Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 64. Biarin!


__ADS_3

... ||•🥀Happy Reading🥀•||...


... _____...


“Selamat malam tuan dan nona!” sapa beberapa pelayan yang berada di ruang makan.


“Ya selamat malam,” balas Lui hangat, sedangkan Zishu hanya tersenyum tipis membalasnya.


Seorang pelayan ingin menarik kursi untuk Zishu tapi tidak jadi. Lui lebih dulu menarik kursi untuk Zishu, tepat di sebelah kursinya. Zishu duduk di kursi itu tanpa mengucapkan terima kasih. Kemudian Lui juga duduk di kursinya.


“Kalian bisa pergi!” titah Lui pada beberapa pelayannya.


“Baik tuan,” sahut beberapa pelayan bersamaan. Mereka menunduk hormat, sebelum beranjak pergi dari sana.


“Ini makanan favoritku,” ucap Zishu tidak berhenti menatap menu makanan di hadapannya.


“Aku sengaja meminta pelayan untuk memasak makanan kesukaanmu. Hmmm tapi tidak tahu apakah rasanya sesuai seleramu sayang,” Lui menopang dagunya dengan tangannya menumpu pada meja.


Zishu tersenyum kecil.“Tidak masalah bagaimana rasanya. Aku pasti akan menghabiskannya,”


“Kalau begitu mari makan, Sayang!”


Anggukan kepala Zishu, memulai acara makan malam bersama itu. Keduanya mulai menyantap setiap makanan yang tersedia. Tidak banyak tapi cukup untuk mereka berdua. Seperti biasa, Lui memang sengaja memerintahkan para pelayannya untuk memasak secukupnya. Cukup untuknya, juga untuk mereka. Sehingga tidak ada makanan yang terbuang sia-sia. Bukannya pelit tapi Lui tahu, di luar sana masih banyak orang membutuhkan makanan. Jadi tidak sepantasnya ia membuang makanan, hanya karena punya banyak uang.


***


Selama makan malam berlangsung tadi, tidak terjadi pembicaraan di antara Zishu dan Lui. Keduanya sibuk menyantap makanan masing-masing. Meski sesekali Zishu dan Lui saling curi pandang. Hal itu terjadi sampai makan malam berakhir.


“Bagaimana makanannya sayang?” tanya Lui penasaran.


“Sesuai selera,” jawab Zishu menyatukan ibu jari dan telunjuknya, membentuk huruf O.


“Baguslah sayang,” ucap Lui ikut senang mendengarnya. “Sekarang mau melakukan apa? Kembali ke kamar, bersantai atau yang lain?”


“Eum—Sepertinya kembali ke kamar saja,” sahut Zishu usai memikirkannya sejenak.


“Baiklah, sayang.”


Lui beranjak lebih dulu dari kursi. Di susul Zishu yang beranjak, usai menghabiskan minumannya. Keduanya berjalan pergi meninggalkan ruang makan. Bersamaan dengan itu, beberapa pelayan datang untuk membereskan meja makan.


Di kamar Lui


Sesampainya di kamar, Lui duduk di pinggir ranjang. Sedangkan Zishu berhenti berjalan tepat di dekat ranjang. Ia sedang memikirkan malam ini. Yeah—Malam ini adalah malam keduanya bersama Lui, setelah menikah. Ia memikirkan bagaimana kalau Lui meminta haknya malam ini. Di saat dirinya belum siap untuk itu.

__ADS_1


Lui menatap heran istrinya itu. “Ada apa sayang?”


“Aku—,” bibir Zishu seolah kelu untuk berucap.


“Apa sayang, hmmm?” deham Lui. Kedua tangan kekarnya melipat di dada.


Pertanyaan itu, harus bagaimana Zishu menjawabnya? Ia gugup dan ragu untuk menjawabnya.


`Bagaimana ini? Apa yang harus ku jawab? Mana mungkin kan, aku beritahu apa yang sedang ku pikirkan. Ini menyebalkan` batin Zishu


“Itu aku—,” belum sempat ucapan Zishu selesai, Lui justru menarik tangannya. Sontak ia jatuh terduduk dalam pangkuan suaminya itu.


“Aku tahu apa yang sedang ingin kamu pikirkan. Kamu pasti berpikir aku akan meminta hakku malam ini, bukan?” tebak Lui seolah tahu apa yang sedang di pikirkan oleh Zishu.


“Em itu... I—Iya,” cicit Zishu tidak berani menatap mata Lui. Ia sedikit menundukkan kepalanya.


Lui terkekeh pelan. “Kamu terlalu berpikir jauh sayang,”


“Hah?” sentak Zishu mendongakkan sedikit kepalanya. Sehingga matanya bertemu dengan mata Lui.


“Aku tidak akan meminta hakku padamu, sayang. Sebelum di hatimu hanya ada aku seorang. Ingat itu!” dengan gemasnya Lui mencubit hidung Zishu.


“Maaf,” kata itu spontan terucap dari mulut Zishu.


“Aku salah karena berpikiran seperti itu. Dan...” Zishu menggantungkan ucapannya.


“Dan?”


“Dan belum bisa memberi hakmu. Tolong berikan aku waktu lagi ya? Aku akan membereskan masalahku dengan Chunying dulu. Setelahnya kamu bisa membuat ruang sendiri di hatiku,” ucap Zishu seraya memberanikan diri untuk melingkar tangannya ke leher suaminya itu.


Lui tersenyum mendengarnya ucapan Lui.“Tidak masalah, sayang. Sebanyak apa pun waktu yang kamu butuhkan. Aku pasti memberikannya dan selalu menunggu saat itu datang,”


“Terima kasih,” ungkap Zishu, senyuman lebar mengembang di bibirnya. Memperlihatkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


“Terima kasih kembali. Sekarang saatnya tidur, sayang. Besok kamu sibuk,”


“Ini terlalu cepat,” Zishu mencebik pelan.


“Kamu harus mengumpulkan tenaga untuk besok sayang. Tidurmu tadi malam juga belum cukup. Lihatlah matamu sampai seperti panda begini,” celetuk Lui, tangannya menyentuh bagian kantung mata Zishu yang biasanya di sebut seperti mata panda.


“Iya baiklah,”terpaksa Zishu mengiyakan.


“Good Wife,” puji Lui seraya mencium kedua pipi gadis yang telah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


“Lalu kamu juga tidur atau masih ada pekerjaan?” tanya Zishu sebelum beranjak turun dari pangkuan Lui.


“Tentu saja tidur, sayang. Masa istri di biarkan tidur sendirian. Nanti tidak ada yang bisa di minta buat di peluk,” jawab Lui di sertai sedikit godaan. Auto di cubit pinggangnya.


“Aww—Sakit sayang,” sambungnya pura-pura meringis.


“Biarin!” ketus Zishu bergegas turun dari pangkuan Lui dan naik ke atas ranjang. Ia berbaring memunggungi Lui, lalu menarik selimutnya.


“Sayang marah?” tanya Lui terkekeh geli melihat tingkah menggemaskan di depan matanya itu.


“Gak,” jawab Zishu singkat, tanpa berbalik badan.


Sekuat tenaga Zishu menahan rasa malunya. Ia pura-pura marah untuk itu.


“Masa sih sayang? Kenapa aku merasa kamu marah hmmm,” perlahan Lui berbaring di sebelah Zishu dan menarik selimutnya juga.


Zishu tidak membalas, seolah tidak mendengar. Matanya sudah mulai terpejam.


“Aku minta maaf, sayang! Tadi hanya bercanda. Jangan marah, oke!?” ucapnya lagi.


“Hmmm,” Zishu berdehem pelan, hampir terdengar lirih.


“Kamu masih marah? Tidak ingin memelukku malam ini, sayang?” tanya Lui bernada menggoda. Namun Zishu tidak akan mudah tergoda.


“Tidak,” jawab Zishu datar. Padahal dalam hatinya, ingin sekali memeluk Lui. Ia bisa menemukan kenyamanan dalam pelukan suaminya itu.


“Ya sudah. Biar aku saja yang memelukmu sayang,” tanpa menunggu persetujuan Zishu, Lui memeluknya dari belakang.


“Selamat malam sayang! Jangan lama-lama marahnya. Nanti aku makin sayang,” sambungnya berbisik di telinga Zishu. Lalu mencium singkat keningnya, seperti malam sebelumnya.


Selesai dengan itu, ia menenggelamkan kepalanya di leher putih milik Zishu. Sehingga aroma manis bak vanila yang berasal dari tubuh Zishu, memenuhi ruang pernafasannya. Aroma itu sudah menjadi candu untuknya. Di tambah tubuhnya terasa sedikit lelah. Hingga tanpa membutuhkan waktu lama, ia sudah terlelap.


Menyadari Lui yang sudah terlelap, Zishu membuka matanya. Bibirnya mengembangkan senyuman manis. Suasana hatinya sangat bahagia. Bersama Lui—Laki-laki yang baru menikahinya kemarin, ia mendapatkan kebahagiaan berbeda. Kebahagiaan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata tapi rasa.


“Selamat malam juga,”


..._____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...

__ADS_1


__ADS_2