Turns Out My Mate

Turns Out My Mate
Eps 21. Gadis Ceroboh


__ADS_3

... ||•🥀Happy Ready🥀•||...


... _____...


Pembicaraan antara Zishu, Chen dan nyonya Jia Lee terus berlanjut. Berbagai hal mereka bicarakan, sampai akhirnya jam makan malam tiba. Zishu, Chen dan nyonya Jia segera pergi ke ruang makan dan memulai makan malam. Seperti biasanya, tidak ada pembicaraan selama makan malam hingga selesai.


“Aku duluan ke kamar ya kak! Mau tidur. Hari ini sangat menyenangkan dan melelahkan,” Zishu beranjak dari duduknya.


Di ruang makan sekarang hanya terdapat Zishu, Chen dan dua orang pelayan. Nyonya Lee sudah lebih dulu pergi untuk beristirahat usai makan malam. Demi menjaga kesehatannya, nyonya Jia Lee memang harus banyak istirahat. Terlepas dari itu, obat-obatan yang di berikan Dokter pun juga di minum dengan teratur.


“Pergilah. Kakak mau bersantai dulu di ruang keluarga,” Chen juga ikut beranjak.


“Oke. Selamat malam, kak!” Zishu langsung berjalan pergi setelah mengucapkan itu. Ia tidak menunggu balasan dari Chen.


“Selamat malam untukmu juga,” balas Chen menatap sekilas Zishu yang tengah berjalan membelakanginya.


Chen baru pergi ke ruang keluarga, ketika Zishu sudah berjalan menaiki satu-persatu anak tangga. Biasanya Chen bersantai di ruang tamu, menonton berita di televisi atau acara kesukaannya. Di temani cemilan dan secangkir teh hangat. Ia hanya sekedar bersantai, sebelum berperang lagi dengan banyaknya pekerjaan di perusahaan.


***


“Sebaiknya sebelum tidur, aku menyalin semua foto di kamera tadi.” Zishu berjalan menuju ke meja belajarnya. Mengambil laptop miliknya dan membawanya ke sofa yang ada di kamarnya. Di depan sofa itu juga terdapat meja mini malis. Dimana di atasnya sudah terdapat kamera yang tadi di bawanya selama jalan-jalan.


“Aku posting deh foto yang paling bagus,” ia mulai menyalakan laptopnya.


Tidak berselang lama, laptopnya sudah menyala. Zishu langsung saja memulai menyalin foto yang ada di kameranya. Menyalin foto tidaklah sulit dan hanya memakan waktu beberapa saat.


“Selesai. Aku coba lihat-lihat fotonya dulu,” tangan Zishu menggerakkan Mouse yang terhubung dengan laptop. Ia mencari-cari dokumen foto yang baru saja di salinnya. Sampai akhirnya dokumen foto itu di temukannya.


Mouse yang di gunakannya mulai bergerak menggeser satu-persatu foto di laptopnya. Tidak ada yang mengecewakan dari hasil fotonya. Semuanya bagus dan ada beberapa foto yang sangat di sukainya. Ia terus menggeser foto di laptop, sampai berhenti di foto Lui yang diam-diam di ambilnya.


“Tampan, Cool dan sempurna. Sangat sesuai dengannya,” senyum Zishu mengembang di bibirnya peachnya.


Matanya menatap fokus pada layar laptopnya yang memperlihatkan foto Lui. Salah satu tangannya menahan dagunya. Siku tangannya tertumpu pada bantal yang ada di pahanya, agar bisa menahan dagunya.

__ADS_1


“Ish kenapa tuan Lui ini tidak jadi model saja? Padahal wajah dan perawakannya sangat cocok jadi model. Eh—tapi jadi pengusaha sukses di usia yang masih muda, sangatlah bagus. Tidak—bukan cuma sangat bagus, melainkan hebat!” tidak henti-hentinya Zishu menatap foto Lui. “Heem bagaimana kalau aku cari tahu tentangnya. Tidak ada yang salah dengan itu bukan?”


Ia kagum terhadap Lui. Ya kagum akan prestasinya dalam dunia bisnis. Tetapi tidak mencari tahu terlalu dalam, baik itu bagaimana rupanya atau segala tentangnya. Ia hanya mengetahui prestasi Lui sebagai pengusaha terbaik di Beijing, selama beberapa tahun belakangan ini.


Sekarang lihatlah, ia ingin mencari tahu tentang Lui. Laki-laki berparas tampan dengan gelar pengusaha terbaik di Beijing itu, telah membuatnya tertarik. Selama ini sangat jarang ada orang yang berhasil membuatnya tertarik. Walau pun ada, paling hanya ada beberapa orang saja.


“Bukan anak orang kaya. Hanya anak yatim piatu dan mendapat beasiswa dari orang kaya karena melihat dari prestasinya?” ia membaca biodata lengkap tentang Lui yang baru saja di dapatkannya dari internet. Di bacanya semua biodata tentang Lui. Ia tidak melewat apa pun.


“Laki-laki hebat dan luar biasa. Aku sangat mengagumimu, tuan Lui. Kamu itu laki-laki hebat. Laki-laki yang tidak mudah menyerah akan keadaan. Laki-laki yang mau bekerja keras sampai sukses seperti sekarang. Hmmm mengapa aku tidak mencari tahu tentangmu dari dulu? Pasti aku sudah menjadikanmu sebagai idolaku. Tidak—Aku pasti akan menjadikanmu suamiku,” Zishu mengulum senyum menatap layar laptopnya yang masih menunjukkan biodata Lui.


“Eh—” seketika ia tersadar dengan apa yang baru saja di ucapkannya. “—Apa yang aku katakan barusan? Tidak, bagaimana bisa aku mengatakan itu? Sadarlah Zishu. Kamu tidak bisa bermimpi seperti itu. Mana mungkin tuan Lui yang sempurna itu mau denganmu. Kamu ini masih kecil dan tidak memenuhi standar pasangannya. Kamu harus sadar diri dan posisi,” rutuknya.


“Sudahlah. Daripada aku bermimpi seperti itu. Sebaiknya aku hanya mengaguminya. Tidak ada salahnya dengan itu. Tidak bisa memiliki, mengagumi pun sudah lebih dari cukup. Tuan Lui, biarkan fotomu ini jadi walpaper ku. Bukan ada maksud lain kok. Cuma mau pajang aja, oke!” ia menyalin semua foto Lui yang sudah ada di laptopnya ke ponsel miliknya. Kemudian menjadikan salah satu foto Lui menjadi walpaper nya.


“Kamu tampan, tuan Lui. Jadilah walpaper ponselku sampai ada laki-laki lain yang menggantikanmu.” senyum manis tidak pudar dari bibir Zishu.


Di tatapnya layar ponselnya yang telah berganti walpaper. Di sana sudah terpajang foto Lui memakai kaos putih dan celana selutut dengan warna senada. Terlihat senyuman manisnya, persis seperti saat tadi bertemu.


“Baiklah sudah sekarang saatnya aku tidur,” ia menutup ponselnya.


***


Sementara itu, di tempat lain.


Lui, laki-laki berparas tampan itu tengah sibuk bergelut dengan pekerjaannya. Besok sudah kembali ke hari sibuk bekerja. Jadi berkas-berkas yang akan di gunakan besok, di kerjakan malam ini juga


“Kenapa bisa salah begini—” Lui memijat pangkal hidungnya. Berkas yang sedang di kerjakannya mengalami kesalahan.


Lui sedang tidak fokus. Memang sekarang sedang bekerja tapi pikirannya memikirkan hal lain. Tidak heran kalau berkas yang di kerjakannya mengalami kesalahan.


“Hmmm gadis itu benar-benar mengganggu pikiranku,” Zishu—gadis itulah yang mengganggu pikiran Lui sekarang. Wajahnya, senyumnya dan sikapnya itulah yang membuat Lui memikirkannya.


“Aku sedikit tidak menyangka gadis itu anak dari tuan Jiang. Hm ku rasa sebelumnya—” ia berusaha mengingat sesuatu. “Ya sebelumnya aku pernah bertemu dengannya tapi dimana?”

__ADS_1


Itulah sebabnya mengapa Lui menatap intens ke arah Zishu. Ia berusaha mengingat wajah Zishu yang tidak asing untuknya.


“Sebaiknya aku mencari informasi tentangnya saja dulu. Siapa tahu setelahnya ingat,” gumam Lui segera meraih ponselnya yang berada di atas meja kerja, tepat di hadapannya. Di carinya salah satu kontak sampai ketemu dan meneleponnya.


“Saya butuh informasi lengkap Yan Zishu, putri dari tuan Jiang pemilik Yan Group. Secepatnya,” ia langsung memberi perintah ketika teleponnya sudah di angkat oleh pemilik kontak tadi.


[.................]


Lui mematikan telepon secara sepihak tanpa membalas lagi. Sambil menunggu informasi yang di inginkannya, ia bersandar di kursinya. Jari telunjuk tangan kirinya mengetuk-ngetuk meja kerja. Memperlihatkan kalau ia tidak sabar menunggu. Berselang beberapa menit, ponselnya berdering menandakan ada telepon masuk dan ia langsung mengangkatnya.


[.................]


“Tidak perlu. Saya akan membacanya sendiri. Terima kasih,” ucap Lui pada si penelepon.


[.................]


Telepon kembali di matikannya secara sepihak, tanpa balasan sepatah kata pun darinya. Ia meletakkan kembali ponselnya ke atas meja dan segera memeriksa email di laptopnya. Di sana sudah terdapat email masuk, berisikan informasi yang di inginnya. Email itu langsung di bukanya. Di bacanya dari awal hingga akhir. Sampai sudut bibirnya terangkat.


“Sekarang aku ingat. Aku pernah bertemu dengannya di London 6 bulan lalu. Gadis ini tidak berubah. Ia sangat suka berjalan tanpa melihat ke arah depan. Ujung-ujungnya tersandung sesuatu dan hampir terjatuh. Gadis ceroboh,” Lui terkekeh.


Hari ini bukan pertama kalinya ia menyelamatkan Zishu agar tidak terjatuh. Dulu saat di London, juga terjadi kejadian persis seperti tadi. Namun sepertinya Zishu sudah melupakannya.


“Sangat di sayangkan ia memiliki tunangan seperti Chunying—si penghianat itu. Tidak memiliki perempuan lain, sampai berselingkuh dengan kakak sepupu dari tunangannya. Bagaimana reaksinya nantinya saat mengetahuinya ya? Kalau menangis itu tidak mungkin. Di lihat dari sifatnya—ia bukan gadis budak cinta. Hmmm—saja nanti bagaimana. Aku tahu gadis itu tidak mudah di duga,” ia tidak berhenti menatap layar laptopnya. Di sana masih terpampang jelas informasi lengkapi tentang Zishu. Termasuk hubungannya dengan Chunying.


Hubungan Chunying dengan Feiyu memang sudah di ketahui beberapa orang, salah satunya Lui. Satu hal yang tidak di sangkanya. Bagaimana bisa Chunying berselingkuh dengan kakak sepupu tunangannya sendiri? Mungkin tidak memiliki perempuan lain yang mau menjadi selingkuhannya. Terlebih lagi di lihat dari mana pun, Zishu sudah sempurna. Sangat mengherankan ada laki-laki bodoh seperti Chunying.


“Sudahlah—lebih baik aku bekerja sekarang dan berhenti memikirkannya” tidak mau memikirkan Zishu terlalu lama. Lui kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.


... _____...


... Terima kasih sudah mampir ke cerita ini🌹...


... Jangan lupa tinggalkan jejak👣...

__ADS_1


... [Like👍+Comment💬+Vote💌+Favorit❤]


...


__ADS_2