
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
Jam 09.00
“Aku berangkat, Kak!” Zishu berpamitan pada AnRan yang mengantarnya sampai ke luar perusahaan Yan Group.
“Hati-hati, Presider!” seru AnRan tersenyum tipis.
Zishu mengangguk, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan kecil. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam mobil. Di ikuti Lin yang juga masuk, usai menutup pintu mobil. Lin langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan di rata-rata menuju bandara Beijing Daxing International Airport.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk berhasil mencapai bandara itu. Hanya sekitar 15 menit lebih.
“Ini koper nona,” ucap Lin seraya menyerahkan koper hitam berukuran kecil. Koper yang berisikan pakaian dan keperluan lain Zishu.
“Terima kasih, kak. Aku ke dalam. Beberapa menit lagi jadwal penerbanganku,” Zishu mengambil alih koper itu dari tangan sopir pribadi keluarganya.
“Baik, nona!” sahut Lin menunduk hormat.
Zishu tidak menjawab lagi. Ia bergegas masuk ke dalam bandara. Sebaliknya, Lin juga langsung pulang ke kediaman Keluarga Yan Utama.
Padahal bisa saja Zishu menggunakan Jet Pribadi keluarganya tapi itu tidak di lakukannya. Ia lebih menyukai berangkat menggunakan pesawat umum.
“Aku akan berangkat sekarang, Kak!” seru Zishu di telepon, seraya berjalan menuju pintu masuk pesawat. Orang yang di teleponnya tidak lain adalah Chen.
“Baiklah, Zi`er. Nanti sesampainya di bandara akan ada yang menjemputmu,” ucap Chen di seberang telepon.
“Oke, Kak,” Zishu mengakhiri teleponnya dan mematikan ponselnya.
Bersamaan dengan memasuki pesawat. Ia pergi ke bagian First Class pesawat. Sesuai tiket yang telah di pesan oleh Chen.
“Silakan duduk dan nikmati penerbangan senyaman mungkin, nona Zishu! Panggil saja jika nona perlu sesuatu,” imbuh seorang wanita berpakaian layaknya pramugari. Nada ucapannya sangat sopan.
“Terima kasih,”
Pramugari itu tersenyum dan segera pergi dari sana. Zishu mendudukkan dirinya di salah satu kursi tepat di dekat jendela. Tas kecil yang di bawanya, di letakkan di kursi lain di sebelahnya. Sedangkan kopernya tadi, sudah di masukkan ke dalam bagasi pesawat.
Tidak berselang lama, pesawat yang di tumpangi Zishu mulai mengudara. Tentunya dengan segala hal yang sudah menjadi sebuah keharusan di lakukan semua penumpangnya. Begitu pula dengan Zishu yang duduk seorang diri di First Class pesawat.
***
__ADS_1
Selama penerbangan yang berlangsung 2 jam lebih, Zishu hanya duduk diam. Tak jarang matanya menatap ke luar jendela. Indah—Satu kata itu memang cocok untuk menggambarkan pemandangan dari atas langit itu. Hal itu di akui oleh Zishu yang enggan untuk tidak menghiraukan keindahan itu. Hingga akhirnya pesawat mendarat tepat di bandara Internasional Hongqiao Shanghai.
Zishu berjalan turun dari pesawat, kacamata hitamnya melindungi matanya dari teriknya sinar matahari. Sembari menarik koper miliknya, ia berjalan menuju ruang tunggu penumpang. Di sana ada beberapa orang yang tampaknya sedang menunggu para penumpang. Salah satu dari beberapa orang itu bergegas menghampiri Zishu. Ia seorang perempuan dengan rambut di kepang satu.
“Selamat siang, nona! Saya Mian, orang yang di tugaskan tuan Chen untuk menjemput nona,” dalam satu kali tarikan nafas, orang itu menyelesaikan ucapannya.
“Iya selamat siang. Begitu ya, Mian? Senang bisa bertemu denganmu,” balas Zishu terkekeh pelan sambil melepas kacamatanya.
Mian—Nama yang cocok untuk orangnya. Selain cantik, ia juga imut. Bahkan terlihat seperti remaja yang baru berusia 17 tahun. Penampilannya sopan dan tentunya menggemaskan.
“Senang juga bisa bertemu dengan nona. Biar saya yang bawakan koper milik nona,”tanpa menunggu persetujuan dari Zishu, Mian mengambil alih koper hitam miliknya.
Zishu menggeleng-gelengkan kepalanya, di sela kekehannya yang terdengar pelan. Ternyata orang yang di suruh Chen menjemputnya, sangatlah muda dan tingkahnya menggemaskan.“Baiklah. Maaf merepotkanmu,”
“Sudah tugas saya, nona. Silakan!” Mian mempersilahkan Zishu untuk jalan lebih dulu. Zishu pun menurutinya.
Keduanya berjalan beriringan. Mian mengarahkan Zishu menuju sebuah mobil putih yang telah terparkir rapi di depan bandara. Lengkap dengan seorang sopir yang berdiri tegap di sampingnya. Melihat kedatangan Zishu bersama Mian, sopir itu segera membukakan pintu mobil.
“Silakan, nona!” sopir itu menunduk hormat, usai membukakan pintu.
Zishu tersenyum di sertai anggukan kepala. Ia berjalan masuk ke dalam mobil. Di susul Mian dan sopir tadi yang sempat memasukkan kopernya ke dalam bagasi mobil.
“Kita mau ke mana dulu, nona?”tanya Mian, menengok ke arah belakang. Posisinya sekarang, ia duduk di sebelah kursi pengemudi.
“Baiklah, nona!” sahut Mian kembali pada posisinya semula.
“Jalan, pak!” sambungnya pada laki-laki paruh baya yang bekerja sebagai sopir itu.
Sopir itu mengangguk dan langsung melajukan mobil. Meninggalkan kawasan bandara yang ramai seperti biasanya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang, menembus padatnya jalanan kota di siang hari.
“Oh ya, Mian—Usiamu berapa?” pertanyaan Zishu memecah keheningan di dalam mobil.
“18 tahun, nona!” sahut Mian menoleh ke arah Zishu.
“Masih sekolah?” tanya Zishu lagi dan di angguki Mian.
“Kamu Magang?” sambungnya.
“Iya, nona. Saya magang sebagai pengawas di proyek yang akan di pantau nona sekarang. Tuan Chen sangat baik karena mau memberikan kesempatan pekerjaan ini pada saya,”Mian membenarkan tebakan Zishu.
“Kak Chen tahu kalau kamu itu memiliki kemampuan di bidang ini. Jadi bekerjalah dengan baik,” timpal Zishu tersenyum.
__ADS_1
“Pasti nona,” sahut Mian penuh keyakinan.
“Bicara soal proyek, apa kamu tahu yang sedang terjadi? Bagaimana bisa biaya proyek mengalami pembengkakan. Tidak sesuai perkiraan,” raut wajah Zishu berubah menjadi serius dan Mian menyadari perubahan itu.
“Saya sependapat dengan tuan Chen, nona. Ada yang tidak beres tapi saya belum bisa menemukan celah untuk masalah ini,” ungkap Mian sejujurnya.
“Hmmm kita akan secepatnya menemukan celah itu. Tidak ada yang tahu akan kedatanganku, bukan?” tanya Zishu berdehem ringan.
“Tidak ada, nona. Tuan Chen melarang saya untuk memberitahukan kedatangan nona pada orang-orang yang terlibat dalam proyek,” jawab Mian, tentunya membuat Zishu menghela nafas lega.
“Baguslah,” singkat Zishu
Setelahnya keheningan kembali terjadi di dalam mobil. Zishu menatap ke arah luar jendela. Otaknya sedang berputar. Memikirkan tentang permasalahan di proyek yang akan di selidikinya sekarang. Ia harus memikirkannya sebaik mungkin. Siapa tahu nanti muncul sebuah ide atau solusi yang bisa membuat masalah ini teratasi.
“Siapa penanggung jawab keuangan proyek ini?” spontan pertanyaan itu terucap dari mulut Zishu. Ini adalah langkah awal dari solusi permasalahan.
“Pak Ming,”
“Lalu siapa penanggung jawab pembelian bahan proyek dan kepala dari para pekerja?” tanya Zishu seraya membuka ponselnya.
“Tuan Bowen,”
“Satu orang yang sama?” Zishu bertanya untuk memastikan.
“Benar, nona!” jawab Mian membenarkan.
Zishu mangut-mangut mengerti. Segera ia cari nomor ponsel Chen dan mengirim pesan padanya.
[Aku butuh informasi lengkap tuan Ming dan tuan Bowen, kak! Apa kakak punya informasinya?]
2 menit telah berlalu sejak pesannya terkirim dan sekarang mendapat balasan.
Ting...
[Chen💬: Katakan pada Mian, ambil berkas hijau yang ada di lemari di ruangan kakak. Di situ informasi lengkap tentang mereka. Apa kamu sedang mencurigai mereka?]
[Aku hanya menyelidiki orang-orang yang kemungkinan besar terlibat dalam masalah ini]
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Favorit💬+Vote💌+Favorit❤]...