
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
Di Pemakaman
“Hai Pa, Ma! Maaf Zizi baru datang menemui kalian setelah 3 tahun. Hehe sekarang Zizi sudah kembali dengan gelar S2 jurusan Arsitektur. Papa dan mama pasti bahagia bukan? Harus bahagialah. Kan selama ini papa dan mama juga mengharapkan ini dari Zizi.” Ucap Zishu ketika sudah sampai tepat di antara kedua makam orang tuanya.
Ia meletakkan dua buket bunga mawar di masing-masing makam orang tuanya. Apa yang di lakukannya tidak lepas dari tatapan Chen.
“Sebentar lagi Zizi akan berusia 18 tahun. Itu berarti Zizi akan menjalani tahap selanjutnya. Menjadi arsitek sekaligus pemimpin perusahaan keluarga kita. Semoga Zizi tidak mengecewakan papa dan mama ya!” lanjutnya dengan senyum merekah.
Tangannya mengelus kedua pusara orang tuanya. Senyuman memang di perlihatkannya tapi tatapannya tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Zishu berusaha kuat untuk orang tuanya. Tidak akan ia biarkan orang tuanya melihatnya bersedih.
“Kakak yakin kamu tidak akan mengecewakan mereka. Mereka pun yakin akan hal itu. Kenapa? Sebab putri mereka adalah seseorang yang akan berusaha selagi bisa. Semampunya tidak akan membuat orang tersayangnya kecewa,” Chen berjongkok di samping Zishu, ia tersenyum tulus. Tangannya mengelus lembut pucuk kepala majikan yang sudah di anggapnya sebagai adiknya sendiri.
Ucapan Chen tidak sekedar di mulut saja tapi itu memang benar adanya. Ia melihat sendiri betapa gigihnya Zishu selama ini dalam usahanya untuk mendapatkan apa pun, selagi hal itu benar. Zishu bukan gadis yang akan menyerah begitu saja. Selama ia bisa, tidak akan terdengar kata menyerah dari mulutnya.
“Aku juga berharap itu, kak!” timpal Zishu tanpa menatap ke arah Chen.
Matanya terus menatap kedua pusara orang tuanya. Kesedihan tidak bisa di tutupi dari tatapannya. Terdapat juga tatapan kerinduannya dan Chen melihat jelas akan hal itu.
“Kamu merindukan mereka?” tanya Chen membuat hati Zishu tiba-tiba terenyuh.
Rindu, kata yang terdengar mudah untuk di ucapkan tapi sebenarnya sangat berat di rasakan. Ya, Zishu merasakan rindu. Rindu akan kehadiran orang tuanya. Namun ia sadar, takdir kehidupan sudah menentukan jalan hidupnya. Satu hal tersisa yang dapat di lakukan Zishu adalah menerima kenyataan dan melanjutkan hidupnya.
“Hahaha pertanyaan kakak terlalu konyol! Mana ada anak yang merindukan orang tuanya. Kakak juga merindukan orang tua kakak bukan? Begitulah yang aku rasakan. Aku rindu kehadiran mereka. Segala hal tentang mereka, ku rindukan. Namun aku sadar akan situasi yang tidak akan pernah bisa membuat mereka kembali. Jadi biarlah rindu ini terus ada agar aku selalu mengingat mereka.” Zishu tertawa pilu mendapat pertanyaan dari Chen.
__ADS_1
“Maaf! Kakak seharusnya tidak mempertanyakan itu,” ungkap Chen merasa bersalah.
“Santai saja, kak. Tidak perlu minta maaf! Kakak juga tidak berbuat salah,” ucap Zishu setelah berhenti tertawa. Ia tersenyum tulus ke arah Chen.
“Sudahlah kak! Sebaiknya kita pergi sekarang. Takutnya nanti ada yang melihat kedatanganku,” lanjutnya sembari beranjak berdiri.
“Kawasan pemakaman sudah di amankan para bawahan kita. Jadi kamu bisa berlama-lama di sini tanpa mengkhawatirkan hal itu lagi,” sahut Chen, ikut beranjak berdiri.
Sebelumnya Chen memang memerintahkan para bawahannya untuk mengikuti mereka dengan jaga jarak. Sehingga kawasan atau tempat yang ingin di datangi Zishu, dapat di pastikan aman. Aman dari para suruhan kedua keluarga paman Zishu yang selalu memantau.
“Aku sudah merasa cukup berada di sini. Jadi ayo kita pergi, kak!” ajak Zishu tersenyum. Sebenarnya apa yang di ucapkannya barusan, bertolak belakang dengan keinginan hatinya.
“Em baiklah,” Chen mengangguk setuju, meski tahu kalau sebenarnya Zishu masih ingin berada di sini.
“Zizi pergi dulu ya! Papa dan mama yang tenang di sana. Jangan memikirkan Zizi di sini! Zizi pasti bisa melewati ini semua,” Zishu berpamitan pada makam kedua orang tuanya.
Setelah itu Zishu pergi dari kedua makam orang tuanya. Di ikuti Chen yang berjalan berdampingan dengannya. Keduanya berjalan menuju ke arah mobil yang tadi di bawa.
“Selanjutnya, mau ke mana?” tanya Chen membuka pembicaraan kembali.
“Beijing Botanical Garden,” jawab Zishu sembari terus berjalan.
Beijing Botanical Garden merupakan taman botani yang berada di pinggiran barat laut Beijing. Luas areanya sekitar 400 hektar. Terletak di antara Fragrant Hills Park(Xiangshan Park) dan Jade Spring Hill pada Distrik Haidan. Taman ini di bangun sejak tahun 1955. Terdapat berbagai macam aneka tumbuh-tumbuhan dan pepohonan. Dari kebun mawar, taman pohon, tanaman langka, tanaman anggur, kebun ramuan obat tradisional Cina hingga rumah kaca untuk tanaman tropis dan subtropis.
“Tepat sekali kalau kita datang ke sana. Bunga-bunga sedang bermekaran. Sangat indah pemandangannya tapi di sana terlalu ramai. Para bawahan kita mungkin tidak dapat sepenuhnya mengendalikan situasi di sana. Sebaiknya kita menggunakan penyamaran,” ucap Chen yang sekarang sedang menekan tombol membuka otomatis pintu mobil.
“Ya memang harus melakukan penyamaran. Kalau tidak, takutnya bukan aku yang akan ketahuan. Melainkan kakak yang menjadi pusat perhatian banyak orang,” Zishu segera masuk ke dalam mobil, setelah pintunya terbuka otomatis.
__ADS_1
“Ha kenapa jadi kakak?” tanya Chen polos. Ia tidak sadar lagi akan posisinya sebagai wakil Presider perusahaan Yan Group.
“Secara kan kakak menjabat sebagai wakil pemimpin perusahaan Yan Group. Siapa yang tidak mengenal kakak? Seorang wakil Presider dengan ketampanan sempurna. Memiliki kepintaran di rata-rata dan pesona luar biasa. Sayangnya sampai sekarang masih belum mempunyai pasangan. Jadi takutnya jika ada orang yang mengenali kakak dan melihat kalau sedang bersamaku. Mungkin akan ada rumor tersebar, kalau kakak sedang kencan dengan seorang perempuan misterius.” cerocos Zishu panjang lebar membuat Chen melongo.
“Kamu ini terlalu berlebihan memuji kakak. Lagian lebih baik kakak di rumorkan seperti itu. Biar tidak ada lagi perempuan yang mengejar kakak!” seru Chen yang sudah duduk di kursi kemudi. Pintu mobil pun otomatis tertutup kembali.
“Wah jadi kakak ingin menjadikan ku sebagai perisai? Lalu bayaran apa yang akan ku dapatkan untuk itu?” tanya Zishu dengan memainkan kedua alasannya.
“Kakak akan memberikan apa pun yang kamu inginkan,” jawab Chen, bersamaan dengan mulai mengemudikan mobil. Sabuk pengaman sudah terpasang di tubuhnya, begitu juga Zishu.
“Really?” tanya Zishu memastikan.
“Yes!” jawab Chen tanpa menatap ke arah Zishu. Ia fokus mengemudikan mobil.
“Baiklah, aku akan tagih bayaranku di hari ulang tahunku. Ku harap kakak tidak ingkar ya!” harap Zishu
“Kakak tidak akan ingkar!”
Kemudian tidak ada lagi sahutan dari Zishu. Seketika suasana di dalam mobil menjadi hening. Zishu sibuk menatap ke arah luar jendela. Sedangkan Chen fokus mengemudi. Tidak jauh dari belakang mobil mereka, ada sebuah mobil yang mengikuti. Mobil itu tidak lain adalah mobil yang terdapat para bawahan keluarga Yan utama. Khususnya para bawahan Chen yang bertugas untuk menjaga.
Mobil yang Chen kemudikan, melaju dengan kecepatan sedang menuju Beijing Botanical Garden. Mobil para bawahannya pun melaju dengan tetap menjaga jarak, seperti yang di perintahkan Chen.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
__ADS_1
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...