
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
“Aku juga mau ke perusahaan. Ada metting penting,”timpal tuan Houcun yang juga langsung berdiri dari kursinya. Usai menghabiskan kopi miliknya.
“Tidak mau bersantai dengan ibu? Kita sudah tidak lama seperti itu,” nyonya Jia Lee menatap kedua putranya dengan seksama.
“Lain kali saja, Bu. Sekarang kami harus ke perusahaan,” tuan Bi`an mendekati ibunya dan memberikan ciuman singkat di pipi kanan.
“Tidak masalah kan, Bu?” tanya tuan Houcun seraya melakukan hal yang sama pada ibunya.
“Yah mau bagaimana lagi,” jawab nyonya Jia Lee pasrah, mengangkat bahunya.
Kemudian tuan Bi`an dan tuan Houcun pamit kepada anak-istri mereka.
“Papah berangkat!” pamit tuan Houcun pada nyonya Rou. Mencium singkat kening istrinya itu.
“Hati-hati di jalan, Pah! Mamah di sini dulu. Mau bersantai menemani ibu,” balas nyonya Rou tersenyum.
“Iya terserah mamah saja,”tuan Houcun memasang raut wajah datar. Tampak sekali kalau kekesalan masih di rasakannya. Sama halnya dengan tuan Bi`an.
“Mamah mau pulang sekarang? Biar sekalian papah antar,” ucap tuan Bi`an menatap ke arah istrinya.
“Iya, Pah. Mamah mau pulang. Jam 9 nanti ada acara sosialita dan mamah harus hadir,” sahut nyonya Liena.
“Kalian bertiga?” tuan Bi`an bertanya pada ketiga putrinya yang masih duduk manis.
“Aku mau pergi berbelanja, Pah! Buat mengembalikan moodku,” sesekali Feiyu melirik ke arah Zishu. Nada ucapannya pun terdengar sedang merasa jengkel.
“Kami ikut ya, Kak! Mau beli barang-barang keluaran bulan ini. Bolehkan? Boleh ya, ya!” rengek Daiyu memelas.
“Pleasee kak! Boleh ya, kami ikut!” si Yue juga tidak kalah merengek. Hatinya dan Daiyu memang sudah seperti satu konsep.
“Ya bolehlah. Mana mungkin kakak tidak memperbolehkan kalian untuk ikut,” sahut Feiyu tersenyum. Ia sangat menyayangi kedua adiknya.
“Yeah! Bagus!” sorak Daiyu dan Yue bersamaan. Mereka berdua sangat bersemangat. “Terima kasih, Kak! Kakak memang terbaik,”
“Apa pun untuk kalian,” balas Feiyu ikut senang melihat itu.
“Bagaimana denganmu, Jie? Sedari tadi diam saja,” tegur tuan Houcun, pada putri bungsunya. “Kamu mau pulang, belanja atau tetap di sini?”
Jie memang belum bersuara sedari tadi. Jujur saja, ia sangat tidak suka ikut campur. Apalagi kalau menghadapi perdebatan di keluarga besarnya, ia memilih untuk menyimak tanpa suara.
“Tetap di sini, Pah! Aku juga mau menemani nenek,” Jie menjawab dengan cepat.
__ADS_1
“Ya sudah. Kamu—Kai, jangan telat datang ke perusahaan. Ingat metting dengan klien penting,” pungkas tuan Houcun.
“Aku tidak lupa itu, Pah,” balas Kai santai. Tubuhnya melekat sempurna setelan olahraga. Yeah—Ia baru saja selesai berolahraga pagi, seperti biasanya.
“Baguslah. Sekarang papah berangkat dulu,”
Tanpa menunggu lagi, tuan Houcun melangkah pergi. Langsung di susul oleh tuan Bi`an. Mereka berdua tampak sangat gagah dengan setelan jas abu-abu, juga hitam. Padahal umur mereka berdua sudah paruh baya.
Selepas kepergian mereka berdua, Yue dan Daiyu pergi lebih dulu dari ruang makan. Keduanya pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
“Kita berangkat juga, Zi`er?” Rian bertanya, setelah diam beberapa saat. Dirinya memang seperti itu. Irit bicara kalau ada keluarga Yan bagian.
“Baiklah kak,” sahut Zishu menganggukkan kepalanya. Kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri neneknya. “Nenek jangan lupa minum obat tepat waktu, oke!?”
“Tenang saja, Zishu! Selama aku masih di sini, nenek tidak akan ku biarkan lupa minum obat. Ku pastikan itu,” bukan nyonya Jia Lee yang menjawab, melainkan Jie.
“Nah sudah dengar sendiri kan? Nenek mana bisa lupa minum obat sekarang,” nyonya Jia Lee tersenyum tipis.
“Terima kasih, Jie!” ungkap Zishu.
“Beres,” sahut Jie mengedipkan matanya.
“Aku dan kak Chen berangkat sekarang!” Zishu mencium singkat pipi nyonya Jia Lee.
“Pasti, Nek!” Chen beranjak berdiri dari tempat duduknya. Sehingga bisa terlihat jelas sekarang, bagaimana tampannya ia menggunakan setelan jas hitam.
“Aku yakin nanti Zishu dan nenek pasti akan menyesal. Menyesal karena mempercayai orang yang salah. Keluarga sendiri ingin membantu, di tolak. Ku rasa keputusan itu sangat bodoh!” cetus Feiyu tiba-tiba.
“Biarkan penyesalan itu mereka rasakan. Cukup mereka,” nyonya Liena ikut menimpali.
“Jangan berbicara seperti itu. Tidak bagus kedengarannya,” larang nyonya Rou.
“Biarkan saja!” seru nyonya Liena bernada ketus.
“Ya biarkan saja, tan! Aku dan nenek tidak butuh pendapat orang lain untuk memilih siapa yang pantas di percayai. Takutnya orang yang di percayai karena pendapat orang lain, bisa berkhianat. Lalu soal keluarga? Bisa juga berkhianat bukan? Entah itu karena masalah internal keluarga atau harta. Tidak bisa di tebak. Jadi tidak salahnya kalau mempercayai orang lain saja,” sahut Zishu tersenyum tipis tapi percayalah, ucapannya berhasil memancing emosi nyonya Liena dan Feiyu.
“Apa maksudmu itu!?” geram nyonya Liena menatap tajam Zishu.
“Tenanglah, Kak!” bujuk Rou berusaha menenangkan nyonya Liena.
“Katakan apa maksudmu!”bagaimana nyonya Rou mencoba menenangkannya, nyonya Liena tidak peduli.
“Maksudku itu saja, Tan! Hanya menyampaikan apa yang ku pikirkan. Maaf kalau tante merasa tersinggung. Aku tidak sengaja,” sahut Zishu tetap tenang. “Nenek juga berpikiran sama, kan?”
“Ya, Zi`er! Nenek sepemikiran denganmu,” nyonya Jia Lee mengangguk.
__ADS_1
Mendengarkan itu, nyonya Liena menghentakkan kakinya. Berjalan pergi dari sana. Mulutnya terasa seperti sudah kehabisan kata-kata.
“Nenek selalu saja mendukungnya. Tidak peduli walau ia meragukan keluarganya sendiri. Sangat tidak adil!!!” seru Feiyu ikut beranjak dari sana. Ia menyusul mamanya dengan kemarahan yang sama.
“Sudah, tidak perlu di pikirkan! Kalian berangkatlah sekarang!” titah nyonya Jia Lee pada Zishu dan Chen.
“Aku juga tidak mau memikirkannya hehe,” Zishu terkekeh pelan.
“Kami berangkat sekarang, Nek!” timpal Chen, berpamitan dengan nyonya Jia Lee.
“Hati-hati di jalan!”
Zishu dan Chen mengangguk secara bersamaan. Sebelum pergi, Zishu sempat berpamitan dengan nyonya Rou, Jie dan Kai. Setelahnya barulah mereka berdua pergi.
“Aku mau bersiap-siap ke perusahaan,” ucap Kai datar seraya beranjak dari tempat duduknya.
“Iya bersiap-siaplah, Sayang!” sahut nyonya Liena hangat.
Kai tidak membalas lagi. Ia berjalan pergi dari ruang makan. Meninggalkan nyonya Jia Lee, nyonya Rou dan Jie.
“Mereka semua sudah pergi. Lalu apa yang kita lakukan sekarang?” tanya Jie pada nenek dan mamahnya.
“Bersantai di taman belakang. Sudah lama kita tidak melakukan itu,” jawab nyonya Jia Lee.
“Iya benar, Bu! Terakhir kali kita bersantai bersama, mungkin sekitar beberapa bulan lalu. Sudah sangat lama,” nyonya Rou menimpali.
“Sudah sangat lama karena kalian jarang ke sini,” celetuk nyonya Jia Lee.
“Aku jarang ke sini karena harus menyelesaikan kuliahku, Nek! Jadi maafkan aku hehe,” pinta Jie kepada neneknya itu, di sertai wajah cengengesannya.
“Aku beberapa bulan ini sibuk. Sampai tidak memiliki waktu luang. Maaf, Bu!” jelas nyonya Rou merasa bersalah.
“Sudahlah, tidak masalah! Terpenting kalian sudah ada di sini,” sahut nyonya Jia Lee tersenyum.
“Ya karena kami sudah di sini, ayo pergi bersantai sekarang!” ajak Jie bersemangat, di angguki mamahnya.
Nyonya Jia Lee, nyonya Rou dan Jie pun bergegas pergi ke taman belakang. Mereka bertiga akan bersantai, menikmati suasana pagi hari yang cukup cerah.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...
__ADS_1