Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 09. Berhenti memikirkan!


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Kenapa aku bisa ceroboh sekali hari ini!? Sampai tidak memperhatikan jalan,” rutuk Zishu pada dirinya sendiri.


Saat ini Zishu sudah berlari cukup jauh dari tempatnya tadi. Kegugupannya sekarang sudah bisa di netralkannya. Namun sosok laki-laki tadi, belum bisa di hilangkannya.


“Ngomong-ngomong siapa laki-laki itu? Sangat tampan dan sepertinya wajahnya tidak asing bagiku,” gumam Zishu tanpa sadar.


Tidak pernah sekali pun ia memuji seorang laki-laki seperti itu. Yah meski Chen dan Jun tampan tapi ia rasa laki-laki tadi memiliki ketampanan yang berbeda. Lebih tepatnya laki-laki itu memiliki pesonanya sendiri.


“Eh tunggu dulu! Kenapa aku memikirkan laki-laki itu? Tidak—ini salah! Berhenti memikirkan itu, Zishu! Sebaiknya aku pulang sekarang,” sentaknya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika sudah sadar akan ucapannya tadi.


Zishu segera melanjutkan larinya menuju arah kediaman Keluarga Yan Utama. Bersamaan dengan itu, ia berusaha menepis pikirannya tentang laki-laki tadi. Tidak akan ia biarkan bayang-bayang dari laki-laki tadi mengganggu pikirannya.


30 menit kemudian


Setelah menempuh waktu 30 menit, Zishu sudah sampai di kediamannya. Ia langsung saja pergi ke dapur dan mengambil segelas air untuk menghilangkan rasa hausnya.


“Kenapa tidak ajak kakak untuk lari pagi?” tiba-tiba Chen datang menghampirinya yang sedang minum. Di lihat dari penampilannya sekarang, Chen bersiap untuk lari pagi.


“Hehe aku lupa, kak!” kekeh Zishu sesudah selesai minum.


Ia memang benar-benar lupa untuk mengajak Chen pagi tadi. Hal itu dikarenakan Zishu sangat bersemangat untuk menikmati segarnya udara di pagi hari, di sini setelah 3 tahun lamanya.


“Ya sudahlah tidak apa-apa tapi kamu tadi lari di sekitar kawasan sini saja kan? Tidak berlari terlalu jauh,” tanya Chen yang sudah berada di hadapan Zishu.


“Iya aku lari di sekitar kawasan sini saja, kak!” jawab Zishu sembari meletakkan gelas kosong yang ada di tangannya.


“Kalau begitu syukurlah. Kakak hanya khawatir, jika kamu berlari terlalu jauh. Mungkin mereka akan mengetahui kepulanganmu,” ucap Chen merasa lega.


“Aku memang sengaja berlari di sekitar kawasan sini saja agar mereka tidak tahu,” timpal Zishu


“Kakak mau lari pagi?” lanjutnya lagi sembari menatap intens Chen.


Chen terlihat sangat Cool dengan set olahraga berwarna hitam. Di tambah lagi topi dan sepatunya yang juga berwarna hitam senada, menambah kesempurnaan penampilannya.


“Iya kakak mau lari pagi. Padahal mau lari pagi bersamamu, eh ternyata di tinggalin.” ledek Chen membuat Zishu terkekeh.

__ADS_1


“Hehe bukan di tinggalin tapi aku lupa, kak!” protes Zishu


“Ya intinya sama saja. Sudahlah, kakak mau lari sekarang!” seru Chen yang tidak ingin mempermasalahkan lagi soal tadi.


“Oke deh. Semangat, kak!” Zishu mengedipkan sebelah matanya.


Chen menggeleng-gelengkan kepalanya melihat itu. Sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan Zishu, tanpa berucap lagi.


“Nona!” panggil seorang pelayan yang baru saja menghampiri Zishu.


“Ada apa, bi?” tanya Zishu menatap pelayan itu.


“Nona mau bibi buatkan sarapan sekarang? Siapa tahu nona lapar setelah lari pagi,” tawar pelayan itu.


“Lapar sih iya, bi! Cuma nanti saja aku sarapan bersama nenek dan kakak,” tolak Zishu secara halus.


Tidak di ungkirinya kalau sekarang ia sedang lapar. Namun ia tidak ingin sarapan lebih dulu daripada nyonya Jia Lee dan Chen.


“Em tapi bibi bisa buatkan aku susu dan salad buah,” lanjutnya


“Baik, non! Bibi akan buatkan sekarang,” sahut pelayan itu.


“Iya, nona!” pelayan itu mengangguk mengerti.


Zishu segera pergi dari dapur setelah mendapat balasan dari pelayan tadi. Ia pergi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya, sekaligus bersiap-bersiap. Yah seperti ucapannya kemarin malam, hari ini ia akan jalan-jalan di temani Chen.


***


Jam 08.00 pagi


Di k****ediaman Keluarga Yan Utamam


“Nek, kami pergi jalan-jalan sekarang!” pamit Zishu pada nyonya Jia Lee, setelah selesai sarapan pagi.


“Kalian berdua bersenang-senanglah,” sahut nyonya Jia Lee tersenyum.


“Itu sudah pasti!” Zishu tampak bersemangat untuk jalan-jalan hari ini. Ia sudah tidak sabar untuk mengunjungi beberapa tempat yang telah lama tidak di datanginya.


“Kami pergi dulu, nek!” timpal Chen berpamitan pada nyonya Jia Lee.

__ADS_1


“Hati-hati di jalan!”


Sebelum pergi, Zishu mencium pipi kanan nyonya Jia Lee. Hal itu memang sudah menjadi kebiasaannya sejak lama, begitu juga dengan Chen. Bisa di bilang kebiasaan itu sebagai bukti kasih sayang keduanya pada nyonya Jia Lee.


Setelahnya Zishu dan Chen berjalan pergi dari ruang makan, menuju keluar dari kediaman. Di depan kediaman sudah terdapat mobil sport berwarna putih. Mobil sport yang menjadi kesayangan Zishu, sebab merupakan hadiah terakhir dari orang tuanya.


“Ini kuncinya, nona!” seru seorang laki-laki dewasa, berpakaian lengkap layaknya sopir. Laki-laki dewasa itu menyerahkan kunci mobil kepada Zishu.


“Terima kasih, kak Lin!” ungkap Zishu tersenyum, ia menerima kunci itu.


Shilin atau yang lebih sering di panggil Lin, merupakan sopir pribadi keluarga Zishu sejak 5 tahun lalu. Usianya baru menginjak 28 tahun. Sudah memiliki istri dan di karuniai dua orang anak. Shilin juga bernasib sama seperti Chen. Namun berkat orang tua Zishu, sekarang Shilin sudah memiliki kehidupan yang layak. Oleh sebab itulah, ia juga berjanji untuk setia pada keluarga Zishu.


“Sama-sama, nona! Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu,” laki-laki dewasa yang di panggil kak Lin menunduk hormat pada Zishu dan Chen.


“Iya, kak!” sahut Zishu dan setelahnya barulah Shilin pergi dari hadapannya.


“Ayo pergi kak!” lanjutnya sembari melemparkan kunci mobil tadi pada Chen.


“Kamu tidak mau mengemudikannya sendiri?” tanya Chen setelah berhasil menangkap kunci mobil yang di lempar Zishu.


“Hari ini biarkan kakak saja yang mengemudikan. Aku ingin menikmati jalan-jalan hari ini,” jawab Zishu


“Baiklah. Sesuai keinginanmu, Zizi!” sahut Chen langsung menekan tombol di kunci untuk membuka pintu mobil otomatis.


Pintu di kedua sisi mobil terbuka otomatis setelah Chen menekan tombol pada kunci. Zishu segera masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Chen. Pintu kembali tertutup otomatis saat Zishu dan Chen sudah masuk ke dalam mobil. Sabuk pengaman pun sudah terpasang dan keduanya sudah siap berangkat.


“Apa tempat pertama yang ingin kamu tuju?” tanya Chen sebelum mengemudikan mobil.


“Pemakaman! Aku ingin bertemu dengan papa dan mama,” jawab Zishu menatap sekilas ke arah Chen.


“Baiklah, kita berangkat sekarang!” sahut Chen yang segera melajukan mobil.


Mobil melaju keluar dari gerbang utama kediaman dengan kecepatan sedang. Menembus jalanan kawasan kediaman yang tidak terlalu ramai seperti biasanya. Menuju ke arah pemakaman yang terletak tidak jauh dari pinggiran kota.


..._____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...

__ADS_1


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...


__ADS_2