
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
Zishu dan Lui berjalan-jalan mengitari kawasan Wangfujing. Terkadang keduanya mampir di beberapa toko yang ada di sana. Entah hanya sekedar melihat mau pun membeli barang yang menarik untuk di beli. Tidak jarang juga, mereka berdua membeli jajanan. Sampai tidak terasa sudah lebih dari setengah jam, mereka berdua berjalan-jalan di sana.
“Bagaimana sekarang perasaan nona?” tanya Lui.
Saat ini Zishu dan Lui tengah duduk di kursi yang terdapat di dekat sebuah toko. Mereka berdua duduk berhadapan, di bawah cahaya lampion-lampion.
“Jelasnya lebih baik daripada tadi. Terima kasih sudah membawaku jalan-jalan ke sini, tuan Lui. Aku tidak menerima ajakan tuan,” ungkap Zishu tersenyum manis. Ia senang datang ke Wangfujing.
“Tidak masalah. Saya senang bisa membawa nona ke sini,” ucap Lui ikut tersenyum. Tidak salah membawa Zishu ke sini. Ia dapat melihat senyuman itu.
`Terkadang terlihat lucu, juga menggemaskan. Sekarang lihatlah, nona Zishu ini terlihat cantik dan manis dengan senyumannya. Benar-gadis yang mendominasi,` batin Lui
“Tuan senang, apalagi aku. Dulu aku pernah ke sini tapi itu sudah sangat lama. Kalau tuan tidak mengajakku hari ini, mungkin aku tidak terpikirkan ke sini. Jadi aku harus berterima kasih untuk itu—” tukas Zishu belum selesai, Lui sudah menyelanya.
“Seharusnya saya yang berterima kasih. Nona sudah mau menerima ajakan saya,” sela Lui
“Kalau begitu, kita impas dalam hal ini. Tidak perlu di perdebatkan lagi, bukan?” celetuk Zishu. Tangan kanannya menopang dagunya.
“Hha iya kita impas,” tawa kecil lolos dari mulut Lui.
“Lalu sekarang, apa yang akan nona dengan tunangan nona?” lanjutnya penasaran.
“Tuan penasaran?” Zishu bertanya balik.
“Kalau nona tidak mau memberitahukan, juga tidak apa-apa. Itu hak nona,” Lui bersandar dengan nyamannya di kursinya.
“Aku akan membatalkan pernikahan kami. buat apa di lanjutkan, jika salah satunya tidak bisa setia. Sebuah hubungan tanpa kesetiaan, yakinlah akhirnya hanya akan ada kekecewaan. Jadi lebih baik aku tidak melanjutkannya,” ungkap Zishu enteng.
“Lagi pula, aku tidak harus mengemis perasaan padanya. Silahkan ia selingkuh dengan perempuan mana pun, termasuk kakak sepupuku. Aku tidak peduli. Namun satu hal yang aku sayangkan. Ia mengecewakan orang tuaku dan orang tuanya sendiri,”lanjutnya tanpa memperlihatkan raut wajah apa pun.
“Bagaimana dengan perasaan nona sendiri?” tanya Lui ingin tahu.
“Aku? Tentu juga merasa kecewa. Aku menyukainya. Dulu sangat senang bisa bertunangan dengannya. Berharap aku dengannya bisa hidup bahagia selamanya. Ternyata harapan itu sekarang hanya menjadi sebuah khayalan. Pengkhianatannya yang ku baru ketahui saat kembali ke sini, sudah menghilangkan rasa suka ku. Harapan hidup bahagia bersama, juga ikut hilang” tanpa sadar, Zishu mengungkapkan isi hatinya. Mungkin karena merasa nyaman berbicara dengan Lui.
__ADS_1
“Apa rasa suka nona sudah berganti menjadi benci?” tanya Lui lagi.
“Aku memang membenci pengkhianatan tapi bisa memaafkan, bukan melupakan. Aku memaafkannya. Mengapa? Sebab setiap manusia pasti memiliki salah, termasuk dirinya. Salahnya di sini adalah berkhianat. Namun dengan itu, aku menyadari sesuatu. Bahwa ia bukan laki-laki terbaik yang di takdirkan untukku.” jawaban yang di berikan Zishu membuat Lui kagum. Ia tidak menduga jawaban bijak dari Zishu.
“Saya tidak menduga jawaban ini dari nona! Sangat bijak,” seru Lui tersenyum manis.
“Ah maafkan aku, tuan. Aku terlalu banyak bicara,” sentak Zishu, ketika sadar dirinya banyak bicara.
“Hhaha saya justru senang mendengarnya. Bagaimana kalau nona menikah dengan saya?” tanya Lui di sela tawa kecilnya. Sontak Zishu memicingkan kedua matanya.
“Ha—menikah?” beo Zishu berusaha memastikan apa yang di dengarnya. Takutnya ia salah dengar karena keramaian di sekitar.
“Iya, menikah. Menikahlah dengan saya,” seru Lui memperjelas ucapannya dan Zishu tentu terkejut mendengarnya.
“A—apa maksud tuan?” gagap Zishu, tiba-tiba ia menjadi kikuk sendiri. Bagaimana bisa Lui mengajaknya menikah. Terdengar sangat mustahil!
“Apa ucapan saya kurang jelas? Saya mengajak nona menikah,”ulang Lui yang kali ini menatap serius Zishu.
“Tu—an jangan bercanda. Ini tidak lucu!” Zishu membalas tatapan Lui dengan raut wajah terkejut, sekaligus tidak percaya.
“Siapa bilang saya bercanda? Saya serius. Menikahlah dengan saya,” ucap Lui masih dengan tatapannya yang sama.
“Saya ingin memiliki nona,” satu jawaban dari Lui membuat Zishu melongo tidak percaya.
“Tuan sangat lucu! Bagaimana bisa mengajakku menikah hanya karena rasa ingin memiliki? Rasa itu manusiawi tuan. Semua orang pasti ingin memiliki tapi dalam hubungan serius ini, tidak cuma memerlukan itu. Kita perlu rasa cinta dan suka di dalamnya. Agar hubungan ini bisa berjalan dengan baik, bahagia dan bertahan selamanya. Jangan jadikan rasa ingin memiliki sebagai alasan mengajakku menikah, tuan. Aku tidak akan mau,” cecar Zishu bernada datar.
“Saya tahu itu. Hubungan ini serius, begitu juga saya sendiri. Saya tidak pernah mengajak seorang perempuan untuk menikah. Sungguh ini baru pertama kali. Entahlah kenapa sebabnya saya bisa yakin untuk itu,” ungkap Lui serius.
“Jika nona bersedia menerima ajakan saya. 3 hal yang akan saya lakukan. Berusaha mencintai, membahagiakan serta menjadikan nona sebagai yang pertama dan terakhir. Saya tidak menyebut 3 hal itu sebagai janji. Melainkan hal yang akan saya buktikan pada nona. Saya serius, nona!” lanjutnya.
Percayalah, tanpa sadar ucapannya telah membuat Zishu tersentuh. Namun sesaat setelahnya, Zishu kembali tersadar. Ia tidak bisa percaya begitu saja. Makanya ia berusaha mencari kebohongan di mata Lui. Sayangnya di sana hanya keseriusan yang di temukannya.
Benarkah keseriusan tuan Lui ini? Pikir Zishu.
Perasaannya malam ini di buat campur kaget oleh Lui. Antara terkejut, sekaligus tidak menyangka. Pertama karena Lui tiba-tiba membelikannya Es Krim. Sekarang mengajaknya menikah. Zishu tidak menduga akan kedua kejadian itu hari ini. Namun inilah yang terjadi.
“Tuan benar-benar serius dengan ini?” tanya Zishu memastikan.
__ADS_1
“Sangat serius. Saya tidak akan main-main dengan keputusan yang menyangkut hubungan serius ini. Jadi, apa nona mau menerima ajakan saya?” tanya Lui tanpa mengubah nada bicaranya. Tatapannya menenangkan tapi sangatlah serius.
“Tuan yakin?” tanya balik Zishu, kembali memastikan sekali lagi.
Menikah, bukanlah sebuah hubungan yang bisa di anggap remeh. Perlu memastikan keseriusan terlebih dulu, sebelum memutuskan menerimanya atau tidak.
“Sangat yakin, nona!” jawab Lui tegas.
“Baiklah, kalau begitu beri bukti atas keseriusan tuan. Aku membutuhkannya untuk melihat seberapa tuan serius pada ajakan ini,” tanpa ragu, Zishu meminta hal itu dari Lui.
Entahlah, tiba-tiba keterkejutan hilang dan berganti menjadi perasaan yang sulit di jelaskannya. Perasaan itu datang tiba-tiba. Ia tidak mengerti sama sekali. Jelasnya, ia ingin melihat keseriusan dari Lui. Jika benar Lui serius mengajaknya menikah, mungkin ia akan menerimanya. Ya—tidak salah menerimanya. Di lihat dari nada atau tatapan Lui pun, Zishu sudah melihat keseriusannya. Meski ini terjadi sangat cepat dan mendadak tapi bukan mustahil, kalau hal ini terjadi.
“Ayo pergi!” ajak Lui, tiba-tiba beranjak berdiri dari kursinya.
“Eh—ke mana?” sentak Zishu bingung. Bukankah tadi ia meminta bukti keseriusannya, lalu kenapa mengajaknya pergi.
“Ke kediaman keluarga nona,” sahut Lui sambil menatap Zishu yang masih tidak bergerak dari tempatnya.
“Buat apa?” tanya Zishu belum mengerti.
“Bukankah nona tadi ingin saya membuktikan keseriusanku? Saya akan membuktikannya malam ini juga dengan melamar nona,” ucap Lui tersenyum tipis.
“Hah?”Zishu melongo tidak percaya.
Lui ingin membuktikan keseriusannya dengan melamar malam ini juga?
Ini Gila!!!
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]
...
__ADS_1
^^^ ^^^