Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 58. Pikiran Traveling


__ADS_3

... ||•🥀Happy Reading🥀•||...


... _____...


Sambil menunggu Chen kembali, Zishu mengambil ponselnya yang berada di dalam tasnya. Sontak ia mengernyitkan dahinya. Di layar ponselnya terpampang jelas banyak panggilan tidak terjawab dari Lui. Terdapat juga chat darinya.


“Kenapa dia meneleponku sebanyak ini?” gumam Zishu sembari membuka chat Lui.


[Siang sayang!]


[Sudah makan siang?]


Zishu hanya membacanya tanpa membalas. Pikirnya lebih baik langsung meneleponnya balik. Satu detik sampai 5 detik, panggilan masih berdering. Hingga panggilan telah terhubung pada detik selanjutnya.


“Halo!” sapa Zishu, ketika teleponnya sudah terhubung.


“Baru menelepon balik hmmm? Pasti tadi kamu sangat sibuk,” Lui berdehem ringan di seberang telepon. Ia berucap sembari menatap ke arah luar jendela ruangannya—Ruangan Presider.


“Lumayan. Maaf karena tidak mengangkat teleponmu tadi. Ponselku dalam keadaan senyap di dalam tas,” ungkap Zishu merasa tidak enak hati.


“Tidak apa-apa, Sayang! Aku tahu kamu sibuk,” balas Lui cepat dan terdengar hangat tentunya. “Sudah makan siang?”


“Belum. Ini masih menunggu pesanan makan siang,” mata Zishu menatap ke arah Chen yang berdiri lumayan jauh darinya. Kakaknya itu tampak sedang menunggu pesanan mereka.


“Baguslah. Makan yang banyak, Sayang!”


“Iya. Kamu sendiri sudah makan siang?” tanya Zishu balik.


“Sudah,” jawab Lui yang masih senantiasa menatap ke arah luar jendela ruangannya.


“Em, lalu ada apa kamu meneleponku sebanyak itu?” Zishu sedikit ragu menanyakannya tapi mau bagaimana lagi? Ia bingung mencari topik pembicaraan.


“Memangnya tidak boleh ya?” bukannya menjawab, Lui justru bertanya balik. Spontan membuat Zishu merutuki pertanyaannya sendiri.


`Argh! Apa yang telah ku tanyakan tadi? Dia bisa salah paham,` batin Zishu


“Bu—bukan begitu. Aku hanya heran, kenapa kamu meneleponku sebanyak itu. Makanya aku bertanya. Jangan salah paham!” kilah Zishu agar Lui tidak salah paham.


“Benarkah? Aku kira kamu tidak memperbolehkanku meneleponmu,” di seberang telepon, Lui berusaha menahan tawanya. Istri kecilnya itu selalu punya hal yang membuatnya merasa gemas.


“Iya benar,” timpal Zishu membenarkan. “Bagaimana jawaban untuk pertanyaanku tadi?”


“Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang bersama. Sekaligus membahas soal tadi malam,” sontak jawaban Lui membuat pikiran Zishu traveling. Pipinya tiba-tiba memerah persis seperti buah tomat.


`Soal tadi malam? Jangan bilang soal ciuman itu? Kyaaaa memalukan sekali!` batin Zishu


“Sayang!” panggil Lui sebab tidak mendapat sahutan dari Zishu.

__ADS_1


“Eh—Kenapa?” sentak Zishu.


“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Lui penasaran.


“Gak mikirin apa-apa. Ka—mu tadi mau ngomong apa?” Zishu berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia sangat malu jika Lui tahu apa yang di pikirkannya.


“Aku tadi ingin mengajakmu makan siang. Sekaligus membahas soal tadi malam,” ucap Lui mengulangi ucapannya yang sebelumnya.


“So—soal yang mana?” hati Zishu menjerit ingin teriak. Ia takut apa yang di pikirkannya, benar-benar terjadi.


“Soal keluarga pamanmu menyewa penculik itu. Aku ingin membicarakannya lebih lanjut,” seketika Zishu menghembuskan nafas lega mendengar jawaban Lui.


“Fiuhhhh syukurlah,” tanpa sadar ia mengucapkan itu dan Lui mendengarnya.


“Syukurlah kenapa, Sayang?” tanya Lui, spontan membuat Zishu gelagapan tak menentu.


“Itu a—anu,” Zishu bingung memberi jawaban apa. Salah dirinya sendiri karena tidak bisa mengontrol perasaan leganya.


“Anu? Anu apa?” Lui di buat kebingungan dengan istrinya itu. Sangat aneh menurutnya.


“Anu—Maksudku syukurlah kamu menanyakan itu. Aku hampir saja melupakannya,” balas Zishu asal. Bagi orang yang sangat mengenalnya, mungkin akan terkenal konyol saat tahu seorang Zishu bisa dengan mudah lupa. Ya, ia merupakan sosok dengan daya ingat yang kuat.


“Hmmm benarkah? Aku kira tadi ada apa,” dengan mudahnya Lui mempercayai jawaban konyol Zishu.


`Selamat! Hampir saja aku kehilangan muka di hadapannya nanti,` batin Zishu


“Benar. Nanti saja kita bahas soal itu nanti sore. Aku akan menggantikan kak Chen untuk membahas proyek kerja sama denganmu,” mendengar itu, tentu Lui menjadi bersemangat.


Suara bariton penuh kehangatan yang terdengar sangat bersemangat membuat Zishu salah tingkah. Ya—ia salah tingkah karena suaminya itu. Sebegitu bersemangatnya kah suaminya itu, saat tahu bahwa mereka akan bertemu? Sungguh berbeda dengan Chunying. Ia ingat sekali bagaimana respons Chunying saat akan bertemu dengannya. Sangat jauh berbeda. Bahkan berbanding balik.


“Eum ya sudah, nanti aku kabari lagi. Aku mau makan siang dulu,” beruntungnya Chen datang di saat yang tepat. Anggap saja sebagai penyelamat Zishu yang hampir kehilangan topik.


“Baiklah, kabari saja. Makan yang banyak, Sayang!”


“Iya,” singkat Zishu, sebelum mematikan teleponnya secara sepihak.


Chen sudah duduk di hadapan Zishu. Di atas meja terdapat nampan berisikan makanan dan minuman yang tadi di pesannya.


“Dari Lui?” tanya Chen yang sempat mendengar pembicaraan Zishu di telepon.


“Benar,” jawab Zishu membenarkan.


“Apa katanya?” tanya Chen penasaran. Tangannya menyodorkan sepiring makanan spesial yang menjadi menu terfavorit di kantin ini.


“Tidak ada apa-apa, Kak! Cuma bertanya sudah makan siang atau belum,” beber Zishu pelan seraya menatap piring berisikan makanan yang tampak menggiurkan itu.


“Ehemmm perhatian sekali dia,” Chen berdehem pelan, di sertai kedipan mata menggoda.

__ADS_1


Zishu mendelik jengkel. “Jangan mulai deh, Kak!”


“Fuffft baiklah,” kekehan pelan keluar mulut Chen.


Tidak ada balasan dari Zishu. Pemimpin baru Yan Group itu terlihat mulai menyantap makanannya dengan lahap. Chen kembali terkekeh melihatnya.


***


Selesai makan siang, Zishu dan Chen sempat terdiam di kantin. Bagaimana mereka bisa pergi dari sana kalau para karyawan mendatangi mereka. Ada yang memberi selamat ulang tahun kepada Zishu. Ada pula yang memberi selamat pada Chen atas jabatan barunya. Benar-benar memakan waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya keduanya bisa pergi dari sana.


“Bagaimana kak?” tanya Zishu pada Chen yang baru saja selesai menelepon seseorang.


Saat ini keduanya sudah berada di ruangan Zishu.


“Dia akan datang sekitar 15 menit lagi,” jawab Chen menyampaikan sesuai dengan ucapan seseorang itu—Calon sekretaris Zishu.


“Baiklah,” Zishu mangut-mangut mengerti.


“Kapan kakak berangkat ke Changsha?” sambungnya.


“Tunggu sampai calon sekretarismu itu datang. Baru kakak berangkat,” jawab Chen menatap ke arah jam tangannya. Masih ada sekitar 1 jam, sebelum jam keberangkatannya.


“Oh baiklah. Soal calon sekretarisku, aku mau bertanya satu hal. Kakak tidak berpikir untuk mencari calon sekretaris juga?” Zishu bersandar di kursinya. Sedangkan Chen memilih duduk di sofa empuk yang ada di ruangan itu.


“Kakak rasa tidak perlu,” kelit Chen santai.


“Kenapa? Bukankah kakak akan lebih terbantu,”


“Terbantu apanya? Kakak justru merasa risih kalau ada sekretaris,” gerutu Chen.


Sudah berapa kali ia gonta-ganti sekretaris untuk membantunya tapi justru merasa risih di dapatkannya. Mereka terlalu centil, agresif dan masih banyak lagi lainnya. Tentu saja Chen sangat tidak menyukainya. Perlu di garis bawahi, dirinya bukan penggila wanita—Alias anti wanita.


“Risih kenapa?” Zishu mengernyitkan dahinya.


“Ya risih. Semua mantan sekretaris kakak itu memang pintar dan cekatan. Cuma di sisi itu, mereka centil, agresif dan masih banyak lagi. Kakak di bikin risih tiap hari dengan tingkah mereka,” keluh Chen mengungkapkan bagaimana semua mantan sekretarisnya itu membuatnya risih dengan tingkah mereka.


Seketika tawa Zishu pecah. Tidak kuasa mendengar keluhan kakaknya.


“Fuffft.. Hahaha... Astaga,”


“Berhenti tertawa, Zi`er! Ini gak lucu,” pinta Chen tidak suka tapi orang yang di mintanya berhenti, malah tidak mendengarkannya.


“Hmmm kalau tahu begini, kakak tidak akan menceritakannya padamu!” sambungnya.


... _____...


... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...

__ADS_1


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...


__ADS_2