Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 61. Menakjubkan!


__ADS_3

... ||•🥀Happy Reading🥀•||...


...... _____......


Puas menatap takjub kediaman Lui, Zishu mendudukkan diri di salah satu sofa yang berada di ruang keluarga. Awalnya salah satu pelayan ingin mengantarkannya ke kamar Lui tapi ia menolaknya. Penolakannya itu karena merasa segan untuk ke kamar Lui. Meski laki-laki itu sudah menjadi suaminya. Sehingga ia memutuskan menunggu Lui di ruang keluarga.


Di ruang keluarga itu, Zishu merasa nyaman sekali. Ukurannya tidak terlalu luas tapi semua barang yang ada di sana tertata sempurna.


“Nona mau minum atau makan apa? Biar saya siapkan,” tawar salah satu pelayan yang sedari tadi mengikuti Zishu.


“Es jeruk, ada?” tanya Zishu menatap pelayan di hadapannya.


“Ada, nona! Apa ada yang lain lagi?” tanya balik pelayan itu.


“Tidak ada,” jawab Zishu tersenyum tipis.


“Baiklah nona. Saya akan menyiapkannya,” pelayan itu menunduk hormat pada Zishu, sebelum pergi dari sana.


Seperginya pelayan itu, Zishu menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel. Tidak lupa ia mengirim pesan pada Chen. Menanyakan apakah kakaknya itu sudah sampai di tujuan.


***


Hampir 30 menit berlalu dan Zishu masih sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia meminum es jeruk yang tadi di bawakan pelayan, serta camilan ringan. Ia sibuk menatap layar ponselnya, sampai tidak menyadari kalau Lui berjalan mendekatinya. Kemudian Lui mengejutkan Zishu dengan tiba-tiba mencium pucuk kepalanya.


“Maaf lama, Sayang!” ungkap Lui usai mencium pucuk kepala istrinya itu.


“Tidak apa-apa,” balas Zishu tersenyum, matanya tidak berkedip menatap Lui.


Suaminya itu terlihat sangat segar. Kaos putih dan celana pendek terpasang di tubuhnya. Rambutnya basah dan acak-acakan. Belum lagi senyuman manisnya, menambah kadar ketampanan yang di miliknya.


`Tampan sempurna,` batin Zishu


“Kenapa tidak menunggu di kamarku, Sayang?”tanya Lui sembari mendudukkan dirinya di sebelah Zishu.


“Em itu—Aku rasa lebih baik menunggu di sini,” jawab Zishu sedikit ragu.


“Setelah ini kamu tidak kembali lagi ke perusahaan?” sambungnya mengalihkan pembicaraan.


“Iya tidak lagi,” Lui mengiyakan sebab jadwalnya yang tersisa untuk hari ini adalah metting bersama Zishu.


“Oh,” singkat Zishu ber-Oh ria.


“Kenapa memangnya hmmm?” tanya Lui, alisnya di naik-turunkan. Matanya nan tajam menatap hangat ke arah istrinya itu.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Sekarang bisa mulai bahas kerja sama kita?” spontan Zishu mengalihkan tatapannya ke arah berkas yang di bawanya. Ia canggung di tatap seperti itu.


“Bisa. Kita bahas di sini atau di ruang kerjaku, Sayang?” Lui tersenyum samar, menyadari Zishu yang tampak canggung karenanya.


“Di sini saja. Tidak apa-apa kan?”


“Iya tidak apa-apa,” balas Lui.


Setelahnya Zishu dan Lui mulai membahas proyek kerja sama mereka. Selama itu berlangsung, kecanggungan Zishu tadi sudah mulai hilang. Ia membahas serius proyek kerja sama itu, sesuai dengan berkas yang sudah di pelajarinya. Berkat kepintarannya, ia begitu mudah memahami proyek kerja sama yang akan di jalankan bersama Lui. Bahkan tidak mengalami kesulitan dalam membahas hal-hal penting yang menyangkut proyek kerja sama. Tidak jarang juga ia memberikan tambahan pendapat, di luar dari isi berkas tadi.


Lui berdecak kagum akan kepintaran istrinya itu. Hanya dalam sekejap, bisa memahami apa yang di pelajari. Ia juga menyetujui setiap tambahan pendapat yang di berikan Zishu. Menurutnya pendapat itu sangat tepat dan memang harus ada di dalam proyek kerja sama mereka.


1 jam berlalu...


Prok.. Prok... Prok...


“Mengagumkan, Sayang! Aku kagum akan kepintaranmu,” puji Lui di sela tepuk tangannya.


“Jangan seperti itu! Aku masih perlu banyak belajar dari senior sepertimu,” celetuk Zishu mengundang tawa Lui.


“Fuffft hahaha... Senior apanya? Aku ini bukan senior tapi juga masih perlu banyak belajar sepertimu,” Lui tertawa ringan mendengar sebutan senior itu. Selama ini tidak pernah terbesit sekali pun bahwa ia seorang senior.


“Namun aku tidak bohong soal tadi. Kamu mengagumkan dengan kepintaranmu. Aku yakin, kamu pasti akan sukses membawa Yan Group ke puncak kejayaan yang lebih dari sekarang. Itu sudah pasti dan aku menantikan hal itu terjadi,” sambungnya menghentikan tawanya. Dari nada bicaranya saja, keyakinan itu jelas adanya.


“Aku tidak memiliki alasan untuk tidak sepakat, Sayang!” jawab Lui tersenyum lebar. Ia mengulurkan tangannya ke arah Zishu sebagai tanda sepakat darinya.


Uluran tangan Lui di sambut dengan senang hati oleh Zishu. Sekarang keduanya tampak berjabat tangan.


“Sepakat!” seru Zishu tersenyum lebar, spontan berhasil menghipnotis Lui.


“Cantik,” kata itu lolos begitu saja dari mulut Lui. Pelan tapi masih terdengar di telinga Zishu, meski tidak jelas.


“Apa yang kamu katakan?” beo Zishu.


“Aku hanya mengatakan kamu cantik,” jawaban Lui sontak membuat pipi Zishu merah merona dan langsung memalingkan wajahnya.


`Fuffft menggemaskan sekali,` batin Lui


“Eum te—terima kasih,” ungkap Zishu seraya menenangkan jantungnya yang terasa berdetak lebih kencang.


`Begini saja sudah membuat jantungku berdetak kencang. Dia tidak mungkin mendengarnya bukan?` batin Zishu.


“Sama-sama sayang,” balas Lui menahan tawanya. “Tapi kenapa pipimu memerah?”

__ADS_1


Zishu menjadi panik mendengar pertanyaan itu.


`Benarkah pipiku memerah? Argh memalukan sekali,` batin Zishu


“Aku ha—nya kepanasan. Ya kepanasan!” sahut Zishu cepat, berusaha mengelabuhi Lui. Sayangnya suaminya itu sulit untuk di kelabuhi.


“Benarkah itu?” tanya Lui pura-pura memastikan.


“I—iya benar!” jawab Zishu gugup sekali. Sesegera mungkin ia mengalihkan pembicaraan. “Katamu tadi mau memperlihatkan kediamanmu ini padaku. Apa tidak jadi?”


`Astaga istriku ini sedang mengalihkan pembicaraan. Baiklah aku turuti apa keinginanmu sayang,` batin Lui


“Jadi sayang. Ayo ku perlihatkan!” ajak Lui beranjak dari sofa. Seketika Zishu bernafas lega.


`Huffft syukurlah!` batin Zishu


Zishu langsung mengangguk pelan dan segera beranjak berdiri. Kemudian berjalan mengikuti Lui yang memperlihatkan lebih detail kediamannya. Lui mengajak Zishu berkeliling di kediamannya. Menyusuri setiap ruang atau area di kediamannya.


“Bagaimana kediamanku ini, Sayang?” Lui bertanya pada Zishu yang tidak henti-hentinya menatap takjub kediamannya.


“Menakjubkan!” satu kata itulah yang menurut Zishu menggambarkan kediaman suaminya itu. Bahkan membuatnya tidak berkedip menatapnya.


“Iya menakjubkan, sampai membuatmu tidak menatapku!” cibir Lui sembari menarik tiba-tiba pinggang Zishu. Sehingga tubuh keduanya tidak berjarak lagi dan seperti berpelukan.


“Apa yang kamu lakukan?” Zishu menatap Lui dengan keterkejutan. Kedua tangannya menyentuh dada suaminya itu.


Tentu ia terkejut akan tindakan Lui. Terlebih lagi keduanya tidak sedang berada di ruang tertutup. Ia takut kalau ada pelayan Lui yang melihat itu. Pastinya ia merasa malu.


“Memelukmu agar kamu bisa terus menatapku,” Lui tersenyum, membalas hangat tatapan istrinya itu.


“Ta—tapi tidak di sini juga. Nanti ada pelayan yang lihat,” ucap Zishu merasa kikuk dengan posisi seperti ini.


“Kalau ada yang lihat memangnya kenapa, Sayang?” Lui bertanya seolah tidak mengerti.


“Malu,” cicit Zishu pelan tapi masih terdengar di telinga Lui.


“Buat apa malu sayang? Mereka juga mengerti,” tukas Lui santai di sela memeluk erat istrinya itu.


... _____...


... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...

__ADS_1


... [Like👍+Comment💬+Vote💌Favorit❤]...


__ADS_2