
...|•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
Terlepas dari membalas pesan Lui dan Chen, Zishu juga membalas pesan beberapa orang lainnya. Setelah itu tidak ada lagi kegiatan berbalas pesan sebab ia menyibukkan diri dengan mengulur beranda media sosialnya. Meski tidak ada yang menarik di sana.
30 menit berlalu
“Kita sudah sampai, nona!” beritahu sang sopir ketika Zishu tidak menyadari bahwa mobil telah berhenti tepat di depan bangunan proyek. Sedari tadi Zishu masih sibuk dengan ponselnya.
Sontak Zishu mendongakkan kepala dan mengalihkan tatapannya dari ponsel. “Ah baiklah, pak!”
Sang sopir bergegas turun untuk membukakan pintu mobil. Zishu turun dari mobil seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
“Terima kasih,” sambungnya pada sang sopir yang berdiri tegak di samping mobil.
“Sama-sama, nona!”
Kemudian Zishu berjalan memasuki bangunan proyek dan tentu saja di kepalanya kembali terpasang Safety Helmet. Bangunan proyek lumayan sepi. Hanya orang-orang penting proyek yang masih tersisa di sana dan mereka tampak sibuk menyiapkan laporan untuk di berikan pada saat metting nanti.
“Nona—Anda sudah kembali?” tanya Mian yang tengah berjalan menghampirinya dari arah berlawanan.
“Iya. Bagaimana tugasmu tadi?” tanya balik Zishu.
Mian mengangguk. “Para pekerja sudah pulang, nona. Di sini hanya tersisa orang-orang penting di proyek,”
“Baguslah. Sekarang kau bisa pergi untuk membuat laporan juga! Metting hari ini harus terdapat semua laporan tentang proyek. Aku tidak ingin ada yang tertinggal. Kamu mengerti itu, kan?” perintah Zishu bernada serius.
“Saya mengerti, nona!” sahut Mian dengan cepat.
“Kalau begitu pergilah! Aku akan berkeliling sekali lagi di sini,” ucap Zishu yang langsung di angguki oleh Mian. Sebelum ia pergi untuk membuat laporan proyek. Tanggung jawabnya sebagai pengawas tentu tidak lebih berat dari tuan Ming atau pun tuan Ming. Matanya harus teliti dalam mengawasi proyek. Tetapi kejadian hari ini di luar dari pengawasannya dan itu sangat ia sesali.
Seperginya Mian, Zishu juga kembali lanjut berjalan memasuki bangunan proyek. Kali ini ia berkeliling untuk memastikan bahwa tidak ada yang terlewatkan dari pengawasannya.
***
Di saat jam makan siang, Zishu pergi ke restoran terdekat bersama Mian. Tuan Ming dan beberapa orang lainnya juga ikut tapi menggunakan mobil berbeda. Mereka akan makan siang, sekaligus metting di salah satu ruang VIP di restoran tersebut. Padahal kebiasaan Zishu saat pergi ke restoran, tidak terlalu suka memesan ruang VIP. Namun kali ini berbeda, mengingat mereka bukan sekedar makan saja. Metting akan lebih nyaman di laksanakan di ruangan yang tenang. Oleh karena itu, Zishu memesan salah satu ruang VIP di restoran tersebut.
__ADS_1
“Kita makan dulu. Setelah ini baru metting,” ucap Zishu usai mendudukkan dirinya di sofa yang ada di ruangan itu.
Mian, tuan Ming dan beberapa orang lainnya mengangguk setuju. Di sini kuasa ada di tangan Zishu dan mereka harus setuju dengan ucapannya.
“Pesanlah! Tidak perlu sungkan. Kalian di sini bebas memesan makanan apa pun. Aku yang bayar,” sambung Zishu seraya menerima buku menu yang di berikan salah satu pelayan.
“Terima kasih, Presider!” seru tuan Ming dan beberapa orang lainnya secara bersamaan.
“Nona—Terima kasih,” Mian juga tidak ketinggalan berucap terima kasih. Jarang-jarang bisa makan di restoran dengan ruang, serta pelayanan VIP seperti ini.
“Ya sama-sama,” balas Zishu tersenyum tipis.
Lantas Mian, tuan Ming dan beberapa orang lainnya segera membuka buku menu yang di berikan pelayan. Mereka memilih makanan yang tertera di buku menu itu. Yah meski Zishu berkata bebas memilih, mereka tampak masih sungkan untuk melakukannya. Zishu menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap mereka. Namun ia membiarkan saja hal itu dan fokus memilih makanan untuk dirinya sendiri.
Tidak butuh waktu lama, Zishu telah selesai memilih makanannya. Di susul tuan Ming, Mian dan juga beberapa orang lainnya. Pelayan yang sedari tadi berdiri di dekat meja, langsung mencatat setiap pesanan mereka.
“Apa ada lagi?” tanya pelayan itu dengan ramahnya.
Zishu melirik semua orang di sana. Mereka diam saja. Pertanda jika mereka tidak mau memesan apa-apa lagi.
“Baik, nona. Mohon di tunggu! Pesanan Anda semua akan segera di siapkan,” seru pelayan itu tersenyum hangat.
“Terima kasih,” balas Zishu di sertai anggukan kepala.
“Sama-sama, nona! Saya pergi dulu!”
Pelayan itu bergegas pergi dari sana, usai berpamitan.
“Di sini sudah lengkap, kan?” tanya Zishu pada semua orang di sana. Takutnya masih ada yang tidak ikut serta.
“Lengkap, nona. Semua telah berhadir di sini,” jawab Mian selaku orang yang bertanggung jawab sebagai pengawas proyek. Tentu ia hafal semua orang yang ikut serta di dalamnya.
Zishu mengangguk-angguk. “Oh ya, tuan Ming—Tuan akan mengambil alih tanggung jawab tuan Bowen mulai sekarang. Saya pikir itu keputusan terbaik. Bagaimana menurut tuan?”
“Saya, Presider?” Tuan Ming tersentak kaget.
“Iya. Bagaimana?” tanya Zishu.
__ADS_1
“Apa tidak ada kandidat lain, Presider?” tanya tuan Ming balik. Keputusan Zishu terlalu mendadak.
“Tuan keberatan?” Zishu menaikkan sebelah alisnya.
“Saya tidak berani, Presider. Ini hanya terlalu mendadak bagi saya,” kilah tuan Ming cepat.
Zishu tersenyum mendengar itu. “Berarti tuan setuju untuk menerima tanggung jawab ini,”
“Saya ikut apa keputusan Presider saja!” sahut tuan Ming setuju akan keputusan Zishu mengalihkan tanggung jawab tuan Bowen kepadanya.
“Ada yang keberatan soal ini?” Zishu menatap semua orang di ruangan itu secara bergantian.
“Keputusan nona tepat. Tuan Ming memang cocok untuk tanggung jawab ini,” ucap Mian mengutarakan pendapatnya.
“Ya—Kami juga. Tanggung jawab ini hanya pantas di berikan pada tuan Ming,” timpal beberapa orang lainnya. Keputusan Zishu memang tepat. Apalagi mengingat bagaimana kinerja tuan Ming selama ini. Tanggung jawab ini tidak ada orang yang pantas mengambilnya, selain tuan Ming.
“Baguslah. Aku senang mendengarnya!”
Setelah itu pembicaraan mereka terhenti karena kedatangan beberapa pelayan yang membawakan pesanan makanan mereka. Lengkap beserta minuman, serta makanan penutup. Soal rasa jangan di tanya, tentunya sangat enak dan itu juga sudah terlihat dari penampilannya saja.
“Selamat menikmati!” seru beberapa pelayan itu secara serentak.
Kemudian beberapa pelayan itu pamit undur diri. Mereka meninggalkan Zishu, Mian, tuan Ming dan beberapa orang lainnya yang bersiap makan siang.
“Tunggu apa lagi? Makanlah!” Zishu mengajak semuanya untuk makan. Jika tidak begitu, mereka akan makan setelahnya.
“Ya, nona!” sahut Mian mewakili semua yang ada di sana.
Zishu mulai menyantap makanannya. Begitu pula Mian, tuan Ming dan beberapa orang lainnya. Suasananya terasa canggung selama makan siang berlangsung. Hal itu tentu di ciptakan oleh mereka yang baru pertama kali makan bersama Zishu. Namun Zishu bersikap biasa saja, hingga makan siang berakhir dan di lanjutkan dengan metting.
...______...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...
__ADS_1