Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 78. Tidak Tinggal Diam


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Tentu saja lebih baik karena ada Presider Lui yang mengajariku,” ucap Zishu begitu santainya.


Kecanggungan di hatinya sudah menghilang perlahan. Ia benar-benar berusaha mulai menerima kehadiran Lui.


“Sudah menjadi tugasku untuk mengajari istriku,” sahut Lui seraya kembali mencium sekilas bibir peach yang menurutnya terasa manis itu.


“Berhenti menciumku terus! Nanti ada yang lihat,” cicit Zishu pelan. Sesekali ia melihat arah sekitar. Takutnya memang ada orang melihat mereka berdua.


Lui tersenyum lebar mendengarnya. “Tenang saja, di sini cuma ada kita. Tidak akan ada orang yang melihat,”


“Aku tetap takut ada orang lain lihat. Bisa-bisa ada gosip panas besok,” sahut Zishu bersungut-sungut.


“Itu sangat bagus. Biar semua orang tahu bahwa pemimpin baru dari Yan Group adalah milik Presider Lui,” imbuh Lui dengan nada menggoda.


Blush—Seketika pipi Zishu memerah. Kata Milik Presider Lui itu benar-benar membuatnya tersipu malu. Ini pertama kalinya ia mendengar kata itu dari mulut laki-laki. Bahkan Chunying tidak pernah mengatakan kata itu padanya.


“Kamu sedang malu?” sambungnya, pura-pura polos.


“Mana ada. Jangan mengada-ngada!” Zishu menyangkalnya.


“Hmmmph—Lalu apa yang membuat pipimu memerah, sayang?” tanya Lui di sela tertawa kecil.


Zishu kehabisan kata untuk menyangkal tapi beruntungnya ada telepon masuk di ponselnya.


“Eum aku angkat dulu,” Zishu melepaskan diri dari pelukan Lui.


Ia pergi ke pinggir kapal yang lain dan mengangkat telepon itu. Lui bersandar di tempatnya tadi, seraya bersedekap dada. Tatapannya fokus pada Zishu yang tengah membelakanginya itu.


“Kakak urus saja urusan di sana. Biar masalah di sini, aku selesaikan!” seru Zishu pada si penelepon yang tidak lain adalah Chen.


[...................]


“Aku tinggal membongkarnya besok dan masalah akan selesai. Bukti ada di tanganku. Mereka tidak punya kesempatan lagi untuk bersembunyi,” ucap Zishu dengan tatapan datarnya mengarah ke gedung-gedung pencakar langit yang mengelilingi dermaga.


[...................]


“Ya begitulah. Dia ada di sini,” Zishu melirik sekilas ke arah Lui.


[...................]

__ADS_1


Zishu memicingkan matanya, mendengar apa yang di katakan Chen di telepon. “Ehem aku di sini untuk menyelesaikan masalah proyek. Lagian dia datang juga karena urusan pekerjaan,”


[...................]


“Kalau sudah tidak ada hal lain lagi yang ingin kakak katakan, aku tutup dulu. Ada urusan penting yang perlu ku kerjakan,”


[...................]


Tut...


Zishu mematikan telepon secara sepihak. Tanpa memberi balasan. Chen membuatnya merasa jengah. Mengapa? Kakak angkatnya itu tadi mengatakan bahwa ia dan Lui bisa sekalian bulan madu di Shanghai.


“Bulan madu apanya? Kami saja belum saling mencintai. Apa mungkin kakak berpikir bulan madu hanya sebatas menghabiskan malam bersama. Tanpa ada cinta. Ck aku tidak mau seperti itu,” umpat Zishu pelan.


Tanpa ia sadari, Lui sudah berjalan menghampirinya. “Apa yang kamu katakan?”


“Eh—Tidak ada,” dengan cepat Zishu menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Benarkah?” tanya Lui memastikan, salah satu alisnya terangkat.


“Iya benar. Apa kamu tidak mempercayaiku?” tanya balik Zishu memasang raut wajah cemberut.


“Percaya, sayang! Jangan cemberut gitu!” Lui mengacak-acak gemas rambut Zishu.


“Hmmm ya,” deham Zishu ringan, menahan senyuman di bibirnya. Bahagia mendapat perlakuan kecil seperti itu dari Lui.


Lalu, Lui memerintahkan orang yang bertugas mengemudikan kapal agar kembali ke pinggir dermaga. Angin semakin deras, itu tidak baik bagi Zishu. Oleh karena itu, ia mengajaknya kembali.


***


Kapal tadi telah menepi ke pinggir dermaga. Zishu dan Lui segera turun.


“Malam masih panjang. Bagaimana kalau jalan-jalan lagi?” tanya Lui usai turun dari kapal.


“Aku ikut saja,” jawab Zishu tersenyum.


Lui turut tersenyum, seraya mengulurkan tangannya pada Zishu. Istrinya itu dengan senang hati menerimanya. Mereka berdua kembali bergandengan tangan. Di tambah dengan Zishu yang kini berani bergelayut manja di lengannya. Tampaklah mereka berdua seperti pasangan lain. Berjalan bersama dan bergandengan tangan. Di bawah banyaknya bintang, serta gemerlap lampu-lampu.


Mereka berdua berjalan menyusuri kawasan sekitar The Bund. Di sana juga tidak kalah ramai seperti di Nanjing Road. Ada beberapa titik yang terdapat pedagang kaki lima.


“Ada penjual bakpao di sana. Kamu mau?” tunjuk Lui pada pedagang yang di maksudkannya.


“Wah—Aku mau! Sudah lama tidak makan bakpao,” Zishu begitu antusias menjawabnya. Dari sejak kembali, ia memang belum sempat makan bakpao. Padahal bakpao salah satu makanan yang tidak pernah di lewatkannya.

__ADS_1


“Baiklah, aku belikan untukmu. Kamu mau bakpao isi apa?” tanya Lui lagi.


“Daging,” jawab Zishu yang sangat menyukai bakpao isi daging. Apalagi di makan saat masih panas. Beuh—Rasanya jauh lebih nikmat


“Tunggu di sini! Aku akan segera kembali,” seru Lui, spontan di angguki oleh Zishu.


Kemudian Lui pergi ke tempat pedagang tadi dan membeli bakpao isi daging. Zishu melihat suaminya itu dari tempatnya berdiri. Ia beruntung bisa kenal dengan Lui. Meski belum kenal sepenuhnya. Laki-laki itu perlahan mulai mengisi ruang di hatinya.


Di saat sedang menunggu bakpao pesanannya, Lui di datangi seorang perempuan. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Zishu. Namun ia tidak dapat mendengar pembicaraan antara perempuan itu dengan Lui.


“Sedang apa perempuan itu mendatanginya?” gumamnya tanpa berhenti menatap gerak-gerik perempuan yang mendatangi suaminya itu.


Perempuan itu berpenampilan seksi. Wajahnya di poles make up cukup tebal. Di tambah gerak-geriknya sedari tadi, Zishu bisa menyimpulkan. Perempuan itu sedang mencoba menggoda Lui—Suaminya.


“Ck berani sekali perempuan itu! Aku tidak boleh tinggal diam. Enak saja—Suami orang mau di goda,” tanpa sadar Zishu merasa kesal melihat itu.


Zishu benar-benar tidak tinggal diam. Ia berjalan menghampiri Lui. Sekaligus mencoba mendengar apa yang sedang di katakan perempuan itu.


“Ayolah tampan, berikan nomor ponselmu! Agar aku bisa menghubungimu tiap saat,” bujuk perempuan itu bernada centil.


Sungguh terdengar menjijikkan bagi Zishu yang hampir sampai di sana.


‘Menjijikkan sekali!’


“Kenapa diam saja, tampan? Aku sangat ingin berkenalan denganmu,” masih saja perempuan itu bernada centil. Tidak peduli Lui yang tidak menghiraukannya sedari tadi.


“Tampan!?” sambungnya memanggil Lui. Kali ini perempuan itu jauh lebih berani. Ia hampir saja menyentuh dada Lui. Namun tiba-tiba Zishu datang dan menghalanginya.


“Sayang, kenapa lama sekali? Aku sangat lapar,” rengek Zishu begitu manjanya. Bahkan tangannya kembali bergelayut di lengan Lui.


Lui mengulum senyum, mendapati Zishu yang tiba-tiba manja. Pastinya itu untuk membuat perempuan yang sedari tadi mencoba menggodanya agar pergi.


“Hei, kau siapa? Beraninya menyentuh si tampanku!” geram perempuan itu.


“Tampanmu? Apa kau yakin kalau dia tampan? Sedangkan dia memakai masker. Bagaimana bisa kau menyebutnya tampan sebelum melihat wajahnya? Oh soal siapa aku—Perkenalkan aku istrinya. Aku bisa bebas menyentuhnya. Selain itu, suamiku juga tidak suka di sentuh orang lain selain aku. Apalagi orang yang ingin menyentuhnya modelan badut, suamiku sangat tidak suka. Takut ada virus mematikan. Benar kan, sayang?” Zishu memberikan tatapan isyarat pada Lui.


Tatapan isyarat itu tentunya di mengerti oleh Lui. “Benar, sayang!”


“Siapa yang kau bilang badut heh!?” bentak perempuan itu tidak terima dengan ucapan Zishu.


...______...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...


__ADS_2