Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 62. DULU


__ADS_3

... ||•🥀Happy Reading🥀•||...


... _____...


“Buat apa malu? Kan kita suami istri, sayang. Wajar kalau begini,” ucap Lui tanpa berhenti beradu tatapan dengan Zishu.


Iya memang wajar mereka seperti itu tapi tetap saja Zishu merasa malu. Yah ini mungkin karenakan dirinya belum terbiasa dengan Lui.


“Jadi kamu tidak mau melepaskanku?” tanya Zishu sedikit mendongakkan kepalanya agar bisa menatap suaminya itu.


Lui mengangguk, di sertai senyuman lebar. Sontak Zishu mendelik tak percaya. Sungguh laki-laki yang telah menjadi suaminya itu, bisa seperti ini. Padahal mereka baru menikah kemarin dan itu tanpa ada pendekatan sama sekali.


“Kenapa sayang? Kamu tidak suka di pelukku hmmm?” sungut Lui seraya menaik-turunkan alisnya.


“Tidak! Bukan begitu—” ucapan Zishu tiba-tiba terpotong oleh ponselnya yang berdering.


Lui langsung melonggarkan pelukannya, memberi ruang pada Zishu agar bisa mengambil ponselnya yang tersimpan di tas miliknya. Zishu segera mengambil ponselnya dan melihat nama si penelepon. Lui juga sempat melihatnya, sebelum Zishu menatapnya kembali tapi tersirat keraguan di sana.


“Angkat saja, sayang! Tidak apa-apa,” perintah Lui seolah mengerti apa yang tengah di ragukan oleh istrinya itu.


“Terima kasih,” ungkap Zishu tersenyum lega. Ia tadi ragu karena takutnya Lui merasa tidak suka, kalau telepon Chunying di angkatnya.


Tidak ada balasan dari Lui, hanya senyuman tipis di perlihatkannya. Zishu segera mengangkat telepon dari Chunying. Meski terasa sangat malas.


“Ada apa kak?” tanya Zishu langsung the to point. Matanya sudah kembali menatap Lui yang sedang diam mendengarkan.


“Apa aku mengganggumu?” bukannya memberi jawaban, Chunying justru bertanya balik di seberang telepon.


“Sedikit,” balas Zishu singkat.


“Benarkah? Kalau begitu maafkan aku. Sebenarnya aku meneleponmu untuk menanyakan apa oleh-oleh yang kamu inginkan dariku? Nanti aku bawakan saat pulang besok,”


“Tidak perlu repot-repot, Kak! Aku tidak menginginkan apa pun,” tolak Zishu secara halus. Mana mungkin ia menerima oleh-oleh dari Chunying—Si pengkhianat.


“Sungguh?”


“Iya kak. Aku tidak mau merepotkan kakak,” beber Zishu asal.


“Padahal aku senang di repotkanmu, sayang. Hmmm tapi ya sudahlah. Aku juga tidak bisa memaksamu. Kamu bisa melanjutkan kesibukanmu. Maaf sempat mengganggumu, Sayang!”

__ADS_1


“Iya tidak apa-apa kak,” bersamaan dengan memberi balasan itu, Zishu mematikan telepon secara sepihak.


“Apa katanya, sayang?” tanya Lui usai Zishu mematikan teleponnya.


“Dia menanyakan apa oleh-oleh yang ku inginkan,” jawab Zishu apa adanya.


“Dan kamu langsung menolaknya,” Lui menimpalinya begitu saja. Sesuai dengan apa yang di dengarnya.


“Aku masih mampu untuk membeli oleh-oleh sendiri. Daripada menerima pemberian dari pengkhianat sepertinya. Makanya aku menolak,” sungut Zishu.


“Si pengkhianat yang kamu cintai, bukan?” goda Lui mengedipkan sebelah matanya.


“Itu dulu—Ingat, DULU! Sekarang aku sudah tidak memiliki perasaan padanya,” sangkal Zishu mengerucutkan bibirnya.


Tingkahnya membuat Lui gemas dan langsung mengecup singkat bibir peach istrinya itu. Spontan mata Zishu melotot sempurna. Ia kembali terkejut dengan tindakan Lui. Ini bukan yang pertama tapi ia masih belum terbiasa.


`Argh dia mengejutkanku!` batin Zishu


“Tidak perlu membahasnya lagi. Aku percaya kalau istriku ini,” ucap Lui mengelus lembut pucuk kepala Zishu dengan tangan kanannya.


“Te—terima kasih,” lagi-lagi Zishu di buat canggung akan suasana.


“Em iya sudah sore. Aku mau menelepon kak Lin dulu,” dalam satu gerakan, Zishu berhasil lepas dari pelukan Lui yang memang sudah melonggar tadi.


“Buat apa meneleponnya sayang? Aku tidak mengatakan kamu boleh pulang sekarang,” ucapan Lui sukses membingungkan istrinya itu.


“Lalu bagaimana aku bisa membersihkan diriku?” dahi Zishu mengernyit tidak mengerti.


“Kamu bisa membersihkan diri di sini, sayang!” sahut Lui bersedekap dada. Senyuman tidak memudar, memperlihatkan deretan gigi putihnya.


Siapa yang tidak akan terpesona melihatnya, termasuk Zishu.


`Bisakah dia tidak tersenyum seperti ini? Sangat memesona—Astaga perkataan orang-orang benar! Dia memiliki sejuta pesona. Lama-lama aku sungguh akan jatuh dalam pesonanya tapi apa salahnya? Dia juga sudah menjadi suamiku,` batin Zishu


“Kamu tidak keberatan kan?” sambungnya.


“Tidak tapi aku tidak membawa pakaianku,” balas Zishu usai tersadar dari terpikat pesona suaminya itu.


“Soal itu bukan masalah besar. Nanti aku perintahkan pelayan untuk mengambilkan pakaianmu atau ku belikan yang baru. Sudah beres kan?” begitu mudah Lui memecahkan permasalahan yang di miliki Zishu. Demi membuat istrinya itu tetap berada di kediamannya.

__ADS_1


“Ya sudahlah. Ambilkan saja pakaianku. Tidak perlu beli,” ucap Zishu pasrah.


“Baik sayang,” senyuman puas mengembang di bibir Lui.


Kemudian Lui mengajak Zishu pergi ke kamarnya. Sama seperti pada semua ruang di kediaman Lui, kamarnya sangat nyaman. Kamarnya berwarna kombinasi abu-abu dan hitam. Di lengkapi barang-barang yang tertatap rapi dan berwarna senada seperti kamarnya.


“Kamarmu sangat nyaman dan terdesain indah. Pasti salah satu arsitek terbaik yang mendesain kamar dan kediamanmu ini,” puji Zishu seraya meletakkan tasnya di atas meja mini malis.


“Kamu benar, Sayang! Kediamanku ini di desain oleh temanku, salah satu arsitek terbaik China. Namun sekarang ia sedang berada di luar negeri. Meneruskan kariernya di sana. Kapan-kapan aku perkenalkan kamu padanya,” Lui mendudukkan dirinya di sofa. Di ikuti oleh Zishu yang duduk di sebelahnya.


“Aku menantikan hari itu,”


Usai mengucapkan itu, Lui menyuruh Zishu untuk segera membersihkan diri. Zishu langsung menurutinya. Ia pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


***


Tidak berselang terlalu lama, Zishu sudah keluar dari kamar mandi. Tubuhnya di balut handuk kimono berwarna abu-abu, milik Lui. Lebih tepatnya handuk kimono itu masih baru dan pertama kali di pakai oleh Zishu.


“Dia ke mana?” gumam Zishu tidak menemukan keberadaan Lui. Kedua tangannya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.


Ia mengedarkan tatapannya ke setiap sudut kamar tapi Lui benar-benar tidak ada.


“Mungkin dia sedang ada di bawah,” pikir Zishu seraya berjalan mendekati pintu yang menghubungkan kamar dan balkon.


Pintu itu tidak tertutup, hingga Zishu bisa langsung berjalan keluar dari kamar. Sesampainya di balkon, Zishu menumpukkan kedua tangannya pada pagar balkon. Ia menatap pemandangan langit yang sudah mulai gelap. Di tambah pemandangan kota Beijing. Tampak indah karena lampu-lampu menyala dengan berbagai macam warna.


Sudut bibir Zishu terangkat melihat itu. Lalu memejamkan perlahan matanya. Merasakan hembusan angin segar yang menyapu wajahnya. Cukup lama ia dalam posisi itu, sampai sebuah tangan kekar tiba-tiba melingkar di perutnya. Zishu membuka matanya tapi tidak menatap orang yang tengah memeluknya dari belakang. Ia sudah tahu siapa orangnya—Lui, suaminya.


“Kenapa berada di luar sini, sayang? Kamu bisa masuk angin,” Lui menumpu dagunya di bahu kanan Zishu. Kedua tangannya memeluk erat.


“Mau lihat pemandangan kota. Sangat indah ya?” ucap Zishu menatap sekilas ke arah Lui, lalu tatapannya kembali beralih ke depan.


... _____...


... Terima kasih sudah mampir di cerita ini🌹...


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...

__ADS_1


__ADS_2