di dalam film atau sinetron.
__ADS_1
Mata Mia terbelalak kaget saat mengetahui orang yang menabraknya adalah Niko,ya Niko berjalan tanpa tongkat ataupun kursi roda.
Mia begitu terkejut melihatnya,Niko segera menuntun Mia masuk kedalam kamar dan menutupnya dengan rapat tanpa melepaskan tubuh Mia dari pelukannya.
Mia yang di perlakukan demikian oleh suaminya hanya bisa diam pasrah,mengontrol degup jantungnya yang semakin kencang hampir terlepas dari raganya.
"Mas,Niko......"Cup....!
Bibir Niko segera mengecup lembut bibir Mia,Mia hanya bisa pasrah memejamkan matanya menikmati ciuman Niko.
"Aku merindukanmu Mia,aku menyayangimu.
Baru beberapa hari saja tanpamu rasanya aku seperti orang gila."
Dengan berlutut di depan kaki Mia,Niko mengulurkan tangan kanannya yang sedang membawa cincin.
"Mia....maukah kau menerimaku sebagai suamimu?"Mia hanya tersenyum,tak dapat ia menyembunyikan rona merah di pipinya karena malu sekaligus terharu atas perlakuan Niko.
"Bukankah selama ini aku sudah menerimamu sebagai suamiku.....Mas.
Apakah perlu kita mendatangkan penghulu untuk yang kedua kalinya,agar kita benar benar sah menjadi suami istri?"tanya Mia pura pura tak memgerti dengan apa yang Niko ucapkan.
"Mia...coba sekali lagi ucapkan kata katamu yang tadi"
__ADS_1
"Yang mana?"tanya Mia bingung.
"Yang sebelum kamu membahas soal penghulu"
"Menerimamu sebagai suamiku?"
"Bukan....bukan itu,yang setelahnya"tegas Niko agar Mia mengingat kata katanya yang barusan di ucapkan.
"Yang mana sih?"
"Panggil aku Mas jika kamu memang menyukaiku,dan mau menerimaku sebagai suamimu yang sebenarnya."
"Mmmmmmmm....."Mia masih menggantungkan kata katanya,sedangkan Niko masih menunggu sambil berjongkok di depan Mia.
"Ayo lah Mia.....Kakiku sudah mulai lemas,dokter belum memperbolehkan kakiku terlalu capek."
"Baiklah....ayo bangun dulu."
"Nggak mau,aku nggak akan bangun sampai kau memberi jawaban."kata Niko menunggu jawaban dari Mia.
"Baiklah,aku........"
"Aku menerimamu mas."Mia masih tertunduk malu saat menjawabnya,ada perasaan tak percaya atas perkataanya sendiri namun ia mengatakannya dengan tanpa ragu.
__ADS_1