
...||•🥀Happy Reading🥀•||...
..._____...
Zishu terdiam menahan gejolak di hatinya. Kata-kata yang di ucapkan Lui mungkin terdengar umum bagi orang lain tapi tidak baginya. Terdengar begitu manis di telinganya.
***
Sesampainya di luar kediaman, Zishu dan Lui segera masuk ke dalam mobil milik Lui. Mobil itu sudah terparkir sejak tadi, di sampingnya berdiri sopir pribadi Lui.
“Ke kediaman Yan Utama!” perintah Lui usai masuk ke dalam mobil. Ia sudah duduk bersebelahan dengan Zishu.
“Baik tuan,”
Sopir pribadi Lui sudah memasang seatbelt miliknya. Kemudian langsung melajukan mobil menuju kediaman Yan utama yang jaraknya tidak terlalu jauh.
“Tadi malam aku lupa memberitahumu sesuatu, sayang!” seru Lui memecah keheningan yang sempat terjadi.
“Apa?” sentak Zishu menatap Lui dengan penasaran.
“Soal orang yang menyerangmu malam itu. Aku sudah membereskannya,”pernyataan Lui ini sedikit membuat Zishu terkejut.
“Secepat itu?” Zishu memicingkan matanya.
Lui mengangguk pelan. “Sesuai dengan ucapanku, sayang. Aku tidak akan melepaskan siapa pun yang berani melukaimu,”
“Kamu apakan orang itu?” tanya Zishu.
“Hanya memberinya pelajaran kecil,” jawab Lui santai.
Namun Zishu yakin satu hal. `Pelajaran Kecil` yang di maksudkan Lui bukan seperti kenyataannya.
“Em—Baiklah,” sungut Zishu tanpa mempertanyakan lagi.
Setelahnya keheningan kembali terjadi di sepanjang perjalanan menuju kediaman Keluarga Yan Utama.
15 menit kemudian...
“Kamu tidak mau turun dulu untuk bertemu nenek?” Zishu bertanya, tepat saat mobil berhenti di depan kediamannya.
“Lain kali saja, sayang. Ada nona Jie di dalam,” jawab Lui menolak secara halus dan menyertakan alasannya.
Keberadaan Jie di ketahui Lui dari nyonya Jia Lee tadi malam. Sepupu sekaligus sahabat dari istrinya itu kembali menginap di kediaman Yan Utama tadi malam.
“Ya sudah, kalau begitu maaf merepotkan. Kamu hati-hati di jalan!” Zishu sempat ingin beranjak turun dari mobil.
“Tunggu dulu!” cegah Lui berhasil menghentikan Zishu.
“Ada apa?” tanya Zishu menatap bingung suaminya itu.
__ADS_1
“Sampaikan salamku untuk nenek,”sahut Lui tersenyum. “Dan semangat bekerja sayang!”
Ciuman singkat mendarat di kening Zishu.
“Akan ku sampaikan. Kamu juga semangat,”
“Pasti sayang!” sahut Lui memperlihatkan senyuman lebarnya.
Zishu turun dari mobil milik Lui. Ia melambaikan tangannya pada Lui. Di balas balik oleh Lui dari dalam mobil. Setelah itu, mobil milik Lui kembali melaju, keluar dari kediamannya.
Seperginya mobil milik Lui, Zishu berjalan masuk ke kediamannya. Ada beberapa pelayan yang memulai bekerja, menyempatkan untuk menyapanya. Ia juga membalasnya di sela berjalan menuju kamarnya. Kakinya terus berjalan sampai berhasil mencapai kamarnya. Segera ia membersihkan dirinya dan bersiap-siap. Usai selesai bersiap, Zishu memeriksa ponselnya. Di sana terdapat beberapa pesan masuk. Pesan Chen berada di paling atas dan ia langsung membukanya.
[Chen💬: Kakak sudah menyiapkan persiapan keberangkatanmu dan keperluanmu selama di Shanghai. Jadi kamu tidak perlu repot lagi]
Zishu membalas.
[Terima kasih, kak!]
Setelah membalas pesan Chen, Zishu menyimpan kembali ponselnya. Beberapa pesan lain tidak di bacanya karena menurutnya tidak terlalu penting.
“Hmmm aku akan menemui nenek dulu sebelum berangkat,” gumam Zishu seraya memperhatikan penampilannya lewat cermin.
Hari ini Zishu tampak cantik dengan memakai setelan blazer hitam. Kaos hitam berlengan pendek, di lapisi Blazer berwarna senada. Sedangkan bawahannya terpasang celana hitam panjang, tidak ketat. Sepatu hitam dan jam tangan juga menjadi pelengkapnya. Jangan heran kenapa ia memakai serba hitam sebab itu warna kesukaannya. Terlebih lagi turun memantau proyek lebih baik memakai pakaian yang berwarna gelap seperti itu.
Terlepas dari pakaiannya, Zishu memoles make up tipis di wajahnya. Rambutnya juga ikat rendah, menyisakan poni tipis yang menutupi dahinya.
“Sudah sempurna,” deretan gigi putih Zishu terlihat karena merasa cukup puas dengan penampilannya.
Kamar nyonya Jia Lee
“Pagi, nek!” sapa Zishu ketika sudah sampai di kamar neneknya.
Nyonya Jia Lee yang tengah duduk menghadap ke arah luar jendela, lantas menengok ke arah belakang.
“Pagi, Zi`er! Kamu sudah pulang? Di antar nak Lui?” balas nyonya Jia Lee tanpa merubah posisinya.
“Iya, nek. Nenek sudah sarapan?” Zishu berjalan menghampiri neneknya.
“Sudah. Tadi nenek sarapan bersama Jie,”
“Baguslah, nek. Dimana Jie sekarang?” tanya Zishu berhenti berjalan tepat di samping nyonya Jia Lee.
“Ada di kamarnya. Memangnya kenapa?” tanya balik nyonya Jia Lee.
“Tidak kenapa-kenapa, nek! Tadi aku mengajak Lui untuk masuk tapi di tolak karena ada Jie,” jawab Zishu sejujurnya.
“Begitu ya? Padahal tadi nenek ingin berbicara banyak dengannya,” ucap nyonya Jia Lee yang memang menantikan kedatangan Lui tadi.
“Katanya lain kali saja, nek. Lui juga titip salam untuk nenek,” ungkap Zishu menyampaikan.
__ADS_1
“Oh ya, nek. Aku akan pergi ke Shanghai hari ini. Ada proyek yang harus ku pantau. Kakak memintaku untuk menggantikannya,” sambungnya.
“Nenek tahu itu. Chen sudah memberitahu nenek kemarin. Kamu tidak berpikir untuk mengajak nak Lui bersamamu?”
“Tidak. Nenek juga tahu sendiri kalau Lui itu pimpinan perusahaan juga. Pasti memiliki banyak pekerjaan di perusahaannya. Lagian aku bisa pergi sendiri. Aku bukan anak kecil yang perlu di temani,” celetuk Zishu membuat nyonya Jia Lee terkekeh.
“Siapa tahu kalian bisa sekalian pacaran,” sontak mata Zishu membulat sempurna mendengar ucapan neneknya.
“Haish nenek ini ada-ada saja. Aku ke sana untuk memantau proyek, bukan untuk itu! Terlebih lagi kami sudah menikah. Masa pergi pacaran,” Zishu mendesis pelan.
“Apa salahnya dengan pacaran setelah menikah? Itu justru bagus. Kalian bisa lebih saling mengenal satu sama lain,” ucap nyonya Jia Lee tersenyum.
“Ya terserah nenek saja. Aku mau berangkat sekarang! Nenek jangan lupa minum obat, makan dan istirahat. Awas kalau lupa!”Zishu mencium pipi kanan dan kiri nyonya Jia Lee secara bergantian.
“Nenek mana mungkin lupa kalau sudah di ingatkan. Hati-hati di jalan, Zi`er!” seru nyonya Jia Lee.
Zishu menyatukan jari telunjuk dan jempol di tangan kanannya, membentuk huruf O. Setelahnya ia pergi meninggalkan nyonya Jia Lee.
Tepat di depan pintu kamar, Zishu bertemu bibi Shi—Pelayan pribadi neneknya.
“Selamat pagi, nona!”
“Selamat pagi juga, Bi! Pastikan nenek melakukan apa yang di anjurkan dokter. Aku akan pergi ke luar kota,” Zishu berucap hangat kepada bibi Shi.
“Baik, nona!” sahut bibi Shi
Tidak ada balasan lagi dari Zishu yang langsung lanjut berjalan, begitu pula dengan bibi Shi.
Zishu berjalan menuju keluar kediaman dan tidak sengaja bertemu Jie. “Pagi, Jie! Mau ke mana?”
“Eh—Pagi juga, Zishu! Aku mau ke perusahaan papa. Bagaimana denganmu?” sentak Jie yang sempat sedikit terkejut.
“Aku akan pergi ke luar kota,” balas Zishu
“Ada pekerjaan di sana?” Jie bertanya, Zishu mengangguk membenarkan.
“Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku harus ke perusahaan sebentar. Baru pergi ke luar kota,” ucap Zishu seraya melirik sekilas ke arah jam tangannya.
“Baiklah, hati-hati di jalan!” seru Jie.
“Iya. Jangan lupa jaga nenek selama aku pergi,” imbuh Zishu mengingatkan.
“Beres. Kau tenang saja!”
..._____...
...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
__ADS_1
...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...