Tumbal Hutang

Tumbal Hutang
Kakek pulang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah,Mia hany terdiam memikirkan perkataan Deni dan mulai memikirkan perasaannya yang mulai tak karuan.


Apakah sanggup dia jauh dari Deni yang selama ini selalu menemaninya,selalu ada untuknya.


Kenapa aku bodoh sekali kalau pun Deni harus pergi toh suatu saat dia akan kembali kan?Tak mungkin selamanya tak bisa ketemu lagi kan?Dia hanya mampu bergumam dalam hati.Sesampainya di rumah, Mia masih saja melamun sampai sampai dia tidak mendengarkan neneknya ketika di ajak bicara.


"Mia! kamu kenapa,kesambet apa?sejak dari pulang sekolah tadi melamun aja nenek liatin.Apa ada masalah di sekolahmu nak?" Nenek nya terlihat bingung karena Mia hanya diam dan tiba tiba memeluk neneknya.


Kenapa anak ini?tak biasanya dia seperti ini gumam neneknya dalam hati.


Bahkan sejak kecil Mia bukanlah anak manja yang suka merengek ketika menginginkan sesuatu atau sedang ada masalah selalu dia pendam sendiri karena tak mau mmbebani pikiran sang nenek.


Tiba tiba,


"braakk....!


Suara seseorang menendang pintu dengan keras,membuat Mia dan neneknya kaget sampai terperanjak dari duduknya.

__ADS_1


"Sialan!kalah lagi.....kalah lagi....!kurang ajar,pasti mereka main curang"


"bruk...."


kakek Mia terjatuh atas kursi panjang d sebelah mia duduk,matanya terpejam dan bau alkohol melumuri seluruh tubuhnya.


Kakek Mia memang jarang pulang,sekalinya pulang hanya minta uang untuk judi dan mabuk.


"sudah tua bukanya tobat,kelakuannya malah semakin menjadi jadi"gumam nia pelan karena kesal setiap kali melihat kakeknya pulang selalu dalam keadaan seperti ini.


"Ssssstttt.....sudah lah mia,bagaimana pun dia kakekmu,memang sudah wataknya seperti itu"jawab neneknya yang tak kalah pelan dengan gumaman Mia tadi,seakan mereka seperti sedang mengobrol sambil berbisik.


"Nenek kenapa kok matanya sembab?apa kakek yang melakukannya?"


Mia hafal betul setiap kali kakeknya pulang pasti hanya meminta uang atau barang yang bisa di jual untuk di jadikan uang.


Pagi itu nenek tiba tiba mendekati mia dan memeluk erat tubuh gadis itu.

__ADS_1


"mia......kalau sampai rumah ini harus benar benar tarjual kita mau tinggal di mana?" ucap nenek sambil menyeka air matanya.


"Apa! rumah ini mau di jual?memangnya kenapa rumah ini harus di jual?lalu kita mau tinggal dimana?"


"Kakekmu kalah judi,dan punya banyak hutang.kita sudah tidak punya apa apa lagi untuk di jadikan jaminan hutang."


Nenek hanya bisa menghela nafas panjang.


mia segera berpamitan dan melangkahkan kakinya menuju sekolah,saat deni datang menghampiri Mia,dia hanya diam merenung memikirkan bagaimana nasibnya dan neneknya nnti kalau sampai rumahnya benar benar di jadikan pelunas hutang.


"Hey.....Mia.....mi.....aaaa......"Deni menyenggol lengan mia yang masih diam melamun d bangkunya.


"HHHmmmm"Mia tak menggubris apapun dan siapapun pikirannya melayang mencari cara untuk melunasi hutang kakeknya atau setikdaknya cara agar tetap bisa tinggal disana.


"kamu kenapa sih?dari tadi bengong aj,nanti kesambet lho"mia hanya tersenyum garing menanggapi celotehan deni,sampai saat jam pulang sekolah mia masih tidak bisa konsentrasi dengan pelajarannya di sekolah,pikirannya kacau.


Deni yang memperhatikan mia dari pagi hanya bisa menebak nebak apa yang sedang di pikirkan mia.

__ADS_1


Deni mengira diamnya mia karena memikirkan rencana kepergian deni intuk melanjutkan pendidikan ke luar negri,tapi tebakan deni tidak seutuhnya benar meski tidak seratus persen salah juga.


__ADS_2