Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 15. Mengizinkan


__ADS_3

... ||•🥀Happy Reading🥀•||...


... _____...


Jam 4 sore


“Kalian mau berangkat lagi?” tanya nyonya Jia Lee pada Zishu yang sedang menunggu kedatangan Chen.


Zishu dan Chen telah kembali ke kediaman sekitar setengah jam yang lalu. Sesampainya di kediaman tadi mereka berdua langsung mandi. Zishu sudah lebih dulu selesai mandi dan bersiap. Sekarang ia berada di ruang tamu dan sedang menunggu kedatangan Chen.


Saat ini memakai set hodie crop top dan celana cargo berwarna hitam senada. Sepatu booth hitam juga di pakainya untuk melengkapi penampilannya. Semua yang di pakainya adalah korean style. Rambutnya yang panjang dan hitam legam dengan setiap sisinya ada sedikit bagian berwarna putih-kebiruan, di biarkan terurai. Wajahnya pun hanya di poles sedikit make up agar tidak terlihat pucat.


“Iya, nek! Kan sore ini kakak bermain basket. Aku mau ikut kakak,” jawab Zishu sembari membantu neneknya duduk di sampingnya.


“Kamu tidak lelah habis jalan-jalan?” nyonya Jia Lee menatap ke arah cucunya itu.


“Tidak kok, nek! Malah aku senang pergi melihat kakak main basket. Di sana juga ada kak Jun. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya,” Zishu tersenyum sembari memijat pelan pergelangan tangan nyonya Jia Lee.


Faktor usia membuat nyonya Jia Lee sering sakit-sakitan. Bahkan anggota tubuhnya, terutama pergelangan tangannya sering mengalami kram. Sehingga perlu di pijit setiap hari.


“Jun ya!? Anak itu juga sudah lama tidak kemari. Nanti ajak datang kemari. Beritahu padanya kalau nenek merindukannya,” ucap nyonya Jia Lee.


Nyonya Jia Lee juga dekat dengan Jun. Hanya saja dalam beberapa waktu belakangan, Jun tidak datang ke kediaman keluarga Yan utama lagi. Di karenakan kesibukannya terhadap pekerjaan.


“Baiklah nanti aku sampaikan pada kak Jun,” sahut Zishu masih melanjutkan memijit pergelangan tangan nyonya Jia Lee.


“Lalu bagaimana sekarang hubunganmu dengan Chunying?” pertanyaan nyonya Jia Lee yang tiba-tiba ini, sontak membuat Zishu berhenti memijit sebentar. Rasanya Zishu ragu untuk memberitahukan kepada neneknya tentang pengkhianatan tunangannya itu dengan kakak sepupunya.


“Ada apa Zi`er?” lanjut nyonya Jia Lee penuh selidik. Perubahan raut wajah Zishu terlihat jelas.


“Tidak apa-apa, nek! Hubunganku dengan kak Chunying baik-baik saja,” kilah Zishu menyangkal fakta sebenarnya.

__ADS_1


“Benarkah? Kamu tidak sedang berbohong, bukan?” tanya nyonya Jia Lee lagi.


“Buat apa aku berbohong, nek? Aku mengatakan hal yang sebenarnya,” sekali lagi Zishu menyangkalnya dan berusaha terlihat biasa saja.


Ia tidak ingin membuat neneknya terkejut akan kebenaran yang sebenarnya. Lebih baik di sembunyikan dulu.


“Hmmm dari dulu kamu memang tidak pintar dalam berbohong. Nenek tahu apa yang sedang kamu sembunyikan,” deham nyonya Jia Lee membuat Zishu tidak berani menatap neneknya itu.


`Apa mungkin nenek sudah mengetahuinya? Ini tidak mungkin! Kakak mengatakan jika pengkhianatan kak Chunying hanya di ketahuinya seorang diri,` batin Zishu


“Tinggalkan saja Chunying! Laki-laki sepertinya tidak pantas untukmu. Nenek juga tidak menyukainya,” lanjut nyonya Jia Lee. Seketika Zishu langsung menatap terkejut ke arah neneknya.


“Nenek!?” cicit Zishu masih tidak percaya dengan yang di dengarnya. Ucapan nyonya Jia Lee menandakan kalau pengkhianatan Chunying sudah di ketahui.


“Apa kamu pikir nenek tidak mengetahuinya? Dari dulu Feiyu selalu merebut apa yang menjadi milikmu. Chunying pun tidak akan di lewatkannya dan sekarang lihatlah, Feiyu sudah berhasil mendapatkannya. Dari sini nenek dapat mengetahui, kalau Chunying tidak pantas untukmu. Batalkan saja rencana pernikahan persahabatan ini. Papamu juga tidak akan membiarkanmu tersakiti,” nyonya Jia Lee mengelus pelan pucuk kepala Zishu. Tatapannya pun menghangat seperti biasanya.


“Nenek sungguh mengizinkanku untuk membatalkannya?” tanya Zishu memastikan dan nyonya Jia Lee mengangguk.


“Terima kasih, nek! Aku sangat menyayangimu,” lanjutnya langsung memeluk erat neneknya.


“Nenek juga menyayangimu! Mulai sekarang kamu sudah bisa membuat keputusan sendiri. Namun tetap harus ingat, pikirkan dengan matang sebelum membuat keputusan. Setiap keputusan yang kamu buat akan menentukan sebuah akhir. Jadi kamu perlu berhati-hati untuk itu. Mengerti!?” nyonya Jia Lee membalas pelukan Zishu.


Tangannya yang sudah mengeriput, mengusap pelan punggung cucu perempuannya itu. Rasa sayangnya pada Zishu, sama seperti sayangnya pada ke empat cucunya yang lain.


“Mengerti, nek!” sahut Zishu cepat di sela berpelukan.


“Ehemmm! Apa aku ketinggalan sesuatu?” tiba-tiba Chen datang menghampiri kedua perempuan yang tengah berpelukan itu.


Chen sudah memakai kaos merah dengan celana hitam selutut. Sepatu berwarna hitam-merah juga sudah terpasang sempurna di kakinya. Di punggungnya juga terdapat tas berukuran kecil. Di dalamnya terdapat handuk kecil dan air minum.


“Tidak ada apa-apa! Benarkan, nek?” Zishu segera melepaskan pelukannya dengan nyonya Jia Lee.

__ADS_1


“Iya benar! Kamu sudah selesai bersiap, Chen? Dari tadi Zi`er sudah menunggumu,” nyonya Jia Lee beralih menatap Chen yang sudah berdiri di dekatnya.


“Kirain ada sesuatu. Iya aku sudah siap, nek!” sahut Chen


“Mau berangkat sekarang, Zi`er?” lanjutnya bertanya pada Zishu.


“Iya deh. Kami pergi dulu, nek!” pamit Zishu pada nyonya Jia Lee.


“Hati-hati di jalan!” seru nyonya Jia Lee.


“Beres, nek!” sahut Chen tersenyum.


Zishu mencium pipi kanan Jia Lee sebelum pergi, sedangkan Chen sudah berjalan menuju ke arah luar kediaman. Zishu segera menyusul kakaknya itu.


“Kamu atau kakak lagi yang mengemudi?” tanya Chen ketika sudah berada tepat di samping mobil.


Mereka berdua masih menggunakan mobil kesayangan Zishu untuk pergi ke tempat Chen bermain basket biasanya.


“Biar aku saja, kak!” jawab Zishu segera mengambil kunci mobil yang di pegang Chen, sebelum di suruh.


“Oke deh,” singkat Chen


Zishu segera menekan tombol pembuka pintu mobil otomatis. Setelah pintu mobil terbuka, ia dan Chen langsung masuk ke dalam. Mobil baru melaju saat sabuk pengaman sudah terpasang. Zishu melajukan mobil dengan kecepatan sedang, keluar dari kawasan kediaman keluarga Yan Utama. Namun kali ini tidak ada bawahan Chen yang mengikuti mereka, sesuai perintah Zishu sebelumnya.


Jujur saja, Zishu sangat senang karena akhirnya bisa mengemudikan mobil kesayangannya lagi. Ia ingat benar waktu terakhir kali mengemudikan mobilnya itu. Itu pun ia mengemudi hanya untuk sekedar belajar. Sekarang soal mengemudi mobil, sudah di kuasainya. Semua itu berkat pelatihan mengemudinya di inggris. pada saat ada waktu senggang kuliah.


Mobil yang di kemudikan Zishu terus melaju menuju ke pusat kota, sebab di sanalah terdapat tempat Chen biasanya bermain basket. Melaju menembus jalanan kota yang padat akan pengendara motor atau pun mobil. Di sepanjang jalan pun banyak orang-orang yang sedang beraktivitas. Seperti itulah gambaran jalanan menuju pusat kota yang tidak pernah sepi akan pengendara. Selalu ramai setiap harinya tanpa mengingat waktu.


... _____...


... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...

__ADS_1


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...


...[Like👍+Comment💬+Vote💌Favorit❤]...


__ADS_2