
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
Zishu bergegas berjalan keluar kediaman. Di sana sudah terdapat Lin yang berdiri di samping mobil.
“Ke perusahaan, kak!” perintah Zishu sembari berjalan masuk ke dalam mobil.
“Baik nona,” sahut Lin langsung menutup pintu mobil, saat Zishu sudah masuk. Ia juga segera masuk ke dalam mobil.
Kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang, meninggalkan kawasan kediaman Keluarga Yan Utama.
***
Di perusahaan Yan Group
“Selamat pagi, Presider!”
Sejak Zishu sampai di perusahaan, para karyawan tidak henti-hentinya menyapanya. Ia membalasnya, di sertai isyarat tangan. Isyarat yang memerintahkan mereka untuk kembali bekerja.
“Selamat pagi, Presider!” sapa perempuan berpakaian rapi yang datang menghampirinya. Kepalanya sedikit menunduk hormat. Terlihat beberapa berkas sedang di pegangnya.
“Ya pagi juga, Kak AnRan! Sudah lama datang?” Zishu tentu mengenali perempuan itu, AnRan—Sekretaris barunya.
“Tidak, Presider. Saya baru datang,” sahut AnRan sembari mengikuti Zishu.
Zishu mangut-mangut mengerti. Ia berjalan masuk ke dalam ruangannya, setelah AnRan membukakan pintunya. Memang AnRan tadi menghampirinya tepat saat ia baru keluar dari lift yang berada di lantai paling atas perusahaan.
“Saya minta maaf, Presider!” ungkap AnRan tiba-tiba membuat Zishu berhenti berjalan dan berbalik badan ke arahnya.
“Kenapa minta maaf, kak?”
“Saya minta maaf karena tadi tidak menyambut Presider di bawah. Banyak pekerjaan yang harus saya tangani sebagai sekretaris Presider,” jawab AnRan, sontak Zishu terkekeh.
“Aku kira apa, ternyata cuma itu. Tidak perlu minta maaf, kak!” seru Zishu santai dan lanjut berjalan lagi menuju kursi kebesarannya.
“Em—Baiklah,”
“Hari ini aku pergi ke Shanghai dan besok baru kembali. Ada proyek yang harus ku pantau. Kak AnRan tidak perlu ikut,” spontan dahi AnRan mengerut.
“Kenapa saya tidak perlu ikut, Presider?” tanyanya bingung. Pasalnya sebagai sekretaris tentu harus ikut ke mana pun.
“Tidak apa-apa. Kak AnRan di sini saja. Tangani semua pekerjaan yang tadi kakak sebutkan. Sekaligus sesuaikan diri kakak dengan perusahaan,” jawab Zishu menjelaskan alasannya.
“Apa tidak masalah, Presider?”AnRan memastikan sekali lagi dan Zishu mengangguk.
“Baiklah kalau begitu hubungi saya, jika Presider membutuhkan bantuan. Saya akan siap kapan pun,” sambungnya.
__ADS_1
Zishu menopang dagunya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada meja kerja, kemudian tersenyum. “Bagaimana bisa aku menghubungimu, Kak? Sedangkan aku tidak punya nomor ponselmu,”
Sontak AnRan di buat tercengang. Ia benar-benar lupa meminta nomor Zishu kemarin.
“Ma—Maaf, Presider! Saya lupa meminta nomor Presider,”cicitnya sedikit menunduk.
“Aku juga lupa meminta nomormu, Kak. Jadi kita impas. Tidak perlu minta maaf seperti itu,” balas Zishu tersenyum kecil, seraya menyodorkan ponselnya ke arah sekretarisnya itu. “Berikan nomor kakak! Nanti ku hubungi,”
“Baik,” dengan ragu AnRan mengambil ponsel itu dari tangan Zishu.
Segera ia mencantumkan nomornya di ponsel milik Presider-Nya itu.
“Sudah, Presider!” sambungnya usai mencantumkan nomornya. Tidak lupa pula ia menyerahkan kembali ponsel Zishu.
Zishu mengangguk-angguk dan mengambil ponselnya kembali. Di lihatnya pada layar ponselnya, tertera nama AnRan.
“Apa jadwalku hari ini?” tanya Zishu, bersamaan dengan meletakkan ponselnya.
“Tidak ada jadwal apa pun, Presider! Anda hanya perlu memeriksa dan menandatangani semua berkas yang tuan Chen tinggalkan,” jawab AnRan cepat. Sebelumnya ia memang sudah memeriksa semuanya dan itulah tugasnya sebagai sekretaris.
“Berikan berkasnya, Kak!” perintah Zishu.
Tanpa berucap lagi, AnRan memberikan setumpuk berkas di tangannya.
“Terima kasih,” Zishu menerima semua berkas itu.
“Sekarang kakak boleh pergi!” seru Zishu hangat.
“Baik. Panggil saya kalau Presider perlu apa-apa,” imbuh AnRan yang langsung di angguki oleh Zishu.
AnRan menunduk hormat dan setelahnya pergi dari hadapan Zishu. Ia kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan semua pekerjaannya.
“Saatnya bekerja,” gumam Zishu, usai kepergian AnRan.
Satu-persatu berkas tadi mulai di bukanya. Ia memeriksanya dengan teliti, sebelum menandatangani. Hal itu di lakukan agar terhindar dari hal yang tidak di inginkan.
Keheningan menemani Zishu dalam memeriksa dan menandatangani berkas. Tidak jarang terdengar suara jarum jam dinding terdengar, meski pelan. Hingga tidak terasa sudah 2 jam lebih, ia bergelut dengan beberapa berkas itu. Matanya fokus menatap lembaran demi lembaran berkas. Raut wajahnya serius. Di lihat dari keadaannya sekarang, tampak bukan Zishu yang selalu santai. Ia sudah menjelma menjadi sosok pemimpin dengan penuh keseriusannya, hanya dalam sehari. Itulah sifatnya yang mendominasi dan menyesuaikan situasi. Sangat mirip seperti papanya—Tuan Jiang.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar, bersamaan dengan Zishu menandatangani berkas terakhir.
“Masuk!” seru Zishu sedikit keras agar si pengetuk bisa mendengar suaranya.
Pintu ruangannya terbuka. Sosok si pengetuk yang tidak lain adalah AnRan, berjalan masuk.
“Ada apa, Kak?” tanya Zishu, mengalihkan sekilas tatapannya dari berkas di tangannya.
__ADS_1
“Ini ada kiriman bunga dari seseorang. Katanya untuk Presider,” jawab AnRan seraya meletakkan buket bunga mawar putih, berukuran sedang di atas meja.
“Untukku?” beo Zishu tercengang. AnRan mengangguk pelan.
Zishu langsung meraih buket bunga mawar putih itu. Rasa penasarannya menuntutnya untuk mencari tahu siapa pengirimnya. Terlihat ada sebuah kartu ucapan berukur kecil di sana. Daripada terus penasaran, ia segera membuka dan membaca kartu ucapan itu.
~Semangat bekerja, Sayangku!~
From: Lui
Blush—Seketika pipi Zishu memerah. Hanya hal kecil seperti ini, hatinya terasa berbunga-bunga.
`Ini sangat manis!` batin Zishu
Dulu ia juga merasakan hal yang sama saat mendapat bunga dari Chunying tapi sekarang perasaan jauh berbeda. Jika tidak ada AnRan sekarang di ruangannya, mungkin ia sudah mencium buket bunga mawar itu dengan penuh kebahagiaan. Namun dari raut wajahnya saja, AnRan bisa melihat kebahagiaannya.
`Mungkin bunga itu dari tuan Chunying. Tidak heran Presider terlihat begitu bahagia,` batin AnRan
Andai AnRan tahu siapa pengirimnya, mungkin akan merasa heran. Bagaimana bisa Lui yang mengirim buket bunga mawar itu, bukan Chunying—Tunangan Zishu? Pertanyaan itu sudah jelas akan muncul di benaknya.
“Ehemmm... Apa ada hal lagi, Kak?” tanya Zishu sedikit berdehem kecil. Ia tengah berusaha menyembunyikan kebahagiaannya.
“Saya ingin bertanya. Jam berapa Presider berangkat?” tanya balik AnRan dan tidak mempertanyakan soal buket bunga mawar itu.
“Sekitar setengah jam lagi kak,” jawab Zishu.
“Apa ada yang perlu saya siapkan untuk keberangkatan Anda?” tanya AnRan lagi.
“Tidak ada, Kak. Semua persiapan sudah di siapkan kak Chen,” jawab Zishu tanpa meletakkan bunga mawar di tangannya. Sesekali ia menghirup aromanya yang harum.
AnRan mengangguk mengerti. “Baiklah, Presider. Kalau begitu, saya kembali ke ruangan dulu!”
“Tunggu, kak! Bawa semua berkas ini. Aku sudah menandatanganinya,” cegah Zishu sebelum AnRan pergi dari hadapannya.
Dengan cepat AnRan mengambil semua berkas yang sudah di tandatangani.
“Permisi, Presider!” pamit AnRan menunduk hormat dan kemudian pergi kembali ke ruangannya.
Seperginya AnRan, Zishu tersenyum lebar. Matanya enggan untuk berhenti menatap buket mawar putih yang di berikan oleh Lui.
“Dia sangat manis. Kalau begini aku bisa cepat jatuh cinta padanya,” gumamnya.
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
__ADS_1
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...