Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 71. Mulai Penyelidikan


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


Tidak terasa sudah waktunya makan siang. Zishu memutuskan untuk makan siang di restoran yang berada tidak jauh dari proyek pembangunan hotel di Shanghai. Di temani Mian pastinya.


“Dimana tuan Ming dan tuan Bowen? Sejak aku datang, mereka tidak terlihat. Bukankah mereka menjadi salah satu orang penting di dalam proyek ini?” tanya Zishu sembari menyantap makanan penutupnya.


“Mereka hanya datang sesudah makan siang, nona. Makanya nona tidak melihat mereka,” jawab Mian yang duduk berseberangan dengan atasannya itu.


Padahal ia merasa tidak enak hati sebab tadi Zishu duduk dan makan bersama. Namun bukan Zishu namanya, kalau ia membiarkan Mian menolak permintaannya itu.


“Ternyata begitu,” sungut Zishu mengangguk-angguk pelan.


“Memangnya ada apa nona? Apa nona ingin bertemu mereka atau karena hal lain?” tanya Mian spontan, dirinya tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Zishu.


“Ya aku ingin bertemu mereka dan ingin bertanya beberapa hal yang mungkin saja jawabannya memuaskanku,” jawab Zishu membenarkan. Senyuman tipisnya terlihat tapi ada makna lain di sana.


Tampak dahi Mian mengernyit dan sepertinya ia sedang berusaha mencerna ucapan Zishu barusan. “Nona mencurigai mereka sebagai pelaku dari masalah proyek?”


“Bukan mencurigai tapi melalui mereka, bisa saja aku mendapatkan sesuatu hal yang berkaitan dengan masalah ini. Kamu mengerti apa maksudku ini?” sontak Mian menganggukkan kepalanya, pertanda mengerti.


“Good, sekarang kita pergi!” makanan penutup tadi sudah habis di makan. Zishu segera beranjak berdiri, di susul Mian.


“Baik nona,” sahut Mian


“Pelayan!” panggil Zishu pada seorang pelayan yang berada di dekatnya.


Pelayan itu segera menghampirinya karena merasa di panggil.


“Ya ada apa nona?” pelayan itu ramah dalam bertanya.


“Biarkan saya saja yang membayarnya. Nona bisa pergi lebih dulu ke mobil,” seakan mengerti apa yang ingin di katakan Zishu, Mian lebih dulu mengatakannya.


“Baiklah. Kamu bisa pakai kartuku dan tidak boleh menolak!” seru Zishu dengan penuh penegasan. Tangannya mengeluarkan sebuah kartu ATM berwarna hitam, dari dalam dompetnya. Kartu itu jelas adalah sebuah Black Card yang mempunyai limit tanpa batas.


Terpaksa Mian menerima kartu itu. Usai memberikan kartu miliknya, Zishu berlalu pergi. Mian segera memberikan kartu Zishu pada pelayan itu dan menyelesaikan pembayaran makanan tadi. Kemudian baru ia menyusul atasannya yang telah lebih dulu berada di mobil.


“Kembali ke proyek, pak!” perintah Zishu, setelah Mian mendudukkan diri di kursi samping pengemudi.

__ADS_1


Sang sopir mengangguk mengerti dan seger melakukan mobil menuju ke lokasi proyek hotel di Shanghai. Tidak berselang beberapa menit, mobil sudah berhenti. Tepatnya berhenti di depan bangunan proyek hotel tadi.


“Mereka sudah datang, nona!” seru Mian tiba-tiba menunjuk ke arah luar mobil. Spontan Zishu mengarahkan tatapannya ke sana, terlihat dua orang laki-laki paruh baya sedang berbicara.


“Panggilkan mereka! Katakan kalau aku ingin bertemu mereka sekarang,” titah Zishu tanpa menunggu lagi. Sungguh ia tidak sabar untuk memulai penyelidikannya.


“Baik nona. Tunggu sebentar!”


Mian bergegas turun dari mobil. Ia pergi menghampiri dua orang laki-laki paruh baya itu yang tidak lain adalah tuan Ming dan tuan Bowen. Tidak berapa lama, Mian kembali ke mobil tapi tidak masuk. Ia berdiri di samping pintu mobil. Tuan Ming dan tuan Bowen juga ikut bersamanya. Sopir yang tadinya berdiam diri di mobil, segera turun untuk membukakan pintu mobil. Zishu turun dari mobil, setelah pintu mobil terbuka.


“Selamat siang, Presider!” sapa tuan Ming dan tuan Bowen secara bersamaan, serta menunduk hormat.


“Ya selamat siang! Senang bisa bertemu kalian,” balas Zishu tersenyum tipis.


“Kami juga senang bisa bertemu Presider. Kenapa Presider tidak memberitahu kami kalau akan datang? Kami pasti akan menyiapkan semuanya,” tuan Bowen tersenyum lebar, meski sempat terkejut akan kedatangan Zishu yang tiba-tiba.


“Hhaha aku ingin membuat kejutan, tuan! Tidak menyenangkan bukan, kalau aku memberitahukan kedatanganku? Kalian juga tidak perlu repot menyiapkan apa pun untukku,” tawa Zishu terdengar ringan sekali.


“Tapi kami perlu untuk menyiapkan kedatangan anda, Presider!” timpal tuan Ming memasang raut wajah yang tidak bisa di artikan.


“Sudahlah tuan. Aku tidak suka merepotkan orang lain. Bagaimana kalau kita sekarang duduk sebentar di sana untuk berbicara!?” matanya menatap ke arah sebuah pohon besar nan rindang yang berada tidak jauh dari sana.


Sebelum pergi menuju pohon itu, Zishu sempat memberikan tatapan isyarat pada Mian. Mengerti akan arti tatapan itu, Mian mengangguk dan setelahnya ia pergi. Bersamaan dengan itu, Zishu, tuan Ming dan tuan Bowen berjalan menuju pohon rindang tadi. Dimana di bawah pohon tersebut terdapat beberapa buah kursi. Para pekerja biasanya duduk di sana untuk sekedar beristirahat sebentar.


“Oh ya, siapa di antara kalian yang bernama tuan Ming? Aku belum tahu,” tanya Zishu seraya mendudukkan diri di salah satu kursi. Salah satu kursinya di angkat ke atas kakinya yang lain.


“Saya, Presider!” sahut tuan Ming yang berdiri tepat di hadapan Zishu. Di balas anggukan olehnya.


“Kalian juga duduklah! Tidak nyaman berbicara seperti ini,” perintah Zishu pada kedua laki-laki paruh baya di hadapannya.


“Apa tidak masalah, Presider? Kami berdiri saja tidak apa-apa,” ucap tuan Bowen.


“Iya benar. Kami berdiri saja, Presider!” tuan Ming ikut menimpali.


“Kalian berani membantahku?” pertanyaan itu membungkam tuan Ming dan tuan Bowen.


“Tidak berani, Presider!” sahut tuan Bowen langsung duduk di hadapan Zishu, begitu pula tuan Ming.


Sudut bibir Zishu melengkung sempurna. “Begini jauh lebih baik,”

__ADS_1


“Jadi apa yang Presider ingin bicarakan pada kami?” tanya tuan Ming penasaran.


“Masalah di proyek. Tuan Ming dan tuan Bowen pasti sudah itu, bukan?” tanya balik Zishu, raut wajahnya menjadi serius.


“Iya kami tahu, Presider. Pelaku dari masalah proyek masih belum di temukan,” jawab tuan Bowen.


“Oleh sebab itulah aku membutuhkan bantuan kalian. Terutama tuan Ming,” ucap Zishu menatap ke arah orang yang di sebutkan namanya.


“Saya?” sentak tuan Ming, dahinya mengernyit tidak mengerti.


“Benar. Aku butuh bantuanmu, tuan Ming. Tuan harus menjawab beberapa pertanyaanku,” tampak sekali raut wajah serius Zishu.


“Baiklah, Presider. Tanyakan saja semuanya. Saya sebisa mungkin menjawabnya,” imbuh tuan Ming tidak merasa keberatan.


“Selama ini tuan bertanggung jawab dalam mengatur dana proyek, benar?” Zishu mengajukan pertanyaan pertamanya.


“Benar. Saya yang mengatur dana proyek,”


Zishu menyandarkan tubuhnya di kursi tersebut. “Lalu kenapa bisa terjadi pembengkakan dana?”


“Saya tidak tahu kenapa itu bisa terjadi, Presider. Padahal pengaturan dana yang keluar di bawah pengawasan saya,”


“Hmmm benarkah? Apa yang bisa membuatku yakin, tuan? Bukan maksudku mencurigai tuan tapi semua ucapan perlu bukti,” dengan Zishu ringan.


“Tuan Bowen menjadi saksinya. Saya benar-benar tidak tahu perihal pembengkakan dana,”


Seketika tuan Bowen mendapat tatapan menyelidik dari Zishu.


“Itu benar, Presider! Tuan Ming memang tidak tahu bagaimana hal itu terjadi. Semuanya berada di pengawasannya tapi entah bagaimana bisa hal itu terjadi. Saya sendiri juga tidak mengerti,” ungkap tuan Bowen tanpa ragu sedikit pun.


“Baiklah, kalau begitu siapa yang bertanggung jawab membeli bahan bangunan proyek?” pertanyaan kembali di ajukan Zishu.


“Fuzei. Dialah yang bertanggung jawab membeli bahan bangunan proyek, Presider!” jawab tuan Ming.


..._____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...

__ADS_1


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...


__ADS_2