
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
“Tidak! Kakak jangan pikir macam-macam deh,” bantah Zishu cepat.
“Benarkah?” tanya Chen seolah tidak percaya.
“Benar. Kami tidak berkencan. Hanya jalan-jalan biasa,” jawab Lui tenang, sedangkan Zishu sudah mulai kesal terhadap Chen.
“Nah kakak dengar sendiri kan? Jadi berhentilah meragukan kami!” Zishu mendengus kesal. Sebenarnya bukan benar-benar kesal. Ia hanya malu karena di kira berkencan dengan Lui.
“Hahaha baiklah kakak berhenti sekarang,” Chen tertawa lepas. Ia merasa puas menggoda Zishu.
“Kamu memang harus berhenti sekarang, Chen. Kalau tidak—nenek pasti akan menjewer telingamu itu,” ancam nyonya Jia Lee membuat Chen berhenti tertawa.
“Iya nek. Aku berhenti,” sahut Chen segera merapatkan mulutnya.
“Huuu kakak takut di jewer nenek,”kini giliran Zishu yang merasa puas. Neneknya itu memang bisa di andalkan dalam membuat Chen bungkam.
“Tidak—kakak tidak takut,” Chen membantah ucapan Zishu.
“Benarkah? Hmmm kalau begitu jewer saja telinga kakak, nek!” ucap Zishu tersenyum usil. Ia menatap sekilas ke arah neneknya.
“Jangan dengarkan Zi`er, nek!” pinta Chen sedikit memelas.
“Hmmpph,” Lui tertawa kecil melihat interaksi hangat dari keluarga Yan itu. Ia cukup senang melihatnya.
“Sudahlah kalian berdua ini. Tidak lihat masih ada nak Lui di sini. Sedang memperhatikan kalian berdua,” Nyonya Jia Lee menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkah kedua cucunya—tidak pernah berubah. “Maafkan mereka berdua, nak Lui. Mereka memang sering seperti ini,”
“Tidak masalah nek. Saya justru senang melihatnya,” sahut Lui santai.
“Iyalah senang. Tuh dari tadi cuma lihat calon istri,” sindir Chen pada Lui tapi sukses membuat Zishu salah tingkah.
`Kakak benar-benar menyebalkan!` batin Zishu
__ADS_1
“Lebih baik senang melihat calon istri. Daripada gadis lain,” Lui menjawab dengan tenang. Bahkan tatapannya mengarah ke Zishu, tambah membuat calon istrinya itu salah tingkah.
“Baguslah kalau begitu nak Lui. Nenek berharap kamu bisa memegang segala ucapanmu,” ucap nyonya Jia Lee penuh harap.
“Baik nek,” singkat Lui menganggukkan kepalanya dengan yakin.
Bersamaan dengan itu, pembicaraan di ruang tamu berakhir. Zishu lah yang mengakhirinya dengan alasan nyonya Jia Lee harus makan malam sekarang. Jika tidak, mungkin pembicaraan di ruang tamu masih akan berlanjut.
Nyonya Jia Lee dan Chen makan malam bersama di ruang makan. Zishu juga ikut ke sana untuk memastikan neneknya makan dengan porsi yang cukup. Sedangkan Lui memutuskan untuk pulang karena harus mempersiapkan untuk besok.
***
Keesokan harinya...
Zishu memandangi dirinya di pantulan cermin. Wajah gugup tidak bisa di tutupinya. Ia gugup karena pagi ini akan menikah dengan Lui. Kegugupannya itu sudah di rasakannya sejak tadi malam. Hanya saja berusaha di tutupinya di hadapan nyonya Jia Lee, Chen dan juga Lui pastinya. Ia berhasil menyembunyikan kegugupannya tapi itu justru membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Di pikir-pikir wajar saja jika Zishu merasa gugup. Apalagi alasannya karena akan menikah dengan laki-laki yang bahkan belum lama di kenalnya tapi sudah di kaguminya. Namun rasa bahagia juga di rasakannya. Bahagia karena laki-laki yang di kaguminya, justru akan menjadi suaminya sebentar lagi.
Salahkan ia merasakan itu?
Tidak—itu tidak sama sekali. Gugup sekaligus rasa bahagia memang perasaan yang di rasakan calon mempelai pada umumnya.
“Zi`er!” panggil nyonya Jia Lee dari arah belakang punggung Zishu. Sontak Zishu langsung menatap neneknya dari pantulan cermin di hadapannya.
“Nenek,” cicit Zishu tersenyum semanis mungkin tapi tidak bisa membuat rasa gugupnya tersembunyi. Rasa gugupnya itu terlalu besar hari ini.
“Kamu sangat cantik memakai itu. Persis seperti mamamu dulu,” puji nyonya Jia Lee sambil berjalan mendekati Zishu, di bantu pelayan pribadinya.
Pujian nyonya Jia Lee tidaklah salah. Zishu sangat cantik memakai gaun putih kasual bermotif bunga-bunga tanpa warna. Gaun itu sering di gunakan para mempelai wanita. Terbilang simpel desainnya untuk menikah di catatan sipil, bukan resepsi. Gaun yang ia pakai tidak terlalu ketat dan sesuai dengan ukuran tubuhnya. Sehingga tidak terlalu memperlihatkan lekuk tubuh Zishu. Bagian lehernya juga tidak terbuka, sesuai dengan yang di inginkan olehnya. Lengan gaunnya pendek. Panjang gaunnya sedikit di bawah lutut. Di lengkapi heels berwarna putih senada, terpasang sempurna di kedua kaki Zishu.
Tidak lupa wajah Zishu di beri polesan make up natural. Rambutnya di bagian depan, di sisakan poni di masing-masing sisi. Kemudian rambutnya di sanggul rendah di bagian belakang dan terdapat jepit rambut berbentuk bunga berwarna putih untuk membuat kesan elegan.
“Nenek terlalu memujiku,” kilah Zishu tanpa berbalik badan. Cermin di depannya bisa membuatnya melihat neneknya yang sudah berdiri di belakangnya.
“Tidak. Kamu memang sangat cantik. Andai mamamu masih ada di sini, pasti akan berkata yang sama.” ucap nyonya Jia Lee menatap sedih Zishu lewat cermin. Tangannya mengelus lembut kepala cucunya yang sebentar lagi akan menikah.
__ADS_1
“Ayolah nenek. Jangan bersedih seperti itu. Raga mama tidak ada di sini tapi jiwanya selalu ada di hati. Nenek tidak lupa itu kan? Jadi jangan bersedih, aku tidak menyukainya nek!” Zishu memegang tangan nyonya Jia Lee yang tadi mengelus kepalanya dan menciumnya berkali-kali.
Apa yang di lakukannya, bukan semata-mata hanya untuk membuat neneknya tidak bersedih. Melainkan juga untuk menghibur dirinya sendiri. Ia mengingat orang tuanya tidak ada bersamanya di hari besarnya. Padahal kebersamaan dengan orang tuanya di saat hari besarnya lah yang selalu di mimpikannya. Ternyata benar, itu hanya mimpi dan tidak akan pernah bisa terjadi.
“Baiklah. Nenek tidak akan bersedih di hari besarmu ini,”sahut nyonya Jia Lee tidak lagi bersedih.
“Sangat bagus, nek. Kalau bisa jangan bersedih di hari-hari lain. Aku tidak suka melihat itu. Nenek harus selalu bahagia,” ungkap Zishu, bersamaan ia berhenti mencium tangan nyonya Jia Lee.
“Hhaha akan nenek usahakan itu,” sahut nyonya Jia Lee di sertai tawanya.
“Harus!” seru Zishu tegas membuat nyonya Jia Lee berhenti tertawa dan tersenyum tipis menatapnya.
Nyonya Jia Lee tidak menyangka bahwa cucunya sekarang sudah beranjak dewasa dan sebentar lagi akan menikah. Nanti malam perusahaan Yan Group juga akan resmi di bawah kepemimpinannya. Ternyata benar apa kata orang. Tanpa di sadari, anak-anak sudah beranjak dewasa dan yang dewasa mulai menua.
“Hmmm baiklah lupakan soal itu. Sekarang sudah saatnya kita berangkat. Calon suamimu sudah menunggumu di sana,” deham nyonya Jia Lee sembari merapikan beberapa helai rambut Zishu yang kurang rapi.
“Eumm—” mendengar itu tentu membuat Zishu kembali merasa gugup. Rasanya tidak siap tapi mau bagaimana lagi? Ia harus siap.
“Kamu pasti merasa gugup,” terka nyonya Jia Lee dan itu tepat sekali.
“Yah begitulah, nek!” sahut Zishu membenarkan.
“Itu hal biasa. Nenek juga pernah merasakan berada di posisimu ini. Hal yang perlu kamu lakukan sekarang adalah tarik nafas panjang dan hembuskan. Perlahan dirimu akan tenang,” ucap nyonya Jia Lee memberitahukan cara menenangkan diri dari kegugupan yang melanda.
Zishu tidak berucap lagi dan langsung melakukan seperti yang di beritahukan neneknya. Di mulai dari tarik nafas panjang hingga menghembuskan. Hal itu di lakukannya 3 kali, sampai dirinya cukup tenang.
“Hufft, ayo berangkat sekarang nek!” ajak Zishu menghembuskan nafas panjangnya, sebelum beranjak berdiri.
Zishu bersama nyonya Jia Lee segera turun ke lantai dasar. Dimana terdapat banyak orang di sana. Orang-orang itu merupakan kepercayaan dari keluarga Yan Utama. Mereka datang untuk membantu dalam persiapan ulang tahun Zishu yang di adakan di kediaman Yan Utama juga. Seperti yang di inginkan oleh Zishu sendiri sebagai pemilik acara. Semua yang berhubungan dengan acara pun, sesuai keinginannya.
Kediaman Yan Utama sudah siap untuk merayakan acara ulang tahun Zishu pada malam nanti. Dekorasi serba biru dan putih terpasang di segala sudut kediaman. Bunga-bunga mawar putih tertata rapi di banyak sudut. Tidak lupa pula balon-balon dengan warna senada, ikut melengkapi dekorasi. Belum lagi meja, kursi, piring, cangkir dan masih banyak lainnya yang pastinya di buat berwarna senada. Acara ulang tahun Zishu semuanya bertemakan biru dan putih. Memperlihatkan kesan elegan dari semua ini.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
__ADS_1
...^^^ Jangan lupa tinggalkan jejak👣^^^...
... [Like👍+Vote💌+Comment💬+Favorit❤]...