
... ||•🥀Happy Reading🥀•||...
... _____...
“Bagaimana dengan tebusannya? Kamu minta berapa?” Chen memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
“2 Miliar!” sahut Zishu begitu entengnya.
“Hah? 2 Miliar!?”sentak Chen seperti tidak percaya.
“Apa ada yang salah dengan itu kak?”tanya Zishu mengernyitkan dahinya.
“Ya salah. Seharusnya kamu minta tebusan lebih dari 2 Miliar. Misalkan 10 Miliar. Walau tidak sebanding dengan perbuatannya. Setidaknya bisa membuat beberapa orang merasa terbebani,” jawab Chen memberi usulan gilanya.
Sontak Zishu di buat melongo mendengarnya. Ia tidak berpikir bahwa Chen bisa memberikan usulan bagus seperti itu.
“Usulan yang bagus, Kak!” puji Zishu menyetujui usulan Chen. Sudut bibirnya terangkat. Memperlihatkan senyuman penuh arti.
***
Kamar Zishu
Setelah selesai berbicara dengan Chen di ruang kerja, Zishu pergi ke kamarnya. Chen pun juga pergi ke kamarnya sendiri.
“Aku ganti baju dulu deh,” gumam Zishu, sesampainya di dalam kamarnya.
Zishu segera berjalan menuju lemari pakaiannya. Mengambil piyama tidurnya dan langsung berganti pakaian. Usai berganti pakaian, Zishu pergi ke kamar mandi untuk melakukan rutinitasnya sebelum tidur. Make Up di wajahnya pun, di bersihkan. Hingga wajah Zishu bersih tanpa Make Up.
“Hmmm masih lama,” Zishu sudah duduk di tepi ranjangnya. Matanya menatap ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul 1 malam.
“Sebenarnya apa yang ingin di lakukannya? Benar-benar membuatku penasaran,”
Tentu Zishu merasa penasaran. Pasalnya Lui tidak memberitahu apa yang akan di lakukannya. Sampai menyuruh ia untuk datang menemuinya ke taman belakang, jam 2 malam pula.
“Sudahlah, tidak perlu ku pikirkan lagi. Sebentar lagi juga akan ku ketahui,” Zishu meletakkan ponsel miliknya ke atas nakas di samping ranjang dan membaringkan tubuhnya setelahnya
Matanya memang menatap ke arah langit-langit kamarnya tapi tidak dengan pikirannya. Apa yang sedang di pikirkannya, hanya mengingat semua kejadian di beberapa hari belakangan. Dari perselingkuhan Chunying, pertemuan dengan Lui hingga akhirnya menikah. Semua itu begitu singkat dan dirinya sendiri tidak bisa menduganya. Namun ia yakin, di balik semua kejadian itu pasti sudah di atur oleh takdir.
Saking memikirkan semua kejadian itu, tanpa sadar Zishu memejamkan matanya. Perlahan ia berlarut dalam alam bawah sadar. Hingga benar-benar terlelap dengan nyenyak.
Jam 2 malam
Dreet... Dreet.. Dreet..
__ADS_1
[Suara getar ponsel]
Ponsel Zishu yang di letakkannya di atas nakas, bergetar. Di serta nada dering yang menandakan telepon masuk. Beberapa kali terdengar, sampai berhasil membuat Zishu merasa terganggu.
Perlahan Zishu membuka matanya dan langsung mengambil ponsel miliknya. Meski kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya. Ia mengangkat panggilan itu.
“Halo!” sapa Zishu, bersuara khas orang baru bangun tidur. Matanya sesekali terpejam sebab berat menahan akan kantuk.
“Maaf sepertinya aku mengganggu tidurmu, Sayang!” sahut orang yang meneleponnya.
Zishu membuka sempurna matanya, ketika mendengar suara orang itu. Suara yang sangat familiar di telinganya.
“Gak ganggu!” balas Zishu cepat. Bahkan ia bangun dari baringnya. “Kamu sudah ada di taman belakang?”
“Iya aku sudah di sini,”
“Tunggu 5 menit, aku akan sampai di sana!” seru Zishu bergegas turun dari ranjangnya. Ponselnya juga di bawa dan masih di dekatkan ke telinganya.
“Tidak perlu buru-buru. Santai saja, Sayang!”
Namun seruan dari Lui sama sekali tidak di dengar Zishu.
Zishu berlari kecil, keluar dari kamarnya. Di lanjutkan menuju taman belakang kediamannya. Beruntungnya keadaan kediaman sudah sepi. Semua orang sudah tidur. Makanya Zishu bisa leluasa pergi tanpa harus menjelaskan kepada siapa pun, ia akan ke mana.
Zishu terus berlari kecil di lantai 2 kediamannya. Kemudian menuruni satu-persatu anak tangga. Hingga ia sampai di lantai bawah. Kakinya terus berlari kecil menuju ke arah taman belakang kediamannya. Tanpa sadar, ia seperti tidak sabar untuk bertemu Lui.
“Hosh—Hosh, kamu di mana?” tanya Zishu di telepon, nafasnya terengah-rengah usai berlari.
Sekarang Zishu sudah tiba di taman belakang kediamannya tapi tidak menemukan keberadaan Lui di sana.
“Taman rahasiamu,”
Mendengar itu, Zishu terkejut. Bagaimana bisa Lui tahu taman rahasianya. Akan tetapi ia menepis rasa keterkejutan itu dan segera menghampiri Lui.
Taman rahasia itu memang benar adanya. Taman itu di buat untuk Zishu. Hanya orang-orang keluarga Yan Utama yang tahu taman itu. Selain mereka tidak ada yang tahu. Tanpa terkecuali anggota keluarga Yan bagian. Taman rahasia itu tertutup oleh tanaman merambat. Tidak akan ada yang menyangka, bahwa di balik tanaman rambat ada sebuah pintu. Di mana pintu itu penghubung taman rahasia milik Zishu.
Pintunya hanya bisa di buka oleh Zishu, Chen, nyonya Jia Lee dan beberapa pelayan kediaman saja. Tidak ada yang bisa masuk ke sana, jika kunci pintunya tidak bisa di buka. Oleh karena itu, tidak heran kalau Zishu terkejut saat tahu Lui berada di taman rahasia miliknya.
“Apa kakak atau nenek yang memberitahunya? Bahkan sampai bisa masuk seperti ini,” kira-kira seperti itulah pertanyaan yang ada di benak Zishu saat ini.
Kakinya melangkah masuk ke dalam taman yang pintunya sudah terbuka. Saat memasuki pintu itu, Zishu melihat keadaan jalan tamannya masih sama. Jalan yang terbentuk seperti sebuah terowongan. Dengan berbagai macam tanaman rambat cantik dan bunga nan indah. Ada lampu-lampu menerangi sepanjang jalan itu.
“Sama seperti dulu,” gumam Zishu tersenyum manis. Kedua tangannya menyentuh setiap hal yang ada di sana. Matanya pun tidak henti menatap setiap sudut jalan itu. Di sela kakinya terus berjalan menuju area utama taman rahasia.
__ADS_1
Tidak berapa lama, kaki Zishu berhenti berjalan. Tatapannya terhenti pada seseorang yang berdiri di area utama taman rahasia. Orang itu berdiri membelakanginya.
“Bagaimana bisa kamu tahu taman rahasiaku?” tanya Zishu langsung.
Seketika orang itu berbalik badan. Senyuman mengembang di bibirnya dan itu menambah ketampanannya. Apalagi tampilannya selalu Cool dalam pakaian apa pun, termasuk kasual seperti sekarang. Hodie biru melekat di tubuh kekarnya dan bawahannya celana hitam.
“Di beritahu Chen. Aku bisa masuk ke sini pun juga karenanya,” jawab Lui sejujurnya. Bersamaan dengan mematikan telepon yang tadi masih terhubung.
“Sudah ku duga,” sungut Zishu.
“Kamu tidak marah kan?” Lui menatap intens Zishu yang berdiri di hadapannya.
“Tidak. Buat apa juga aku marah,” balas Zishu. Ia memang tidak marah karena mempermasalahkan hal itu.
“Syukurlah,” ungkap Lui tersenyum lega. “Ini untukmu, Sayang!”
Lui menyerahkan sebuah buket bunga mawar merah dan putih yang sedari tadi pegangnya, kepada Zishu.
“Untukku?” beo Zishu mengarahkan jari telunjuknya, ke dirinya sendiri.
“Hmmm memangnya untuk siapa lagi?” deham Lui menaik-turunkan alisnya.
“Em kirain untuk orang lain,” ucap Zishu sedikit kikuk. Tangannya mengambil buket bunga itu dari tangan Lui. “Terima kasih,”
“Sebenarnya saat acara tadi aku sudah bawa bunga untukmu tapi ku berikan pada nenek. Jadi ini sebagai gantinya,”Lui memberitahukan hal yang sebenarnya.
“Tidak masalah,” sahut Zishu mengerti. Ia memang melihat Lui tadi memberikan bunga pada neneknya—Nyonya Jia Lee.
“Selain bunga, aku membawakan hadiah untuk istriku. Ku harap kamu menyukainya,”
Lui mengambil sebuah paperbag yang tadinya terletak di bangku taman. Kemudian mengulurkannya ke arah Zishu.
“Apa ini?” tanya Zishu penasaran seraya menerima paperbag itu.
“Kalau di beritahu bukan hadiah namanya, Sayang!” celetuk Lui tersenyum lebar. “Kamu akan tahu kalau membukanya!”
... _____...
... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...
... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...
... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]...
__ADS_1