
...||•Happy Reading•||...
..._____...
Daripada terus mengkhayal, Zishu menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Tidak ada hal yang istimewa di ponselnya. Ia hanya mengirim pesan pada Chen, soal perkembangan penyelidikan masalah di proyek. Kemudian membalas singkat pesan Jun. Hanya dua orang itu yang ia hiraukan. Sisanya tidak sama sekali. Bagaimana dengan Chunying? Laki-laki itu sama sekali tidak mengirimkan pesan padanya. Namun Zishu sama sekali tidak memedulikannya.
Zishu beralih menarik-ulur beranda media sosialnya, usai mengirimkan pesan kepada kedua orang itu. Lumayan lama ia melakukannya, sampai tidak sadar kedatangan Lui.
“Makanlah,”
Sepiring spageti di sodorkan ke hadapan Zishu. Sontak membuatnya mendongakkan kepalanya dan melihat Lui tersenyum ke arahnya.
“Terima kasih,” tutur Zishu membalas senyumannya.
Lui mengangguk seraya duduk berhadapan dengan Zishu. Tangannya mengambil spageti miliknya sendiri dari atas nampan. Tidak lupa pula, 2 minuman hangat yang juga di pesannya.
“Menurutmu bagaimana tempat ini?” tanya Lui sebelum memakan spagetinya.
“Eum—Sangat indah untuk di kunjungi,” jawab Zishu menatap sekitarnya. Gemerlap lampu warna-warni memenuhi manik matanya.
“Lain kali mau ke sini lagi?” Lui tidak berkedip menatap Zishu. Entah sihir apa yang sedang menyihirnya. Jelasnya istrinya itu begitu memesona dalam situasi apa pun.
Tatapan Zishu beralih ke Lui kembali. Kemudian senyuman lebar tampak mengembang di bibirnya. “Kenapa tidak?”
Lui ikut tersenyum lebar. Manis—Kata itu melekat pada diri Lui yang telah menjadi gambaran di mata Zishu.
‘Semakin hari, dia semakin manis. Semoga aku tidak diabetes nantinya,’ batin Zishu
“Kita makan dulu. Setelah ini aku ajak kamu jalan-jalan di sini,” ucap Lui yang langsung di angguki Zishu.
Keduanya mulai memakan spageti masing-masing. Di temani alunan musik biola yang terdengar di dekat keduanya duduk. Tidak jarang Zishu dan Lui saling beradu tatapan. Sehingga alunan musik biola itu seolah menambah kesan romantis.
***
Selesai makan malam, Lui menepati ucapannya. Ia mengajak Zishu jalan-jalan di Nanjing Road. Jalanan yang di dominasi hampir semua kalangan.
“Terakhir kali aku ke Shanghai, sebulan sebelum orang tuaku meninggal. Saat itu aku tidak pernah sempat datang ke sini. Jadi ini pertama kalinya, aku datang. Nanjing Road memang tidak mengecewakan,” ucap Zishu di sela berjalan berdampingan dengan Lui.
“Kamu senang?” Lui menoleh ke arah Zishu.
Zishu mengangguk cepat. “Ya!”
“Kamu tahu? Ini pertama kalinya aku datang ke sini bersama seorang gadis,” sontak Zishu berhenti berjalan.
__ADS_1
“Kamu sering datang ke sini?” Zishu berbalik badan menghadap laki-laki berstatus suaminya itu. Dahinya sedikit mengernyit.
“Sering tidak. Cuma datang beberapa kali,” tampik Lui begitu saja.
“Benarkah? Lalu—Eum soal ucapan sebelumnya tadi, apa benar?” cicit Zishu pelan. Rasanya ia akan sangat bahagia, bila ucapan Lui itu benar.
“Benar. Kamu sendiri pasti tahu, bukan? Selama ini aku tidak dekat dengan gadis mana pun. Jadi tidak ada yang menemaniku saat pergi ke mana pun,”
Percaya atau tidak, Zishu bersorak bahagia dalam hatinya.
‘Yes! Ini sungguh membahagiakanku,’
Zishu menggigit bibir bawahnya. Menahan senyum kebahagiaannya agar tidak terlihat oleh Lui.
“Kenapa?” tanya Lui pura-pura tidak menyadari senyum kebahagiaan yang sedang di tahan oleh istrinya itu.
‘Hmmmph gadis ini tidak bisa terlalu baik dalam melakukannya,’ batinnya.
“Ti—Tidak apa-apa! Ayo lanjut berjalan!” segera Zishu palingkan wajahnya dan ingin melanjutkan berjalan.
“Tunggu dulu!” Lui mencegah Zishu dengan mencengkeram pergelangan tangannya.
Tidak hanya mencengkeram pergelangan tangannya, Lui juga berhasil membuat Zishu berbalik kembali menghadapnya. Bahkan kini tubuh keduanya hanya berjarak beberapa rinci saja.
“Ayo berkencan!”
“Hah?” Zishu tersentak mendengarnya.
‘Berkencan? Apa aku tidak salah dengar?’ batin Zishu
“Kamu tidak salah dengar. Aku sungguh mengajakmu berkencan, sayang!” seru Lui yang mengejutkan Zishu.
Bagaimana bisa Lui tahu apa yang sedang di ucapkan di batinnya.
Sangat mengejutkan!
“Kenapa diam? Mau berkencan tidak?” sambungnya.
Zishu berusaha menetralkan keterkejutannya. “Ke—Kenapa tiba-tiba mengajakku berkencan?”
“Kita perlu menumbuhkan perasaan, bukan? Hubungan kita tidak bisa terus seperti ini. Harus ada perkembangannya. Jadi ku rasa berkencan adalah salah satu cara yang efektif untuk itu,” ucap Lui menyampaikan alasannya mengajak Zishu berkencan.
Diam—Zishu terdiam beberapa saat. Berusaha mencerna dengan baik ucapan Lui. Tidak ada yang salah. Hubungan mereka memang harus ada perkembangan. Terlebih lagi keputusannya untuk bersama Lui dalam ikatan pernikahan adalah sekali untuk seumur hidup. Ia tidak ingin ada pernikahan kedua di hidupnya.
__ADS_1
‘Zishu, kau telah memiliki prinsip hidup. Menikah hanya satu kali seumur hidup. Kau juga telah memutuskan bersamaannya dan berjanji akan berusaha mencintainya. Jadi apa salahnya memulainya sekarang' batin Zishu
“Baiklah,” lirih Zishu tanpa berhenti beradu tatapannya dengan Lui.
“Apanya?” tanya Lui memastikan terlebih dulu. Padahal di pikirannya sudah menebak apa yang di maksudkan istrinya itu.
“Ayo berkencan!” seru Zishu penuh penegasan tapi ada senyuman mengembang di bibirnya.
Tanpa berucap, Lui melepaskan cengkeraman tangannya. Kemudian mengulurkan tangan pada Zishu yang langsung menerimanya dengan senang hati. Sekarang keduanya lanjut berjalan sambil berpegangan tangan. Layaknya pasangan yang sedang berkencan, keduanya tampak bahagia. Nanjing Road menjadi saksi bisu kencan para pasangan yang ada di sana, termasuk Zishu dan Lui.
1 jam berlalu...
Puas jalan-jalan di Nanjing Road, Lui mengajak Zishu The Bund. Keduanya menaiki salah satu kapal.
The Bund merupakan kawasan dermaga yang sangat terkenal di Shanghai. Terdapat banyak kapal-kapal berukuran sedang. Di sekitarnya di kelilingi gedung-gedung tinggi. Dimana akan sangat indah di malam hari karena gemerlap lampu.
“Lihat ke atas sana!” seru Lui menunjuk ke atas langit. Sontak Zishu melakukan apa katanya.
Mata Zishu berbinar melihat di langit, begitu banyak bintang dan bulan purnama. Langit seperti telah menjadi hamparan bintang-bintang yang gemerlapan di sekitar bulan. Meski ukuran bintang jauh lebih kecil daripada bulan tapi tidak kalah akan keindahannya.
“Indah sekali,” puji Zishu secara spontan.
Namun matanya semakin berbinar, kala melihat ada bintang jatuh.
“Lihat ada bintang jatuh!” pekiknya langsung menoleh ke arah Lui.
Hal yang tidak terduga terjadi. Akibat kapal yang sempat bergoyang karena terkena ombak, Zishu hampir saja terjatuh. Beruntungnya ada Lui yang segera memeluknya. Tetapi, kapal kembali bergoyang, hingga tanpa sengaja membuat bibir Zishu dan Lui bersentuhan. Terjadilah adu tatapan sesaat. Sebelum akhirnya Lui menekan tekuk Zishu dengan tangannya. Ia mulai menyesap bibir Zishu dan memperdalam ciumannya. Zishu sempat terkejut tapi perlahan dirinya membiarkan hal itu terjadi. Ia mengalungkan tangannya ke leher Lui. Matanya terpejam, menikmati ciumannya bersama ,Lui untuk ke sekian kalinya.
Bintang jatuh tepat saat ciuman keduanya berlangsung. Angin berhembus pelan tapi tidak membuat keduanya berhenti berciuman. Sampai akhirnya Lui menghentikannya sebab Zishu tadi hampir kehabisan patokan oksigen.
“Ini jauh lebih baik dari sebelumnya,” ucap Lui sembari menyentuh bibir Zishu dengan jari tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya masih senantiasa memeluk tubuh ramping istrinya itu.
Andai saja Lui tidak menyewa kapal secara pribadi, mungkin akan banyak orang yang melihat mereka.
...
_____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...
__ADS_1