Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 85. Ke Kantor Polisi


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Presider!” seseorang datang tergesa-gesa dari arah samping Zishu.


Zishu tersenyum tipis pada orang itu. “Aku memaafkannya tapi proses hukum tetap harus berjalan. Ku harap tuan Ming tidak merasa keberatan,”


Ya—Orang itu adalah tuan Ming yang tidak sengaja melihat tuan Bowen di bawa polisi. Oleh karena itu, ia bergegas mencari Zishu untuk bertanya dan pertanyaannya sudah terjawab sebelum di tanyakan.


“Saya tidak berhak untuk keberatan, Presider. Bowen memang harus di beri pelajaran atas tindakannya,” sahut tuan Ming.


“Hmmm baguslah. Lalu bagaimana tugas tuan tadi? Apa sudah beres?” tanya Zishu mengganti topik pembahasan.


Tuan Ming mengangguk. “Semua sudah beres. Bahan bangunan akan di kirim nanti sore,”


“Oke. Sekarang tuan bisa pergi! Aku mau pergi ke kantor polisi dulu untuk menyelesaikan laporan,” ucap Zishu.


“Baik, Presider!” sahut tuan Ming mengerti dan bersiap pergi dari hadapannya. Namun Zishu tiba-tiba menghentikannya.


“Aku hampir lupa memberitahu satu hal padamu, tuan Ming! Kita akan metting jam makan siang nanti di restoran terdekat. Tuan Ming perlu menyiapkan beberapa laporan,”


“Saya mengerti, Presider! Apa ada hal lain lagi?” tanya tuan Ming, sebelum pergi.


“Itu saja,” jawab Zishu singkat.


Kemudian tuan Ming pergi, usai membalas Zishu dengan anggukan kepala.


“Mian—Kau tidak perlu ikut aku ke kantor polisi! Tetaplah di sini. Jangan lupa beritahukan para pekerja, bahwa hari ini pekerjaan di hentikan dulu. Besok mereka boleh kembali bekerja!” seru Zishu pada Mian yang sedari tadi diam mendengarkan saja.


“Baik, nona! Sesuai perintah Anda,” sahut Mian tanpa banyak bertanya.


Setelah mendapat balasan Mian, Zishu berjalan pergi. Mian juga melakukan hal yang sama tapi berlawanan arah. Zishu keluar dari bangunan proyek dan di depannya sudah ada sang sopir yang senantiasa menunggu di dekat mobil.


“Selamat siang, nona!” sapa sang sopir menunduk hormat, lalu membukakan pintu mobil.


Zishu mengangguk dan tersenyum ramah ke arah sang sopir. “Selamat siang, pak!”

__ADS_1


Dalam sekejap, Zishu telah duduk manis di dalam mobil. Sang sopir bergegas menutup pintu mobil dan juga menyusul masuk ke dalam.


“Mau ke mana, nona?” tanya sang sopir yang duduk di kursi pengemudi.


“Ke kantor polisi, pak! Ada urusan di sana,” jawab Zishu cepat.


“Siap, nona!”


Sang sopir segera melajukan mobil, meninggalkan kawasan bangunan proyek. Kantor polisi tidak berada terlalu jauh dan hanya perlu beberapa menit untuk sampai di sana .


***


Sesampainya di kantor polisi yang di tuju, Zishu dari mobil dan masuk ke dalam tanpa di ikuti sang sopir. Pihak kepolisian yang sedang bertugas, menyambut ramah kedatangannya. Zishu langsung menyelesaikan laporannya terhadap tuan Bowen agar proses hukum bisa di lakukan. Sekitar 30 menit Zishu berada di sana, hingga laporan sudah selesai di buat.


“Terima kasih, pak!” ungkap Zishu seraya beranjak berdiri dari duduknya.


“Sama-sama, nona!” sahut seorang polisi yang bertugas di bagian laporan kasus.


“Apa saya boleh menemuinya?” tanya Zishu tanpa menyebutkan siapa orang yang di maksudkannya karena polisi itu pasti sudah tahu.


Polisi itu segera mengantarkan Zishu ke sel tahanan yang terdapat tuan Bowen. Kedatangan Zishu seolah menjadi harapan untuk tuan Bowen terbebas.


“Presider!? Presider datang untuk membebaskanku?” tuan Bowen bertanya dengan antusias di balik jeruji sel tahanan itu.


Zishu terdiam sesaat menatapnya. Jika boleh di katakan, ia merasa tidak tega membuat laki-laki paruh baya itu berada di sana. Apalagi bila mengingat kalau laki-laki itu punya keluarga—Sungguh tidak tega. Namun apa yang di lakukannya juga untuk kebaikan tuan Bowen agar bisa merenungi kembali tindakannya.


“Bukan. Aku datang untuk memperjelas semua ini. Tindakan tuan memang aku maafkan tapi proses hukum harus tetap di jalankan. Jika proses hukum di abaikan, banyak orang yang akan merasa tidak adil atas sikapku. Oleh karena itu, ku harap tuan bisa menerima atas sikapku ini dan bisa merenungi tindakan tuan sendiri. Kelak tuan akan berpikir berulang kali sebelum melakukan tindakan kotor,” ucap Zishu begitu tenang dalam memberikan jawaban.


Raut wajah tuan Bowen tampak kecewa. Jawaban Zishu tidak salah tapi dirinya lah. Andai ia tidak menerima tugas dari tuan Houcun, pasti hari ini tidak pernah terjadi. “Lalu bagaimana dengan keluarga saya, Presider? Mereka hanya punya saya sebagai tulang punggung keluarga. Terlepas dari hari ini, mereka akan menjadi gelandangan. Semua harta saya sudah di jual untuk mengganti kerugian perusahaan dan perawatan para pekerja,”


“Jangan khawatirkan itu tuan! Selama tuan menjalani proses hukum, aku yang akan memenuhi kebutuhan mereka. Aku jamin hal itu,” Zishu mengerti kekhawatiran tuan Bowen dan keputusannya memang di rasa sudah benar.


“Sungguh, nona?” tanya tuan Bowen memastikan apa yang di dengarnya.


“Aku tidak akan mengingkari ucapanku, tuan!” jawab Zishu tersenyum.


Sontak tuan Bowen menghela nafas lega. Raut wajahnya tidak tampak sekecewa tadi karena Zishu sudah menyingkirkan kekhawatiran terbesarnya. “Saya lega mendengarnya, Presider! Kebaikan Presider hari ini pasti akan saya balas,”

__ADS_1


“Tuan cukup membalasnya dengan menjalani proses hukum dan tidak mengulangi kesalahan ini,” balas Zishu seraya menatap intens laki-laki paruh baya di balik jeruji sel tahanan itu.


“Baik-baiklah di sini, tuan! Aku pergi dulu!” sambungnya.


“Terima kasih, Presider! Saya pasti akan melakukannya,”


Zishu menganggukkan kepalanya sebagai balasan. Sebelum ia berbalik badan dan pergi dari jeruji sel yang terdapat tuan Bowen di dalamnya. Polisi tadi mengantarnya sampai di depan pintu kantor kepolisian. Zishu berjalan keluar dari kantor kepolisian. Langkahnya menuju ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh darinya. Sang sopir juga bergegas membukakan pintu mobil saat melihatnya.


“Kembali ke proyek, pak!” seru Zishu tepat sesudah masuk ke dalam mobil.


“Baik, nona!” sahut sang sopir.


Sang sopir masuk ke dalam mobil, usai menutup pintunya. Mobil langsung melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah lokasi proyek. Selama dalam perjalanan kembali ke proyek, Zishu memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan masuk. Dua di antaranya adalah dari Lui dan Chen. Zishu membuka pesan mereka bergantian. Tidak lupa pula membalasnya.


[Lui💬: Nanti mau makan siang bersama, sayang?]


[Sepertinya tidak bisa. Aku akan makan siang bersama orang-orang proyek, sekaligus metting. Maaf^_^]


Zishu lanjut membuka pesan dari Chen, usai memberi balasan pada Lui.


[Chen💬: Terima kasih, Zi’er! Masalah di proyek telah selesai karenamu. Ah—Sepertinya kakak belum cukup baik dalam menyelesaikan permasalahan]


[Chen💬: Kakak mendapat kabar dari nenek, keluarga Chunying akan datang besok. Mereka ingin membicarakan soal pernikahan. Apa kakak perlu pulang besok dan mengatasi hal ini untukmu?]


Dahi Zishu mengerut membaca pesan kedua dari Chen. Ia sedikit terkejut mendengar kabar itu. Pasalnya Chunying juga tidak ada memberitahunya. Namun beberapa saat kemudian, bibirnya mengembangkan sebuah senyuman samar.


[Aku bisa mengatasinya sendiri, kak. Kakak tidak perlu pulang]


...


_____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...

__ADS_1


__ADS_2