
“Heeum indah tapi tidak baik berada di luar seperti ini. Kamu bisa masuk angin sayang. Sebaiknya kita masuk!” celetuk Lui tanpa merubah posisinya.
“Sebentar lagi. Pemandangan seperti ini sayang untuk di lewatkan,” tolak Zishu secara halus.
“Baiklah, hanya sebentar! Tidak boleh lebih dari itu,” akhirnya Lui hanya bisa menyetujui penolakan istrinya itu.
Zishu menganggukkan kepalanya. Matanya enggan untuk beralih menatap pemandangan kota di depannya.
“Besok aku akan pergi ke Shanghai,” sontak Lui mengangkat bahunya.
“Kenapa tiba-tiba sayang?” tanya Lui sedikit terkejut.
“Ada masalah pada proyek itu dan aku pergi menggantikan kak Chen,” jawab Zishu tanpa menatap orang yang di ajaknya bicara.
“Masalah apa? Lalu ke mana Chen?”
“Masalah pembengkakan biaya pembangunan, tidak sesuai dengan perhitungan awal. Aku harus pergi ke sana menggantikan kak Chen yang sedang pergi ke Changsha,” Zishu tidak merahasiakan masalah itu sebab siapa tahu Lui bisa membantunya.
“Bagaimana itu bisa terjadi, sayang? Apa Chen sudah menyelidiki masalah ini?” tanya Lui tampak serius. Pasalnya permasalahan seperti ini sudah sering di hadapinya dan tidak jarang ia mengalami kerugian besar.
“Aku juga tidak tahu dan kak Chen belum menyelidikinya secara langsung. Kak Chen hanya merasa ada yang tidak beres dengan berkas laporan. Aku pun merasakan hal yang sama,”
“Ini pasti ulah dari orang dalam, sayang! Aku sudah sering menghadapi masalah seperti ini. Kamu harus cepat menyelesaikannya agar menghindari kerugian yang besar,”ucap Lui melepaskan pelukannya dan menatap serius Zishu.
“Aku juga berpikir hal yang sama. Makanya besok aku akan berangkat ke Shanghai untuk memantau proyek di sana dan menyelidiki masalah ini,” Zishu setuju dengan ucapan Lui. Masalah ini tidak bisa di biarkan saja atau kerugian besar akan di dapatkan perusahaannya.
Sebenarnya perusahaan Yan Group memiliki kekayaan berlimpah. Kerugian di proyek itu tidak akan membuat Yan Group bangkrut. Namun masalah seperti ini tidak bisa di biarkan dan harus di selesaikan. Segera!
“Mau ku temani, sayang?” tawar Lui tanpa melepaskan pelukannya.
“Sepertinya tidak perlu,” Zishu menolak halus.
“Kenapa?” Lui melepaskan pelukannya dan menatap intens istrinya itu.
“Kamu juga pasti punya banyak kerjaan. Aku bisa pergi sendiri ke sana,” jelas Zishu tersenyum hangat.
“Yakin sayang?” tanya Lui memastikan.
Zishu mengangguk pelan. “Tidak perlu khawatir!”
“Hmmm baiklah. Sekarang kita masuk ke dalam. Angin seperti ini tidak bagus,”terdengar helaan nafas ringan dari mulut Lui. Ia terpaksa menyetujui keinginan istrinya itu.
“Iya,” sahut Zishu singkat.
Keduanya pun berjalan masuk ke dalam kamar.
“Ini pakaianmu, sayang!” seru Lui menyerahkan sebuah paperbag yang tadi terletak di sofa.
“Terima kasih,” sudut bibir Zishu terangkat. Tangannya menerima paperbag itu.
__ADS_1
“Iya sayang,”
Setelah itu, Zishu pergi ke kamar mandi lagi dan memakai pakaian yang ada di paperbag tadi. Sambil menunggu Zishu selesai, Lui duduk di sofa dan bermain ponsel. Jari terlihat gesit mengotak-atik ponsel, sampai terbesit sebuah senyuman.
***
Zishu sudah keluar dari kamar mandi. Set pakaian santai berwarna brown sudah terpasang di tubuhnya. Baju berlengan pendek dan celana selutut. Belum lagi rambutnya yang basah, tengah di keringkannya dengan handuk kecil. Wajahnya jauh lebih segar daripada sebelumnya.
“Aku sudah selesai,” suara Zishu mengejutkan Lui yang masih duduk di sofa. Bedanya ia tidak lagi bermain ponsel, memeriksa email di laptopnya.
Spontan Lui mengalihkan tatapannya dari layar laptopnya. Matanya seolah terpesona mendapat pemandangan itu. Sungguh istrinya itu tampak cantik dan tentunya menggemaskan.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?” Zishu mengernyitkan dahinya. Kakinya berjalan menghampiri Lui dan dalam sekejap mendudukkan diri di sebelahnya.
Lui menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak ada yang salah,”
“Lalu?”
“Aku hanya terpesona dengan kecantikan istriku ini,” senyuman melebar mengembang di bibir Zishu. Blush—Pipi Zishu memerah seketika.
“Jangan berlebihan seperti itu!” cetus Zishu menahan malu.
“Apanya yang berlebihan? Aku ini bicara seadanya sayang. Sangat beruntung bisa memiliki istri seorang bidadari sepertimu,” ucap Lui lantang, Zishu mendelik.
“Gombal!”
“Yaudah kalau serius tapi berhenti cubit. Sakit tau,” keluh Zishu mengerucutkan bibirnya.
“Ups maaf, sayangku!” segera Lui tarik tangannya dari pipi Zishu. Beralih mengambil handuk yang sedari tadi Zishu pegang.
“Mau ngapain?” Zishu menatap bingung ke arah suaminya itu.
“Mengeringkan rambutmu,” tangan Lui sudah mulai bergerak mengeringkan rambut istrinya itu dengan handuk tadi.
“Eh? Aku bisa sendiri,” sentak Zishu terkejut. Laki-laki yang sudah berstatus suaminya itu suka sekali bertindak mengejutkannya.
“Diamlah sayang! Biarkan aku membantumu,”terdengar hangat tapi sebenarnya sangat tegas. Menandakan Lui tidak menerima penolakan.
Zishu menjadi diam tidak berucap. Ia membiarkan Lui mengeringkan rambutnya. Tidak ada yang salah dengan itu bukan? Suaminya itu hanya ingin membantunya.
“Anu—,” sekian detik berlalu, Zishu kembali berucap.
“Anu apa?”tanya Lui masih sibuk mengeringkan rambut Zishu.
“Anu—Setelah ini aku mau pulang,” jawab Zishu gagap.
“Buat apa buru-buru pulang sayang? Aku sudah meminta ijin pada nenek. Kalau kamu akan menginap di sini,” pernyataan Lui ini membuat Zishu terkesiap mendengarnya.
“Ha?” Zishu mengerjapkan matanya. Seakan tidak yakin akan pendengarannya barusan.
__ADS_1
“Iya, aku sudah meminta ijin dan nenek mengizinkan. Nenek juga bilang kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Ada Jie di sana menemaninya,” imbuh Lui tersenyum lebar, ada perasaan bahagia yang merambat di hatinya. Malam ini ia bisa tidur bersama istrinya itu lagi.
Saat Zishu sedang di kamar mandi tadi, Lui sempat menelepon nyonya Jia Lee. Meminta ijin padanya agar Zishu bisa menginap. Nyonya Jia Lee tentu sangat mengizinkan. Wanita paruh baya itu mengatakan bahwa hal ini sangat baik untuk pendekatan mereka berdua.
“Begitu ya?” tanya Zishu mangut-mangut. Entah apa yang di rasakannya saat ini. Harus bahagiakah karena akan tidur bersama Lui lagi atau kesal karena tindakan suaminya itu.
“Iya sayang,” jawab Lui.
“Em baiklah,” cicit Zishu pasrah.
Lui terkekeh pelan tanpa memberi balasan. Tangannya terus bergerak mengeringkan rambut Zishu. Hingga ia rasa sudah cukup.
“Sudah selesai,” beritahu Lui, usai berhenti menggerakkan tangannya.
“Terima kasih,” seakan sudah bosan mendengar kalimat itu, Lui mencubit hidung Zishu.
“Jangan berterima kasih lagi, Oke!? Kamu sudah mengucapkannya beberapa kali dalam sehari,” celetuk Lui merasa gemas. Baru pertama kali ia bertemu orang seperti Zishu. Suka mengucapkan terima kasih di sepanjang hari.
“Tidak ada yang salah dengan itu, bukan? Mengucapkannya wajib. Apalagi pada orang yang sudah melakukan sesuatu hal baik pada kita. Aku tidak mau jadi orang yang tidak tahu berterima kasih. Orang tuaku tidak mengajarkan itu,”entah kenapa, Zishu memperlihatkan sifat cerewetnya.
Alis Lui terangkat, sebelum di gantikan sudut bibirnya yang terangkat. Perlahan gadis yang sudah menjadi istrinya itu, memperlihatkan sifatnya.
“Ternyata kamu cerewet ya?”spontan Zishu tersadar dan menutup mulutnya. Ia merutuki dirinya sendiri.
`Astaga kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku!? Dia mungkin saja tidak menyukainya,` batin Zishu
“Maaf,” cicit Zishu merasa tidak enak hati. Seharusnya ia bisa mengontrol dirinya. Apalagi ia dan Lui belum mengenal lama atau pun dekat.
“Tidak ada yang perlu di maafkan, Sayang! Kamu tidak berbuat salah,”Lui mengacak-acak gemas rambut Zishu. Gadis itu sangat suka membuatnya gemas. “Dan soal sifat cerewetmu tadi, aku menyukainya. Perlahan aku bisa lebih mengenalmu,”
“Terima ka—,” ucapan Zishu terpotong, saat Lui menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tidak lagi. Kamu rapikan dulu rambutmu dan setelahnya kita makan malam,”
Zishu langsung mengangguk dan beranjak berdiri. Ia berjalan masuk kembali ke kamar mandi, meletakkan handuk tadi ke tempatnya semula. Kemudian ia keluar dari kamar mandi. Tujuannya selanjutnya adalah ruang ganti Lui. Sesuai dengan apa yang di katakan suaminya itu. Di sana ia mengambil alat untuk merapikan rambut. Sekaligus melihat tampilannya di pantulan cermin besar. Usai selesai, Zishu keluar dari sana. Menghampiri Lui yang sudah menutup laptopnya.
“Ayo sayang!” ajak Lui, beranjak dari duduknya.
“Iya,”
Zishu dan Lui berjalan keluar dari kamar. Keduanya menuju ke ruang makan. Di sana sudah tertata berbagai macam makanan yang telah di siapkan.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...
__ADS_1