Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 73. Pilihan


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Buat apa saya ragu, nona? Jika saya memang tidak mengerti,” laki-laki itu tetap bersikeras dan terlihat tenang.


Namun Zishu tidak percaya begitu saja. Ia yakin bahwa laki-laki itu mengetahui orang yang telah membuat masalah dalam proyeknya.


‘Di luar tampak tenang tapi tatapannya tidak bisa menyembunyikan apa pun. Sepertinya aku perlu melakukan sesuatu yang bisa membuatnya mau mengungkapnya,’ batin Zishu


“Baiklah, jangan salahkan saya setelah ini!” seru Zishu seraya mengambil ponselnya di dalam tasnya.


Dahi laki-laki itu mengernyit. “Apa yang akan nona lakukan? Saya sungguh tidak mengerti maksud nona tadi,”


“Tunggu dan lihatlah!”


Zishu mencari nomor ponsel seseorang. Bukan Chen, melainkan AnRan. Setelah ketemu, ia langsung menghubunginya di hadapan laki-laki yang merupakan bos dari tempat pembelian bahan bangunan tersebut.


“Halo kak! Ini aku—Zishu,” sapa Zishu ramah, ketika teleponnya di angkat.


[................]


“Benar, aku ingin kakak melakukan sesuatu sekarang!” balas Zishu. Matanya menatap misterius ke arah laki-laki di hadapannya.


[...............]


“Buat bangkrut MTStore yang ada di kota Shanghai,” sontak ucapan Zishu membuat laki-laki di hadapannya terkejut.


“Nona—”


Belum sempat ucapan laki-laki selesai, Zishu memberinya isyarat tangan untuk diam saja.


“Apa kakak bisa melakukan itu sekarang?” sambungnya di telepon.


[................]


“Baiklah kak. Terima kasih,” ungkap Zishu mengulum senyum, sebelum mengakhiri telepon secara sepihak.


“Nona sedang bercanda kan?” laki-laki itu bertanya untuk memastikan. Berharap Zishu sedang bercanda saja.

__ADS_1


“Buat apa saya bercanda, tuan?” tanya balik Zishu hangat tapi justru membuat bos dari tempat itu merasa semakin takut.


“Bagaimana bisa nona lakukan ini pada saya? Saya benar-benar tidak tahu siapa orang yang telah membuat masalah di proyek perusahaan nona. Tidak seharusnya saya di perlakukan seperti ini,” cecarnya tidak terima. Bahkan raut wajahnya berubah menjadi begitu menyedihkan untuk menutupi ketakutannya.


Zishu menyipitkan matanya. “Lalu saya harus bagaimana? Tuan tidak mau menjawab pertanyaan saya,”


“Saya sudah menjawab pertanyaan nona,” sahut laki-laki itu cepat.


“Tapi tidak memberikan jawaban yang saya inginkan,” Zishu menimpali dengan intonasi jelas.


“Hanya jawaban itu yang bisa saya berikan. Nona tidak bisa memaksa saya untuk memberikan jawaban yang memang tidak ada,” protes laki-laki itu, masih dalam raut wajah menyedihkan.


“Memaksa itu hak saya dan memilih itu hak Anda. Pilihan untuk tuan hanya ada dua. Memberikan jawaban yang saya inginkan atau tempat tuan ini mengalami kebangkrutan. Rasanya tidak adil kalau cuma saya yang mendapat kerugian. Tuan juga harus mendapatkannya sebab menyembunyikan identitas orang yang telah membuat saya mengalami kerugian. Cukup adil, bukan?” ucap Zishu santai tanpa memedulikan raut wajah kesedihan laki-laki itu.


“Ini tidak adil, nona Zishu! Saya tidak tahu soal masalah di proyek nona, apalagi pelakunya. Lalu kenapa saya yang harus ikut menanggung kerugian? Saya tidak terima. Nona tidak bisa datang dan bertindak seenaknya seperti ini,” tukasnya semakin protes.


“Terserah saja. Pada intinya, keputusan soal ini ada di tangan tuan. Berpikirlah baik-baik. Saya tunggu keputusan tuan sampai nanti malam. Terima kasih atas waktunya,” Zishu beranjak berdiri. Senyuman hangat di perlihatkannya.


‘Anda tidak mempunyai pilihan selain memberiku jawaban yang ku inginkan,’ batin Zishu


Tanpa menunggu sang pemilik ruangan berdiri, Zishu berjalan pergi. Meninggalkan laki-laki si pemilik ruangan gelisah dalam pikiran berkecamuk.


“Tidak—Aku tidak boleh panik. Nona Zishu pasti hanya sedang menakutiku,” gumamnya berusaha menenangkan pikirannya.


“Hoshh—Hoshh tuan, ini gawat!!!” lapornya dengan nafas tersengal.


“Apa yang terjadi?” tanya laki-laki itu cepat. Pikirannya berusaha menepis dugaan buruk soal hal gawat yang di katakan pekerjanya.


“Semua transaksi pembelian di tempat kita di batalkan secara bersamaan. Para agen pembelian kita juga telah memutuskan kerja sama. Lebih parahnya lagi, semua pembeli meminta pengembalian dana. Jika tidak di kembalikan, kita akan di tuntut. Bagaimana ini bos!?”


Panik—Perasaan itulah yang tengah di rasakan pekerja tersebut. Tetapi, jauh lebih panik pemilik dari tempat itu.


Sontak wajah laki-laki paruh baya itu memucat.


“Ini buruk—Sangat buruk!”


***


Sepertinya dari ruangan tadi, Zishu telah kembali ke dalam mobil. Tentu dengan raut wajah santainya membuat Mian penasaran.

__ADS_1


“Nona terlihat santai sekali. Apa sudah menemukan siapa pelakunya?” tanya Mian spontan.


“Kita akan tahu nanti malam. Sekarang aku ingin berkas yang tadi ku minta. Ada dimana ruangan kak Chen?” tanya balik Zishu seraya menyandarkan tubuhnya di kursi.


“Ada di Villa, nona!” jawab Mian, tidak bertanya lagi soal tadi. Ia akan tahu juga secepatnya.


“Oh baiklah. Kita ke sana sekarang! Sudah cukup memantau proyek hari ini,” Zishu menatap ke arah Mian yang duduk di kursi samping kursi sopir.


“Siap nona,” Mian mengangguk mengerti, kemudian memberikan isyarat pada sopir di sebelahnya.


Sopir itu langsung mengerti dan mobil segera di lajukan menuju Villa yang Mian maksudkan. Villa tersebut merupakan milik keluarga Yan Utama. Letaknya tidak berada di pusat kota. Tepatnya berada di sekitar pinggiran kota yang masih asri akan kehijauan tumbuhan serta pepohonan. Berada di sana sangat nyaman dan tenang. Dulu tuan Jiang sengaja membelinya sebab letaknya yang strategis, juga suasananya. Sehingga cocok di gunakan setiap kali berlibur atau datang ke Shanghai.


45 menit kemudian...


Tak terasa, mobil yang membawa Zishu telah berhenti di sebuah halaman Villa. Dapat di pastikan bahwa itu adalah halaman Villa keluarganya. Zishu mengenalinya, meski sudah lama tidak datang ke sana.


“Suasana di sini masih sama. Aku menyukainya,” gumam Zishu mengulum senyum, matanya tidak henti menatap bangunan Villa keluarganya


Bersamaan dengan pintu mobil di buka. Ia berjalan turun dari mobil. Di sambut oleh Mian yang telah lebih dulu turun.


“Selama ini Villa keluarga nona, di rawat dan di jaga oleh orang suruhan tuan Chen. Tuan sendiri jarang datang ke sini. Terakhir kali datang, saat proyek akan di mulai. Di sinilah tuan Chen menginap,” ucap Mian pada Zishu.


Zishu mengangguk-anggukan kepalanya. Kakinya mulai melangkah masuk ke dalam Villa yang sudah tidak terkunci pintunya. Seperti dulu, tidak ada perubahan dalam Villa itu. Masih sama, baik itu interiornya sampai tata letak barang di dalamnya. Keadaan Villa pun tampak bersih dan terawat. Chen sangat pintar mencari orang yang bisa di percaya untuk menjaga Villa keluarga Yan Utama. Zishu mengakui hal itu. Sedari tadi Zishu tidak hentinya tersenyum. Hatinya merasa senang bisa datang ke Villa keluarganya itu lagi.


Tidak ingin mengganggu Zishu yang masih sibuk melihat-lihat Villa, Mian bergegas pergi ke ruangan Chen. Di sana, ia mengambilkan berkas yang di minta oleh Zishu tadi. Kemudian segera kembali menghampiri atasannya lagi.


“Nona!” panggil Mian, usai kembali dari ruangan Chen.


Sontak Zishu mengalihkan tatapannya dari objek yang sedang di lihatnya.


“Maaf mengganggu. Ini berkas yang tadi nona minta,” sambungnya menjelaskan. Di tangannya membawa berkas hijau.


“Kapan kamu mengambilnya?” mata Zishu menyipitkan. Pasalnya ia tidak menyadari saat Mian tadi pergi mengambil berkas.


“Baru saja, nona!” sahut Mian tersenyum seraya memberikan berkas hijau itu pada Zishu di hadapannya.


..._____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...


__ADS_2