
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
“Terima kasih,” lagi-lagi Zishu dan Lui tidak sengaja berucap bersamaan.
“Sama-sama, tuan dan nona. Tugas saya sudah selesai di sini. Ini milik kalian,” petugas sipil itu menyerahkan buku nikah milik Zishu dan Lui. Dimana itu bukti bahwa mereka sudah menikah.
Andaikan Lui tidak menggunakan kekuasaannya, buku nikah itu tidak akan jadi hari ini. Biasanya para pasangan yang baru menikah harus menunggu selama seminggu untuk mendapatkannya.
“Sekali lagi terima kasih, pak!” Lui menerima buku nikah itu, begitu juga Zishu.
“Sudah tugas saya, tuan. Kalau begitu saya permisi ke ruangan saya dulu” petugas sipil itu berpamitan lebih dulu dan kemudian pergi dari ruangan itu.
Tertinggallah Zishu, Lui, Chen dan nyonya Jia Lee di dalam ruangan itu. Jika di tanya dimana para bawahan Chen, mereka berada di luar ruangan. Bersama para bawahan Lui.
“Selamat cucuku. Sekarang kalian sudah menikah dan nenek sangat bahagia,” ucap nyonya Jia Lee menghampiri Zishu dan langsung memeluk hangat cucunya yang baru saja menikah itu. Sungguh dirinya merasa bahagia dan itu tidak cukup di ungkapkan hanya lewat kata-kata.
“Terima kasih, nek. Aku ikut bahagia, mendengar nenek bahagia,” sahut Zishu membalas pelukan hangat neneknya.
“Jadilah istri yang baik. Patuhi apa kata suamimu. Sekarang suamimu lah yang menjadi pembimbingmu dalam menjalani hidup,” pesan nyonya Jia Lee pada Zishu.
“Akan ku lakukan nek,” balas Zishu
Chen juga tidak mau diam saja. Ia merangkul pundak temannya yang kini sudah menjadi adik iparnya. “Selamat Lui. Sekarang kau sudah resmi menjadi adik iparku,”
“Hhaha terima kasih,” Lui terkekeh.
“Sama-sama adik ipar,” sahut Chen tersenyum lebar.
Kemudian Chen beralih ke Zishu, setelah nyonya Jia Lee melepaskan pelukannya. Tanpa berucap, Chen memeluk hangat Zishu. Tidak terasa waktu sudah cepat berlalu. Gadis kecil yang dulunya menyelamatkannya dari hidup gelandangan, sekarang sudah beranjak dewasa dan menjadi seorang istri.
“Selamat ya, Zi`er! Tidak terasa sekarang gadis kecil ini sudah beranjak dewasa dan menjadi seorang istri. Waktu terlalu cepat berlalu,” Chen melepaskan pelukannya dan berganti mengusap pucuk kepala Zishu. Sesayang itu dirinya pada gadis yang sudah banyak berjasa padanya.
“Tapi tidak apalah. Setidaknya tidak ada lagi yang nakal dengan kakak Hehe,” lanjutnya terkekeh
“Aku mana pernah nakal,” protes Zishu memasang raut wajah cemberut.
__ADS_1
“Hhaha baiklah,” Chen tidak bisa menahan tawanya. Zishu sangat menggemaskan saat cemberut seperti itu. “Udah ah jangan cemberut gitu! Kakak tadi cuma bercanda kok,”
“Hmmm aku tahu itu, kak!” seru Zishu kembali tersenyum.
“Ini baru bagus. Jalankan tugasmu sebagai istri dengan baik,” Chen mengucapnya dengan tulus.
“Baik, kak!” Zishu mengangguk samar.
“Nenek berpesan yang sama padamu. Tepati semua ucapanmu. Jalani tugasmu sebagai seorang suami dengan baik. Bimbinglah Zishu dalam segala langkahnya kehidupan ini. Nenek berharap kamu bisa melakukannya,”giliran nyonya Jia Lee memberi pesan pada Lui yang sudah menjadi cucu menantunya.
“Aku akan melakukannya sebisaku, nek. Berusaha tidak mengecewakan kalian,” ungkap Lui setulus hatinya. Nyonya Jia Lee menepuk pelan pundak Lui sebagai balasannya.
“Sebaiknya kita pulang sekarang. Nak Lui ikut saja pulang ke kediaman,” ajak nyonya Jia Lee pada Zishu, Lui dan Chen.
“Maaf nek. Saya tidak bisa ikut sekarang. Ada rapat penting setelah ini dan tidak bisa di batalkan,” tolak Lui halus.
“Iya nek. Rapat itu tidak bisa di batalkan. Kalau pun di batalkan, itu akan berdampak buruk pada perusahaannya. Jadi Lui harus menghadirinya,” timpal Chen membenarkan alasan penolakan Lui.
“Begitu ya, nak Lui?” tanya nyonya Jia Lee mengangguk mengerti.
“Iya begitu nek tapi saya pasti datang nanti malam,” jawab Lui
Kemudian pembicaraan di ruangan itu berakhir. Nyonya Jia Lee dan Chen beserta para bawahannya, berjalan lebih dulu menuju keluar kantor catatan sipil. Membiarkan Zishu dan Lui berjalan berdua di belakang.
“Bisakah berhenti sebentar?” pinta Lui tepat sesudah keluar dari kantor catatan sipil.
“Kenapa?” tanya Zishu menghentikan langkahnya dan menatap penasaran ke arah Lui.
“Kemarikan tangan kiri nona,” bukannya menjawab, Lui justru meminta Zishu untuk mengulurkan tangannya.
`Apa yang akan di lakukan tuan Lui sekarang?` batin Zishu
“Nona,” panggil Lui sebab Zishu tidak meresponsnya.
“Eh—” sontak Zishu mengulurkan tangan kirinya ke arah Lui.
“Sekarang nona—bukan, maksudnya kamu sudah menikah denganku. Berarti sudah menjadi milikku. Jadi hanya barang pemberianku yang sekarang boleh kamu pakai,” dalam sekejap Lui sudah merubah nada bicaranya pada Zishu. Tidak lagi formal seperti biasanya. “Termasuk cincin ini!”
__ADS_1
Zishu terdiam melihat Lui melepaskan cincin pertunangannya dengan Chunying. Setelahnya membuang cincin itu ke sembarang arah.
“Kamu marah?” tanya Lui melihat Zishu terdiam melihat aksinya.
“Buat apa aku marah? Cincin itu memang sudah seharusnya di lepas dan di buang bersama kenangannya,” jawab Zishu tidak keberatan sama sekali.
“Ini cincin penggantinya. Dengan memakai ini, aku berharap kita bisa membuat kenangan yang indah bersama nantinya. Saat ini kita benar, belum saling mencintai tapi berpeganglah dalam sebuah komitmen. Komitmen untuk berusaha saling mencintai satu sama lain. Aku yakin kita bisa,” ucap Lui sembari menyematkan cincin yang telah di belinya, ke jari manis Zishu.
“Aku tidak tahu itu akan berhasil atau tidak. Setidaknya kita sudah berusaha untuk itu. Aku berharap keputusan kita untuk menikah, tidak berakhir dengan luka. Sungguh aku tidak menginginkan itu. Demi harapan itu, aku akan melakukan apa pun untukmu. Nyawa pun ku berikan jika itu di perlukan. Asal kita sama-sama berusaha untuk membuat pernikahan ini berakhir bahagia. Jadi maukah mewujudkan harapan itu bersama?” lanjutnya beradu tatapan dengan Zishu.
Tidak keraguan dalam mengucapkan kata-kata yang tidak pernah di ucapkan sebelumnya. Bagi orang lain, mungkin itu terdengar lebay tapi tidak bagi Zishu. Justru ia tersentuh dan salut dengan ucapan dari laki-laki yang sudah menjadi suaminya.
`Laki-laki ini... Sangat membuatku tersentuh dengan ucapannya, ` batin Zishu
“Baik, ayo wujudkan harapan bersama! Saling berpegang pada komitmen untuk berusaha mencintai. Jadikan pernikahan kita berakhir bahagia,” sahut Zishu cepat dengan tersenyum lebar. Hatinya yakin untuk itu.
“Sepakat nyonya Zeming!” seru Lui mencium lembut Zishu dan berhasil membuat istrinya itu tersipu malu.
Ini pertama kalinya Zishu mendapat perlakuan itu dari Lui. Tidak heran kalau ia tersipu malu.
`Me—mengapa rasanya aku lebih bahagia mendapatkan perlakuan seperti ini dari Lui. Daripada yang di lakukan Chunying,` batin Zishu
“Sekarang berikan nomor ponselmu agar dapat menghubungimu. Terdengar konyol kalau kita, suami-istri tapi tidak bertukar nomor ponsel. Bagaimana nanti bisa saling menghubungi,” canda Lui seraya menyerahkan ponselnya pada Zishu.
“Hmmpph benar juga,” Zishu tertawa kecil dan segera mengambil ponsel Lui. Ia mengetikkan nomornya di sana.
“Sudah!” lanjutnya, menyerahkan kembali ponsel itu pada Lui.
Lui mengambilnya dan langsung memberi nama kontak Zishu, sebelum menyimpannya. Ia memberikan nama `Sayangku` pada kontak Zishu.
“Sudah ku simpan,” Lui memperlihatkan layar ponselnya yang menunjukkan kontak Zishu. Tertera jelas nama kontaknya dan membuat Zishu kembali tersipu malu. Kalau bisa, mungkin sekarang ia akan bersembunyi di suatu tempat.
Bagaimana bisa Lui menamai kontaknya dengan panggilan sayangku? Bukankah itu terlalu romantis.
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
__ADS_1
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...