Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 79. Satu Saja Cukup


__ADS_3

...||•🥀Happy Reading🥀•||...


..._____...


“Aku tidak menyebut siapa-siapa. Terkecuali kamu merasa,” Zishu tersenyum menyindir. Perempuan itu menatap kesal ke arahnya.


“Dasar sialan!” bentak perempuan itu, sebelum pergi dari sana. Mungkin ia tidak ingin berdebat panjang dengan Zishu.


“Hati-hati di jalan! Jangan goda suami orang lagi ya!” seru Zishu melambaikan tangannya.


Perempuan itu tidak menghiraukannya dan lanjut berjalan pergi. Zishu tertawa puas melihat betapa kesalnya perempuan itu.


“Kamu tampak puas membuatnya kesal,” ucap Lui mengulum senyumnya. Sontak Zishu menatap ke arahnya.


“Heum, aku puas. Siapa suruh dia menggoda suami orang,” sahut Zishu.


Alis Lui terangkat sebelah. “Bukankah aku ini suamimu, sayang?”


Gemas—Zishu melihat Lui. Bisa-bisanya Lui tidak mengerti ucapannya.


“Astaga. Ucapanku tadi untuk umum. Nyatanya kamu memang suamiku. Apa kamu tidak mengerti?”


“Hmmmph.. Aku mengerti, sayang! Tadi cuma bercanda,” Lui terkekeh seraya mencubit hidung Zishu dengan gemasnya. Zishu mengerucutkan bibirnya di balik masker.


“Ini pesanan bakpao Anda, tuan!” seru penjual bakpao menyerahkan bungkusan bakpao pesanan Lui.


Lui mengambilnya dan tak lupa membayar. “Terima kasih,”


Penjual bakpao itu mengangguk padanya. Kemudian ia dan Zishu pergi dari sana karena masih ada beberapa orang yang mengantre untuk membeli bakpao itu.


“Kita makan di sini saja. Bagaimana?” tanya Lui saat berhenti di tepi dermaga. Di sana tidak ramai dan ada beberapa kursi yang sengaja di sediakan di sana.


“Tidak masalah,” jawab Zishu singkat.


Mereka berdua duduk di salah satu kursi. Lui langsung membuka bungkusan bakpao dan Zishu hanya memperhatikannya.


“Suka bakpao?” sambungnya bertanya.


“Kenapa tidak?” Lui balik bertanya sambil memberikan satu bakpao pada Zishu.


Zishu menerima bakpao itu dan memakannya. “Yah, aku pikir kamu tidak suka. Banyak orang kaya lebih memilih makan di restoran mewah, daripada bakpao jalanan. Kata mereka, memakan bakpao jalanan sama saja menurutkan martabat. Konyol bukan?”


“Mereka berkata seperti itu karena belum mencoba memakannya,” sahut Lui.


“Kamu benar,” timpal Zishu mengangguk-angguk.

__ADS_1


Lui tersenyum tipis di sela memakan bakpao yang hangat. Pas sekali dengan suasana dingin saat ini. Di tambah enak karena makannya bersama Ayang wk.


[Author: Hayo Ayang kalian mana🤭?]


Zishu dan Lui sama-sama diam memakan bakpao yang hangat. Di depan mata mereka di suguhkan pemandangan dermaga dengan banyaknya lampu-lampu kapal pesiar dan gedung-gedung tinggi di sekitarnya.


“Sudah hampir tengah malam, sayang. Makin dingin di sini. Kita sebaiknya pulang,” ucap Lui melirik sekilas jam tangan miliknya.


“Em baiklah,” sahut Zishu setuju.


Lui lebih dulu beranjak dari duduknya. Lalu mengulurkan tangannya ke arah Zishu.


“Ayo pulang, sayang!”


Zishu mendongakkan kepalanya. Senyumannya mengembang dan menyambut uluran tangan suaminya itu. “Ya, ayo pulang!”


Mereka berdua kembali bergandengan tangan. Raut bahagia terpancar di wajah mereka. Malam ini adalah awal sebenarnya dari hubungan yang telah terjalin di antara mereka.


“Tetap berjalan bersamaku seperti ini di masa depan!” harap Lui menatap Zishu sesuai dengan nada bicaranya.


“Baik!!!” sahut Zishu yakin.


Lui tersenyum dan mendaratkan kecupan sekilas di bibir Zishu. Kemudian barulah berjalan menuju mobil yang letaknya tidak terlalu jauh. Sesampainya di mobil, mereka segera masuk. Lui langsung melajukan mobil meninggalkan kawasan The Bund.


Zishu dan Lui telah sampai di Villa, beberapa menit lalu. Kini mereka berdua sudah berbaring di atas ranjang usai berganti pakaian.


“Kamu pulang besok?” tanya Lui seraya memeluk Zishu dengan erat.


“Iya tapi menyelesaikan masalah di sini dulu,” jawab Zishu sedikit mendongakkan kepalanya agar bisa menatap Lui.


“Apa besok kamu mau menungguku sebentar? Kita pulang bersama besok,” Lui mengelus lembut kepala Zishu. Sesekali menciumnya.


“Boleh saja,” balas Zishu tak keberatan.


“Hmmm sayang,”


“Kenapa?” Zishu menyipitkan matanya. Otaknya tidak bisa mencerna arti deheman Lui barusan.


“Setahuku rencana pernikahanmu dan Chunying terjadi dalam beberapa hari lagi—” ucap Lui menggantung.


“Lalu?” beo Zishu polos.


“Lalu apa rencanamu, sayang? Jangan sampai kamu menikah lagi. Aku tidak mau di duakan,” imbuh Lui membuat Zishu tertawa pelan.


“Fufffft—Aku tidak bisa menikahi 2 laki-laki. Satu saja cukup. Soal rencanaku, masih tahap merencanakan. Ada beberapa hal yang ku pertimbangkan. Salah satunya orang tua Chunying. Mereka sahabat orang tuaku. Kamu mengerti itu kan?” jelas Zishu setelah sempat tertawa.

__ADS_1


Lui menatap ke arahnya. “Aku mengerti dan tidak ikut campur dalam masalahmu ini. Terserah kamu mau seperti apa sayang,”


“Iya,” sahut Zishu tersenyum tipis.


“Baiklah. Sekarang saatnya tidur, sayang! Ini sudah larut malam,” ajak Lui membenarkan posisinya berbaring agar Zishu lebih nyaman di pelukannya.


“Heum. Good Night!” dalam keadaan masih sadar, Zishu mencium sekilas bibir Lui. Kemudian matanya terpejam perlahan.


Lui tersenyum mendapat sikap Zishu yang inisiatif sendiri menciumnya. Satu-persatu dinding pembatas di antara mereka mulai terkikis.


“Good Night, sayang! Tidur nyenyak,” ucapnya sambil mencium kening Zishu. Tangan kanannya bergerak mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur yang menyala. Selimut juga di tariknya sampai menutupi dadanya dan Zishu.


Zishu menahan senyum, meski matanya terpejam. Jujur hatinya berbunga-bunga karena Lui. Laki-laki itu membuat perasaan di hatinya berbeda.


‘Aku pasti akan berusaha mencintaimu!’ batin Zishu


Lambat laun Zishu mulai terlelap di pelukan Lui. Nyaman—Ya kenyamanan ia dapatkan. Sehingga tidak butuh lama untuknya terlelap. Beda halnya dengan Lui yang masih senantiasa menatapnya dan mengelus kepalanya. Cukup lama melakukannya, sampai matanya terasa berat. Akhirnya ia ikut terlelap tanpa melepaskan pelukannya. Mereka berdua tidur dalam keadaan berpelukan. Saling menyalurkan kehangatan dan kenyamanan dalam dinginnya malam.


***


Cahaya mentari telah masuk, menembus celah-celah gorden kamar. Zishu merasa tidurnya terusik karena cahaya itu. Dengan berat, ia membuka matanya perlahan. Objek pertama yang di tangkap matanya adalah wajah tampan Lui. Suaminya itu masih tidur nyenyak.


“Tampan sekali,” gumam Zishu sembari pelan-pelan meraba wajah Lui. Takutnya ia membuat suaminya terbangun.


Zishu tidak berbohong. Wajah Lui tampan sekali dalam segala keadaan, termasuk tidur. Wajar saja para perempuan tergila-gila akan ketampanannya.


“Bentuk wajah yang sempurna. Bayangkan kalau para penggilamu tahu bahwa aku bisa melihat dan menyentuh wajahmu ini. Kira-kira akan seperti apa akhirnya? Pastinya cemburu. Mereka tidak seberuntung diriku,” lanjutnya lagi, bibirnya mengulum senyum.


Tangannya masih sibuk meraba wajah Lui. Dahi, alis, mata, hidung, pipi dan bibir pun tidak di lewatkannya. Namun tindakannya mengusik tidur Lui. Sadar akan hal itu, Zishu ingin menyudahi tindakannya tapi Lui mencegahnya. Lui memegang tangan Zishu yang tadi meraba wajahnya.


“Kamu mengganggu tidurku, sayang!” seru Lui dengan suara khas bangun tidur. Ia masih memejamkan matanya di sela mencium tangan Zishu tadi.


“Ma—Maaf aku mengganggumu,” ungkap Zishu tergagap. Rasa bersalah menghampirinya.


“Tidak masalah, sayang. Sudah puas meraba wajah tampan suamimu ini hmmm?” tanya Lui, matanya terbuka perlahan.


...


_____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👣+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...

__ADS_1


__ADS_2