
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
“Kamu ingat bukan? Ulang tahunmu tinggal beberapa hari lagi,” ucap nyonya Jia Lee, membuka pembicaraan kembali setelah sampai di ruang tamu.
Saat ini Zishu, nyonya Jia Lee dan Chen sudah duduk di sofa yang ada di ruang tamu.
“Ya, aku ingat. Ada apa dengan itu, nek?” tanya Zishu
“Kamu sudah tahu bukan, ulang tahunmu kali ini berbeda. Kita akan merayakannya dengan meriah. Perayaan yang akan di adakan bersamaan dengan meresmikan jabatanmu sebagai pemimpin baru perusahaan Yan Group dan semua harta Keluarga Yan Utama resmi menjadi milikmu. Sesuai dengan wasiat papamu,” ucap nyonya Jia Lee tampak serius.
“Aku tahu itu, lalu apa masalahnya? Sepertinya nenek sedang mengkhawatirkan sesuatu,” ucap Zishu, ia melihat jelas kekhawatiran yang di rasakan nyonya Jia Lee.
“Nenek khawatir terhadap kedua keluarga bagian Yan. Kamu sudah tahu bagaimana mereka selama ini. Sangat besar kemungkinan, jika mereka akan melakukan sesuatu untuk menggagalkan acara ini.” sahut Chen mewakili jawaban nyonya Jia Lee.
“Apa yang perlu di khawatirkan dari mereka itu? Jika mau menggagalkan acaraku, memangnya mereka mampu untuk itu? Ku rasa tidak sama sekali,” Zishu tampak santai, tidak seperti neneknya dan Chen.
“Kenapa kamu berucap begitu? Nenek sangat mengkhawatirkan hal itu. Namun lihatlah, kamu sangat santai menanggapinya.” nyonya Jia Lee menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kakak juga penasaran. Bagaimana kamu bisa sesantai ini menanggapi kekhawatiran nenek?” timpal Chen
“Kita tidak perlu menanggapinya terlalu serius. Jika mereka ingin menggagalkan acaraku, silakan di coba! Kita hanya perlu mengikuti alur yang mereka rencanakan. Namun aku pastikan, acaraku tidak akan gagal karena mereka.” ucap Zishu menatap nyonya Jia Lee dan Chen secara bergantian.
“Kamu sangat yakin akan hal itu?” tanya Chen memastikan
“Ya, aku yakin! Di tambah lagi, ada kakak bersamaku. Mereka tidak akan bisa menggagalkan acaraku,” jawab Zishu tersenyum
“Iya benar. Tidak akan kakak biarkan mereka berhasil menggagalkan acara nanti. Kamu tenang saja!” seru Chen dengan serius.
“Nah nenek sudah dengarkan? Nenek tidak perlu merasa khawatir lagi. Ada kakak bersamaku untuk melawan mereka,” kini Zishu berucap kembali pada nyonya Jia Lee.
“Tapi nenek tetap saja khawatir,” ungkap nyonya Jia Lee masih khawatir.
“Ah sudahlah, nek! Jangan khawatirkan itu lagi. Terpenting sekarang, nenek harus menjaga kesehatan. Aku tidak mau ya, nenek jatuh sakit lagi!” peringat Zishu
__ADS_1
“Baiklah,” nyonya Jia Lee menghela nafasnya. Berusaha menghilangkan kekhawatirannya, seperti yang di minta Zishu.
Yah meski begitu, rasa khawatirnya tidak bisa semudah itu di hilangkan. Nyonya Jia Lee memikirkan keselamatan cucu perempuannya itu. Sebagai seorang ibu, pastinya nyonya Jia Lee mengetahui benar sifat ketiga putranya. Oleh sebab itulah nyonya Jia Lee khawatir. Kekhawatirannya itu tertuju pada sifat ambisius kedua adik tuan Jiang. Mereka pasti tidak akan diam begitu saja melihat Zishu mewarisi semuanya.
“Nah itu lebih bagus,” ucap Zishu senang, ia memeluk manja neneknya.
“Sekarang sudah saatnya nenek minum obat kan?” lanjut sesaat setelah melirik arah jam dinding.
“Iya nenek akan minum obat di kamar,” sahut nyonya Jia Lee.
“Kalau begitu sekarang aku antar nenek ke kamar. Nenek harus minum obat tepat waktu dan setelah itu beristirahat,” ucap Zishu, ia memang sangat memperhatikan kesehatan neneknya itu. Hal itu wajar sebab ia sangat menyayangi nyonya Jia Lee.
“Nenek tidak ingin pergi ke kamar sekarang. Masih banyak yang ingin nenek bicarakan denganmu, Zi`er!” seru nyonya Jia Lee, menolak pergi sekarang ke kamarnya.
“Ayolah, nek! Kita masih banyak waktu untuk berbicara. Saat ini terpenting adalah kesehatan nenek. Aku tidak ingin nantinya kesehatan nenek menurun lagi. Jadi turuti ucapanku ya!?” bujuk Zishu semanis mungkin. Ia bahkan memasang raut wajah memelas. Siapa yang akan bisa menolaknya, jika Zishu sudah memperlihatkan raut wajah seperti itu.
“Turuti saja apa kata Zi`er, nek! Ini juga demi kesehatan nenek,” timpal Chen ikut membujuk.
“Kalian berdua ini, selalu saja kompak! Baiklah nenek akan pergi ke kamar sekarang. kalian juga pergilah ke kamar. Ingat, jangan tidur terlalu malam!” nyonya Jia Lee tidak bisa menolak lagi. Zishu dan Chen selalu saja kompak dalam segala hal. Termasuk mengutamakan kesehatannya.
“Jangan khawatirkan itu, nek! Besok adalah hari weekend, jadi aku tidak mempunyai pekerjaan yang harus ku kerjakan malam ini.” timpal Chen lega sebab memang hari weekend lah yang selalu di tunggunya. Hari dimana, ia bisa bersantai tanpa ada pekerjaan.
“Baguslah,” ucap nyonya Jia Lee sembari tersenyum manis.
“Nenek mau ku antar?” tawar Zishu sembari membantu nyonya Jia Lee beranjak dari duduknya.
“Tidak usah. Ada bibi Chu yang akan membantu nenek ke kamar.” tolak nyonya Jia Lee dengan halusnya.
Bibi Chu yang di maksudkan nyonya Jia Lee, sudah sedari tadi berdiri di sampingnya. Bisa di bilang, bibi Chu adalah pelayan pribadi nyonya Jia Lee. Jadi pastinya akan berada di sekitar nyonya Jia Lee setiap saat, terkecuali di saat jam beristirahat.
“Eum baiklah, nek!” Zishu mangut-mangut mengerti.
“Ya sudah, nenek ke kamar dulu!” pamit nyonya Jia Lee yang sekarang sudah berhasil berdiri.
“Baik, nek. Selamat malam,” ucap Zishu dan Chen secara bersamaan.
__ADS_1
“Selamat malam juga,” sahut nyonya Jia Lee. Bibi Chu segera memapah nyonya Jia Lee. Untuk membantunya berjalan.
“Permisi, nona dan tuan!” pamit bibi Chu dengan sopannya pada Zishu dan Chen.
Zishu dan Chen membalas dengan anggukan kepala. Setelahnya barulah nyonya Jia Lee pergi bersama Bibi Chu yang membantu memapahnya.
“Kak!” panggil Zishu sembari mendudukkan dirinya kembali ke sofa.
“Ada apa?” tanya Chen penasaran.
“Kedatanganku tidak ada yang tahu kan? Selain penghuni di kediaman ini?” tanya Zishu balik.
“Soal itu, kamu tenang saja. Kedatanganmu tidak di ketahui siapa pun, tanpa terkecuali keluarga Yan dua bagian.” jawab Chen
Sebelumnya Chen memang sudah menyiapkan segalanya. Memastikan kedatangan Zishu hanya di ketahui para penghuni kediaman keluarga Yan Utama. Sama seperti yang di minta oleh Zishu.
“Kakak memang selalu bisa ku andalkan,” Zishu memberi cap 2 jempol pada Chen.
“Itu sudah pasti,” sahut Chen tersenyum.
“Oh iya kak. Besok kakak pergi main basket lagi kan?” tanya Zishu yang mengingat benar jadwal dari Chen.
Biasanya di hari Weekend, Chen menghabiskan waktunya untuk bersantai. Namun tidak jarang juga, ia pergi bermain basket bersama teman-temannya untuk sekedar berkumpul.
“Iya pergi. Memangnya kenapa?” tanya Chen belum mengerti.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤
]
__ADS_1