Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 75. Terlalu Berlebihan


__ADS_3

...||•Happy Reading•||...


..._____...


[Tuan Houcun—Ya dialah orangnya]


[Saya tidak berbohong. Nona bisa tanyakan pada tuan Bowen]


Jawaban itu terus terngiang di pikiran Zishu. Bahkan sampai malam hari tiba. Rasa amarah tidak bisa di tutupi. Pamannya itu terus saja berulah.


“Apa yang harus aku lakukan pada mereka, pah? Mereka tidak mau berhenti akan keserakahan,” gumamnya datar. Berharap sang papa mendengar dan memberikan jawaban atas masalahnya. Tetapi, itu sangat mustahil.


Saat ini, Zishu telah berada di dalam Villa. Tepatnya berdiri di dekat salah satu jendela. Ia tengah menatap perubahan langit, dari terang menjadi gelap. Dalam kesendiriannya ini, ia tengah berusaha mengendalikan amarahnya.


“Pah, tidak tahu sampai kapan aku bisa berdiam diri melihat ulah mereka. Semakin hari, mereka semakin menjadi. Keserakahan sudah benar-benar membutakan mereka,” sambungnya.


Ucapannya benar. Keluarga Yan bagian semakin menjadi. Mereka semakin gencar untuk merebut kekayaan yang menjadi milik Zishu. Andai saja mereka bukan keluarganya, sudah lama Zishu membalas semuanya. Sayangnya, ikatan keluarga itu membuatnya terbelenggu. Dengan membiarkan keluarga Yan bagian melakukan segala cara agar mendapatkan kekayaannya.


Ting... Tong...


Suara bel membuyarkan tatapan Zishu. Ia segera menuju pintu Villa. Mungkin saja Mian telah kembali.


“Maaf saya lama kembalinya, nona. Tadi mama saya tiba-tiba masuk ke rumah sakit. Saya tidak sempat menghubungi nona,” jelas Mian cepat, ketika pintu sudah terbuka. Raut wajahnya tampak merasa bersalah.


“Apa!? Sakit apa?” sentak Zishu terkejut.


“Sakit biasa, nona. Mama saya sudah tua,”


“Lalu kenapa kamu ke sini? Seharusnya kamu temani mamamu di rumah sakit,” tanya Zishu.


“Saya mau memberikan bukti yang tadi nona minta. Ini nona,” jawab Mian seraya memberikan sejumlah bukti yang di dapatkannya dari pemilik tempat pembelian bahan bangunan tadi.


“Astaga—Kamu kan bisa memberikannya pada sopir. Mamamu sedang sakit dan lebih penting untukmu menemaninya,” ucap Zishu tidak menyangka. Ternyata Mian kembali hanya untuk memberikan sejumlah bukti itu.


“Mama saya sudah tidak apa-apa, nona. Lagian saya bertanggung jawab untuk memberikannya langsung pada nona,” sudut bibir Mian sedikit terangkat.


“Tetap saja kamu harus menemaninya. Orang tua di atas segalanya, Mian! Jangan di nomor duakan atau kamu akan menyesal nantinya,” Zishu menggeleng-gelengkan kepalanya. Sejumlah bukti itu langsung di terimanya. “Sekarang kamu pergilah ke rumah sakit. Temani mamamu. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saja aku!”


“Apa nona tidak apa-apa sendirian di sini? Saya bisa temani nona,” Mian bertanya untuk memastikan. Tidak enak hati meninggalkan Zishu sendirian di Villa.


“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku seperti itu. Mamamu lebih membutuhkanmu. Jadi pergilah!” celetuk Zishu bernada memerintah.

__ADS_1


“Em—Baiklah, nona. saya pergi! Nanti besok pagi saya akan ke sini lagi,” akhirnya Mian mengalah. Mana mungkin ia bisa membantah lagi perintah Zishu itu.


“Hati-hati di jalan! Sampaikan salamku pada mamamu. Semoga cepat sembuh,” balas Zishu yang langsung di angguki Mian.


“Pasti saya sampaikan. Saya pergi dulu, nona!”


Mian berpamitan dan kemudian baru beranjak pergi dari Villa keluarga Yan. Ia kembali di antar sopir, atas perintah Zishu.


Seperginya Mian, Zishu menutup dan mengunci pintu. Kakinya berjalan menuju dapur. Haus—Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia memutuskan untuk minum dulu. Usai minum, Zishu berniat pergi ke kamarnya tapi suara bel menghentikan niatnya.


Ting... Tong...


Dahi Zishu mengernyit seketika. Siapa yang datang ke Villanya. Jelasnya pasti bukan Mian. Daripada penasaran, ia bergegas menuju ke arah pintu. Di intipnya terlebih dahulu lewat jendela, siapa orang yang datang ke Villanya. Sontak matanya terbelalak sempurna. Alangkah terkejutnya ia mengetahui siapa yang datang.


“Dia di sini!?” sentaknya.


Masih dalam perasaan terkejut, Zishu membuka pintu. Senyuman manis menyambutnya.


“Hai, sayang!” sapa si pemilik senyuman manis.


Lui—Si pemilik senyuman manis itu. Penampilannya masih rapi dengan balutan setelan jas. Ia berdiri tegak di hadapan Zishu—Sang istri yang tampak terkejut melihat kedatangannya.


“Kamu di sini? Bagaimana bisa? Dari mana kamu tahu Villa keluargaku? Eh tunggu dulu—Jangan bilang kamu datang ke sini dari perusahaan. Pakaianmu masih sama seperti tadi pagi,” Zishu berucap spontan dalam sekali hembuskan nafas.


Benar—Lui bisa melakukan semuanya dan Zishu melupakan itu. Ia mencebik pelan.


“Aku lupa soal itu,”


Meski pelan, Lui masih bisa mendengarnya. Ia menahan tawanya. Sungguh Zishu sangat menggemaskan di matanya.


“Kamu tidak mau mengajakku masuk, sayang?” tanyanya menyadarkan Zishu.


“Eh iya—Ayo masuk!” Zishu tersentak. Beruntung Lui bertanya seperti itu atau ia akan lupa untuk mengajaknya masuk.


“Terima kasih,”


Zishu berjalan masuk, di ikuti Lui. Sebelum pintu di tutup kembali, seorang laki-laki berpakaian hitam formal datang. Laki-laki itu—Sopir Lui, meletakkan sebuah koper berukuran kecil di ruang keluarga.


“Ada kamar sopir di bagian kanan Villa ini. Kamu bisa tidur di sana malam ini,” ucap Zishu pada sopir dari suaminya itu.


“Baik, nona! Terima kasih,” sahut sang sopir menunduk hormat dan segera pergi menuju kamar yang di maksudkan.

__ADS_1


Kemudian Zishu menutup pintu Villa. Ia berjalan menghampiri suaminya di ruang keluarga. “Kamu sengaja datang ke sini?”


“Apa tidak boleh?” tanya balik Lui menatap polos Zishu di hadapannya.


“Bukan tidak boleh tapi aku terkejut. Kamu datang tiba-tiba seperti ini,” dalih Zishu bersedekap dada. “Dan kenapa kamu datang?”


“Aku datang tentu untuk menemani istriku,” sahut Lui santai, seraya melepaskan jas yang di pakainya.


“Kan aku sudah bilang, kamu tidak perlu menemaniku. Aku di sini cuma satu hari,” celetuk Zishu.


“Tapi aku memaksa menemanimu. Nenek juga memintaku untuk menemanimu. Mana mungkin aku menolaknya sayang. Itu akan terdengar tidak bagus,” ucap Lui tidak mau kalah. Apa yang di katakannya sangat benar. Selain karena kemauannya sendiri, nyonya Jia Lee juga memintanya untuk menemani Zishu.


“Nenek ini terlalu berlebihan,” umpat Zishu pelan. Ia tahu neneknya itu mengkhawatirkannya, cuma tidak begini juga caranya.


Lui mendengarnya dan mengulum senyum. “Bukan berlebihan, sayang. Tetapi ini bentuk kekhawatiran nenek padamu,”


“Hmmm—Ya aku tahu itu,” Zishu berdehem ringan.


“Lalu kenapa raut wajahmu seperti itu? Apa mungkin kedatanganku tidak di inginkan?” tuding Lui penuh selidik. Nada bicaranya terdengar serius, nyatanya ia sedang bercanda.


“Bu—bukan begitu! Jangan salah paham,” kilah Zishu cepat.


“Kalau begitu baguslah,” balas Lui mengulum senyumnya.


‘Padahal tadi aku hanya bercanda. Hahaha raut wajahnya itu—Menggemaskan sekali!’ batin Lui


“Mau minum apa? Biar aku buatkan,” tawar Zishu mengganti topik pembahasan.


Lui tidak berhenti menatap Zishu. Sungguh istrinya itu sangat menggemaskan di setiap tingkahnya. “Terserah saja. Asalkan kamu yang membuatnya, aku pasti meminumnya,”


“Oke, tunggu sebentar!” seru Zishu bergegas berjalan menuju dapur.


Di Villa sudah mulai terasa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Mungkin dinginnya karena pengaruh dari alam sekitarnya yang berada di dekat pepohonan. Sehingga minuman hangat cocok untuk di santap, di temani beberapa camilan pelengkap. Beruntungnya di dapur sudah tersedia semua hal yang di butuhkan Zishu.


...


_____...


...Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


...Jangan lupa tinggalkan jejak👣...

__ADS_1


...[Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤️]...


__ADS_2